8. Merasa Kehilangan

1096 Words
Bian yang tengah menandatangani beberapa dokumen kembali diingatkan oleh ucapan mamanya yang mengatakan bahwa Vano adalah mantan Natya. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi seraya menggoyang-goyangkan pelan ke kanan ke kiri. Bolpoin yang masih singgah di antara jarinya diketuk-ketukkan pada meja. Tiba-tiba ketukan pintu yang dia dengar membuyarkan pikirannya. Leo muncul dibalik pintu itu dan berjalan mendekat ke arahnya. "Direktur Artama Corp sudah menunggu, Tuan." Dengan hormat dia membungkukkan tubuhnya sebelum mengatakan itu. "Elvano, kan?" tanya Bian hanya ingin memastikan. "Benar. Yang beberapa hari lalu kita temui di acara peresmian perusahaannya," jelas Leo. Bian yang tadinya duduk pada kursi kebesarannya kini mulai berdiri pelan seraya memikirkan sesuatu. Dia berjalan ke arah sofa kemudian duduk di sana seraya menatap Leo yang masih berdiri dan menyuruhnya supaya ikut duduk. "Tunggu, perusahaan kita sudah berapa lama bekerjasama dengan Artama Corp?" tanya Bian tiba-tiba merasa penasaran. "Saya bergabung dengan perusahaan Pak Rahendra masih sekitar tujuh bulan yang lalu. Tapi, dari beberapa berkas yang saya ketahui sepertinya sudah cukup lama. Apa perlu pertimbangan lagi?" ucapan Leo "Lanjutkan saja, aku hanya bertanya. Bawa beberapa dokumen yang perlu kita bawa, sudah kamu siapkan?" Bian kembali bangun dari duduknya menuju ke arah meja kerja. Membersihkan beberapa berkas yang masih berserakan di sana. "Sudah." "Baiklah, mari kita menemuinya." Mereka berjalan ke ruang pertemuan. Didahului oleh langkah Bian yang diikuti oleh Leo dibelakangnya. Melewati beberapa ruang kerja umum yang membuat mereka membungkuk dan memberi hormat. Bian membuka pintu ruangan tersebut dan menampilkan seorang yang memakai setelan jas hitam yang dipadu dengan kemeja putih di dalamnya. Dia tersenyum, lalu mempersilahkan Bian untuk duduk. "Selamat pagi. Maaf, membuat Anda menunggu lama." Bian yang kemudian duduk membalas senyuman hangat Elvano sebagai bentuk keramahan. "Baiklah, langsung kita membicarakan pada intinya," ucap Bian. Leo yang ada di sisi kanan Bian sedang berdiri menyerahkan beberapa berkas mengenai obrolan penting yang akan mereka bahas. "Untuk proyek baru yang akan kita tangani ini apa perlu membutuhkan tangan lain. Maksud saya, kita masih sama-sama baru dalam dunia bisnis ini. Tidaklah terlalu dini untuk terjun langsung?" Elvano menatap Bian menunggu respon pria itu. Bian yang sejak tadi sedang mengamati dokumen mengenai kerjasama mereka mulai menutup kembali berkas tersebut kemudian menaruhnya di atas meja. Dia terkekeh namun bukan menertawakan. Kemudian menghembuskan nafasnya pelan dan membalas tatapan Elvano. "Anda meragukan prestasi anda sendiri?" pekik Bian cukup tenang. "Tidak, bukan begitu. Saya hanya belum percaya diri. Tapi, melihat anda bersemangat sepertinya saya yakin dan tak salah pilih untuk proyek pertama saya ini kita jalankan bersama." Ada rasa sedikit gugup dan tak percaya diri memang. Elvano bahkan malu Bian yang juga baru merintis bersama dengannya dan sama menggantikan posisi papanya cukup malu. "Bukankah perusahaan anda mempunyai orang kepercayaan?" sergah Bian. Seperti halnya Leo yang selalu mendampinginya sekarang. Mungkin beberapa hal yang tidak diketahui Bian bisa bertanya padanya, kan. "Benar. Tapi, saya belum mempercayainya." Entah apa yang membuat Elvano begitu mengkhawatirkan sesuatu dan tak mempercayai apapun termasuk dirinya sendiri. Bian hanya tersenyum mendengar itu, malah akan membuat orang-orang disekitarnya mungkin akan melakukan sesuatu. "Apa dia punya riwayat buruk?" tanya Bian hanya memperpanjang obrolan. "Tidak juga. Hanya karena saya baru berdiri di perusahaan, saya tidak yakin semua orang akan memperlakukan saya seperti memperlakukan papa saya sebelumnya." Dengan kata lain, Bian bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya Elvano tak mempercayai dirinya sendiri. Justru seperti itu Bian berpikir akan menghambat kinerjanya juga karena akan selalu dilema dengan keputusan-keputusan yang akan dia ambil. "Jika kamu berpikir seperti itu, mungkin mereka akan benar-benar melakukannya. Percaya saja, bahwa anda atau papa anda itu sama saja di mata mereka. Setidaknya buat mereka segan supaya lebih menghormati. Ah, maaf saya jadi sok tahu." Bian sedikit tertawa pelan. Bukan ingin menggurui, tapi yang dia tahu memang seperti itu. Jadi, dia hanya memberitahu saja. "Tidak apa-apa. Jadi, tujuan saya kesini untuk membicarakan mengenai proyek baru ini." Merasa malu karena Bian cukup lebih dewasa dibandingkan dirinya. Elvano mengembalikan topik pembicaraan awal. Obrolan mereka terus berlanjut hingga membahas tujuan dan akan seperti apa proyek yang mereka jalankan bersama nantinya. *** Sinar flash yang sejak tadi terus menyala seakan menjadi sorotan biasa yang dilakukan oleh Natya setiap hari. Menjadi model yang cukup berkualitas tentu saja membuat dia menghabiskan hampir seharian di tempat tersebut. "Natya!!" panggil seseorang sangat lantang yang baru saja memasuki ruang pemotretan. Tentu saja bukan sembarang orang yang bisa masuk ke tempat tersebut. Hilda, teman baik Natya yang akan segera berangkat ke Los Angeles tersebut tampaknya menyempatkan waktu untuk datang mengunjungi Natya terlebih dahulu. Mereka berpelukan, setelah Natya menyelesaikan pemotretan yang entah sudah yang keberapa. Dia menghampiri Hilda yang berdiri di tepi ruangan tepat di sebelah stylist yang menemani Natya. "Hilda, bukannya kamu akan berangkat?" tanya Natya. Tak lama dia melihat sosok pria yang mengikuti langkah temannya tersebut. Namun, dia terlihat duduk pada kursi yang ada di luar ruangan. "Hm, aku menyempatkan untuk menemuimu terlebih dahulu." Hilda tersenyum hangat kemudian kembali memeluk Natya karena akan berpisah dengan jangka waktu yang bisa dibilang cukup lama. "Ah, aku terharu." Natya hampir menangis. Tapi, sadar pemotretan belum selesai dia mencoba untuk menahannya. Asistennya yang melihat itu langsung menyeka air mata Natya yang hendak mengalir membasahi wajah wanita itu. "Mungkin akan lama aku bisa kembali ke sini. Kamu harus selalu mengabari aku, terutama tentang hubunganmu dengan calon suamimu itu. Aku ingin tahu semuanya, tanpa terlewatkan." Hilda mengatakan penuh penekanan bahwa dia tak mau benar-benar ketinggalan informasi mengenai keadaan dan hubungan Natya kedepannya. "Tidak pasti juga aku akan menikah dengannya. Jangan berlebihan." Tak ingin menaruh banyak harapan, Natya mengatakan itu pada Hilda. "Jaga diri baik-baik ya, sayangku!" Hilda mencubit gemas pipi Natya yang membuat pemiliknya sedikit meringis kesakitan. "Kamu juga, selalu kabari aku tentang keadaan di sana." Natya mulai merasa kehilangan. Karena selain bersama Hilda, dia tak punya teman yang dekat. "Aku punya sesuatu, simpan. Karena aku juga punya benda seperti itu. Jadi kita sahabat couple." Hilda memberikan kotak heels pada Natya. Natya yang menerimanya langsung membuka kotak itu dan benar, isinya heels tiga senti berwarna merah merona yang Hilda rasa akan sangat cocok untuk Natya. Di tengah perpisahan mereka, Natya menangkap pria yang menunggu Hilda tersebut memberinya syarat supaya memberitahu Hilda waktu mereka tak banyak untuk menuju ke bandara. "Suamimu sudah menunggu," ucap Natya sedikit berat hati. Hilda langsung menoleh dan pria itu benar-benar mengisyaratkan untuk lebih cepat. Hilda menganggukkan kepalanya paham kemudian mengecup pipi Natya dan langsung bergegas pergi. "Byee, aku berangkat!" teriaknya yang sudah berjalan menjauh menghampiri suaminya. Natya tersenyum, namun juga merasa kehilangan. Rasanya langsung senyap, mungkin akan seperti ini seterusnya yang dia rasakan. "Nat, ada telepon," ucap Raya, asistennya. Natya mengerutkan keningnya ketika melihat nama Bian yang tertera di layar ponselnya. Untuk apa? *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD