7. Apa Kurang Cantik?

1450 Words
Pertemuan Bian dan Natya yang tak terduga di sebuah acara peresmian Artama Corp membuat Bian sedikit banyak merasa tak nyaman. Sementara Natya yang berusaha dekat membuat Bian semakin risih. Natya yang menerima pesan bahwa papanya sudah pulang terlebih dahulu membuat dia bingung harus mengatakannya bagaimana pada Bian supaya pria itu mengantarkannya. Namun, Bian sudah cukup peka bahwa Natya ingin mengatakan sesuatu melalui gerak-gerik yang ditunjukkan wanita tersebut. "Kenapa? Ada yang ingin kamu katakan?" tanyanya paham seraya menatap Natya datar. "Papa sudah pulang, jadi—" "Mau pulang sekarang?" ucapnya tanpa ingin basa-basi. Mendengar apa yang diucapkan Natya saja dia sudah paham apa yang harus dia lakukan. Bisa jadi, papa Natya juga sengaja melakukan itu supaya mereka dekat. Fine. Bian akan mengikuti semua alur yang sudah dibuat keluarganya dan keluarga Natya mengenai perjodohan keduanya. Tapi, jangan harap ada rasa yang sesungguhnya. "Boleh ke tempat lain dulu?" ucap Natya dengan nada sedikit tak enak. Tak ada respon, Bian malah mengerutkan keningnya seolah menyuruh Natya paham apa yang sedang dia lakukan itu. "Jika keberatan tidak usah. Nanti aku batalkan saja pertemuan dengan—" "Langsung katakan saja." Bukan tak mau, ternyata Bian enggan banyak bicara dan ingin wanita itu tak berbasa-basi terus. "Aku ada janji dengan seseorang. Kalau mau mengantar, bisa menunggu?" Natya mengatakannya penuh kehati-hatian. Bagaimanapun juga mereka masih belum terlalu dekat, jadi perasaan tak enak satu sama lain masih terlihat jelas. "Sekarang aja berangkat?" tanya Bian. Dia masih bisa bersikap seolah sedang baik-baik saja. Padahal jauh dipikirannya masih terbesit nama Reina. "Boleh." Langkah Bian yang berjalan lebih dulu langsung diikuti oleh Natya dibelakangnya. Mereka tak berjalan beriringan apalagi bergandengan. Bahkan Bian tak membukakan pintu untuk Natya. Dia masuk terlebih dahulu dan menyuruh wanita itu supaya masuk ke dalam mobilnya. Suasana hening tercipta untuk beberapa menit karena mereka lebih memilih diam. Bian yang memilih fokus pada jalanan sementara Natya hanya memainkan tangannya tak nyaman. Wanita itu mengedarkan pandangannya pada gantungan seperti frame kecil yang terlihat sebuah foto ada di sana. Dia mengulurkan tangannya untuk menghentikan benda itu berputar dan mengamatinya bahwa yang ada di gambar itu memang benar Bian. Tapi, wanita yang bersamanya itu? "Ini foto kekasihmu?" tanya Natya. Dia melepaskan benda itu dan membiarkan berayun-ayun lagi. Sesekali menatap Bian untuk memastikan pertanyaan yang dia lontarkan baru saja. "Hm." Hanya deheman yang disertai anggukan Bian tunjukkan pada Natya, dia rasa wanita itu sudah paham tanpa harus menjelaskan. "Sudah pasti kita tidak akan menikah, kan?" serah Natya seraya tersenyum dan menundukkan kepalanya. Dia tak kecewa, hanya saja ada sesuatu yang seakan membuatnya tak antusias lagi dengan perjodohan ini. "Maksudnya?" jawab Bian seraya menoleh sekilas kemudian memfokuskan kembali pandangannya pada jalan. "Kamu punya orang lain dihatimu, kan?" "Selamanya." Bian langsung menyambar bahkan sebelum Natya benar-benar menghentikan ucapannya. Seolah dia sedang menunjukkan bahwa tak pernah menyetujui perjodohan ini. Natya tak keberatan jika memang seperti itu. Dia pikir juga masih terlalu muda untuk menikah. Lagipula masih banyak pria lain yang menginginkannya juga. Untuk apa tiba-tiba terpesona dan patah hati para pria yang baru dikenalnya. "Jadi, kurasa kita harus menggagalkan perjodohan ini." Natya mengatakannya dengan tegas. Dia hanya tak ingin terlihat mengharapkan di sini. "Terlambat. Dia sudah pergi," serah Bian seraya tergelak sebentar kemudian langsung lenyap dengan hembusan napas berat. "Why?" tanya Natya mulai penasaran. Dia menoleh, menatap Bian yang memfokuskan pandangannya pada jalan seraya mengerutkan keningnya. "Kurasa ada seseorang yang berusaha mencelakainya supaya bisa menjodohkan aku denganmu," decaknya yakin. Namun, karena Bian tak memiliki bukti dia tak bisa menuduh siapapun yang memenuhi pikirannya saat ini mengenai hilangnya Reina. Natya memaku seraya meluruskan kembali punggungnya setelah menatap Bian dengan posisi memiring tadi. Dia sedang berpikir jika awal dari hubungannya dengan Bian seperti ini, akankah akan berakhir baik nantinya? "Dia wanita paling cantik dan yang paling aku cintai. Jika kita nanti menikah, kamu harus paham, perpisahan seperti apa yang aku rasakan ini. Jadi, kamu bisa memikirkan untuk lanjut atau berhenti." Bukan sengaja menyakiti, mungkin lebih pada supaya Natya memahami. Bian tak menolak kehadirannya yang seolah sengaja membuat Reina menghilang. Tapi, Natya juga harus paham jika suatu saat Reina kembali apa yang akan Bian lakukan. "Bagaimana denganku? Apa aku kurang cantik? Jika dia pergi mungkin aku bisa menggantikannya." Pemahaman yang diberikan Bian rasanya tak sampai untuk dimengerti oleh Natya. Mendengar respon itu sontak langsung membuat Bian menghentikan mobilnya mendadak dan hampir membuat Natya membenturkan kepalanya pada dashboard jika tak memakai seatbelt. Bian menoleh, menatapnya dalam sedikit tajam. Jika membandingkan dengan cantik tentu saja Bian akan tetap memilih Reina yang sudah lama bersamanya. Natya yang kini juga menatapnya tak paham hanya terdiam. Meskipun tatapan mereka bertemu satu sama lain tapi tak ada debaran diantara salah satunya. "Lupakan saja." Bian memilih kalimat itu yang dia lontarkan. Natya benar-benar tak memahaminya jadi dia enggan untuk menjelaskan. Mereka memalingkan pandangannya satu sama lain. Bian yang fokus ke jalan sementara Natya mencoba memalingkan pandangannya ke arah jendela mobil. Tak lama, ponsel milik Natya berdering dan bergetar. Setelah meraihnya yang berada di dalam tas, dia langsung mengangkatnya. "Masih di jalan, Pa. Aku harus menemui Hilda dulu." Bian yang tadinya fokus menyetir tampak menoleh sekilas ketika Natya menyebutkan bahwa yang sedang berada di telepon adalah papanya. "Hm. Aku bersama dia, papa jangan khawatir." Entah apa yang dibicarakan papa Natya diseberang sana. Yang bisa Bian simpulkan papanya sedang memastikan Natya bersama siapa sekarang. Atau, bisa jadi tak yakin bahwa Bian pria yang bertanggung jawab. Tak ada obrolan yang membuat mereka bersuara hingga sampai ke tempat tujuan yang diberitahukan Natya sebelum berangkat. "Kamu menunggu di sini?" tanya Natya. Melihat Bian yang masih berada di mobilnya ketika dia sudah turun tentu saja Natya mempertanyakan itu. "Masuk saja, lagipula untuk apa aku di dalam." "Terserah saja." Natya langsung meninggalkan mobil Bian yang terparkir di depan restoran yang dia masuki sekarang. Enggan berdebat, Natya memilih pergi. Tak peduli jika orang lain menganggapnya dia acuh dan membiarkan Bian menunggu di luar. Ketika sudah berada di dalam restoran, Natya langsung menemukan keberadaan temannya yang sudah membuat janji dengannya. "Heii! Nat, kamu bersama siapa?" tanyanya ketika melihat wanita itu hanya masuk seorang diri. Namun, pandangannya beralih pada sosok pria yang sedang menunjukkan tatapan ke arahnya. Tentu saja teman Natya langsung berasumsi itu seseorang yang mengantarkannya. Bahkan dia menunjuk keberadaan Bian dan menanyakan pada Natya yang kini ada di depannya. Natya menganggukkan kepalanya menyetujui tebakan Hilda bahwa dia memang datang bersama Bian. "Dia Bian, dia pria yang dijodohkan denganku." Setelah mendengar itu, Hilda kembali menerawang Bian yang lumayan agak jauh dari tempatnya. "Dia? Hm, kurasa cukup tampan dan mapan." "Aish! Tanpa dia juga aku bisa menghidupi diri sendiri," sarkas Natya. "Hubungan kalian tak baik?" tebak Hilda sekali lagi ketika melihat emosi yang ditunjukkan Natya. "Berhenti ingin tahu! Mari kembali ke topik penting kita. Kamu serius bakal resign dari agensi?" Natya mulai serius. "Aku akan menikah dan ikut suamiku ke Los Angeles. Jadi, aku tidak mungkin dong bekerja di sini," jelas Hilda bukan tanpa alasan mengenai resign di tempat kerjanya bersama Natya tersebut. "Berapa sesi pemotretan lagi yang kamu tangguhkan, terpaksa diterima waktu itu atau bagaimana?" tanya Natya ingin tahu karena dia yang akan menggantikannya. "Aku tidak tahu akan dipercepat. Hanya dua belas sesi. Kamu menggantikanku, ya? Fee-nya lumayan loh buat tambah modal nikah kamu." Hilda menaikkan alisnya seraya tersenyum yang membuat Natya malas menanggapinya. "Hil, jangan ngomongin soal itu. Ah, kesal." Natya melipat kedua tangannya di depan d**a seraya menyandarkan punggungnya pada kursi. Hilda tertawa terbahak-bahak melihat respon Natya yang selalu membuatnya tak tahan jika harus diam saja. Tapi, karena Natya benar-benar terlihat sedang serius dia menghentikan tawanya perlahan. "Nanti biar asisten aku hubungi asisten kamu, ya? Biar dia serahkan jadwalku ke asisten kamu. Kita akan berpisah." Hilda menunjukkan wajah sedihnya pada akhir kalimat yang dia ucapkan. "Kamu ngga bakal ke sini lagi memangnya?" tanya Natya yang juga ikut sedih mendengar ucapan Hilda. "Kemungkinan kecil, kan? Aku akan menetap di sana. Jika suamiku free, aku akan berlibur ke sini. Dan saat itu mungkin kamu juga sudah menikah dan mempunyai anak," goda Hilda yang lagi-lagi membuat Natya kesal. "Astaga! Kamu bicara apa, sih! Nggak jelas banget. Mungkin menikah iya! Tapi, untuk punya anak kamu tau lah pekerjaan aku kayak apa, belum siap, lah!" sentak Natya. "Natya, lucu kali kalau ada kaki-kaki kecil bikin rumah ramai." "Pikiranmu sudah kesana saja. Jadi nanti asisten kamu bakal hubungi Raya, kan? Biar Raya yang nanti bicara lanjutannya sama aku." Enggan mendengar Hilda yang terus-menerus menggodanya. Natya memilih untuk bangun dan segera pergi. Jujur saja dia merindukan sahabatnya itu yang akan segera pergi. Tapi, dia juga sedang ditunggu seseorang yang hampir membuatnya lupa. "Buru-buru banget, ah. Mentang-mentang lagi jalan," serah Hilda dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat. "Udah, jangan berisik! Nanti telepon aku aja kalau urgent. Byee!" Natya melambaikan tangannya dan langsung pergi meninggalkan Hilda yang masih duduk di tempatnya. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD