9. Profesional Saja!

1023 Words
Natya terdiam menatap ponselnya yang berada dalam genggaman tampak bergetar dan menunjukkan nama Bian di sana. Bukan enggan untuk menerima panggilan tersebut, namun dia berpikir untuk apa Bian meneleponnya. Karena, Natya tahu pertemuan pertama mereka tak begitu baik. Jadi, dia pikir juga akan perlahan untuk menghindar. Hingga layar ponselnya mati, Natya tak menerimanya. Terlambat, tapi tak lama dia menerima pesan dari nama yang sama tadi, Bian. "Jam berapa pulang dari agensi?" "Nanti aku jemput. Share lokasi tempat kerjamu." Natya kembali mengerutkan keningnya tak paham. Untuk apa? Terlalu mendadak untuk dia memahami perilaku Bian yang tiba-tiba berubah. Natya menghembuskan nafasnya pelan kemudian kembali menaruh ponselnya ke dalam tas. Tapi, sebelum dia melepas benda itu dari genggamannya tampak kembali bergetar dan memperlihatkan nama lain yang harus segera dia terima panggilannya. "Iya, Ma? Ada apa?" ucapnya bersuara lebih dahulu. Sementara Raya tampak sudah menyuruhnya untuk melakukan sesi pemotretan berikutnya. Natya mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan bahwa dia masih menerima telepon dan menyuruh untuk menunggu sebentar. "Nanti Bian akan menjemputmu. Kalau dia belum menghubungi, kamu share lokasi saja. Mungkin dia masih sibuk." Natya menghembuskan nafasnya berat. Dia kira perubahan Bian alami ternyata memang atas suruhan dari keluarganya bahkan mereka sudah membicarakan dengan keluarga Natya. "Oh, jadi begitu? Kukira itu inisiatif dia sendiri." Natya tergelak seraya merespon ucapan mamanya tersebut. "Dia sudah menghubungi kamu, sayang?" "Hm. Tapi belum aku jawab." "Kamu gila? Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mama sudah berjuang jauh, ya. Jadi, kamu juga harus mengimbangi." Natya beralih duduk pada sofa seraya membenarkan heels nya yang bahkan tidak apa-apa. Mengenai berjuang, okay Resi memang sudah berjuang lama. Jadi, mungkin natya harus menurut saja. "Mama atau aku yang terobsesi? Ah, aku hanya bercanda. Tidak buruk juga, tapi dia dingin." Natya masih ingat bagaimana cara berbicara Bian. Bahkan jika tak diajak mengobrol tak akan bersuara. "Hanya butuh waktu saja. Kamu tau mama sangat menyukai dia." "Ya. Lebih dari mama menyukaiku." Natya kembali tertawa kali ini lebih terbahak-bahak dari sebelumnya. Entah apa yang membuat mamanya sangat menyukai Bian. Resi pikir pantas saja untuk anaknya yang cantik itu. "Pokoknya nanti kamu pulang sama dia. Kita ada pertemuan keluarga. Kamu dan Bian langsung menemui kita. See you, Baby!" Natya memanyunkan bibirnya ketika mamanya mematikan sambungan telepon tanpa menunggu responnya lagi. Dia menaruh benda pipih itu kembali ke dalam tas kemudian melanjutkan sesi pemotretan yang sudah menunggunya sejak tadi. *** Spaghetti kesukaan serta steak yang dia pesan menemani makan malam ringannya yang masih berada di tempat kerja. Tiramisu dengan aroma alami yang dia sukai juga menghiasi meja makan miliknya. "Ray, kamu ngga beli makanan juga? Memang sudah makan?" tanya Natya ketika melihat Raya hanya diam di sebelahnya. "Aku sudah makan. Tadi staff memberiku nasi kotak," jawab Raya sopan. Natya memang tak memperbolehkan Raya memanggilnya bos atau semacamnya. Karena dia tak ingin merasa tinggi, cukup dengan nama karena memang mereka seumuran. Hanya saja nasib mereka yang tak sama. Raya wanita yang dia rekrut sendiri menjadi asistennya sudah hampir enam tahun berjalan. Untuk itu Natya sudah sangat nyaman dan dekat dengan wanita tersebut. Natya mengangkat pergelangan kanannya untuk melihat jam tangan yang kini sudah menunjukkan pukul enam menjelang petang. Dia kembali mengambil ponselnya untuk melihat pesan Bian kembali seraya terus menikmati makanannya. Wanita itu membalas pesan Bian bahkan di jam-jam terakhir ketika dia hendak pulang. "Aku pulang sekitar pukul jam tujuh malam." "Share lokasi." Tak ada balasan setelah satu menit Natya memantau room chat mereka. Dia meletakkan ponselnya kembali pada meja dalam keadaan layar yang sudah mati lalu bersantai seraya menikmati steak yang masih banyak di mejanya. Natya tak melihat-lihat lagi ponselnya sampai dia tak sadar sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Mobil hitam yang terparkir di depan kerjanya juga tak mungkin terdengar. Namun, security yang tiba-tiba datang ke ruangan mereka membuat Natya terburu-buru pada akhirnya. "Maaf, Nona Natya. Tuan Bian sudah menunggu di depan." Kalimat yang diucapkan security ketika memasuki ruangan membuat Natya kelabakan langsung mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. "Aku hanya perlu membawa beberapa barang yang penting. Kalau ada yang ketinggalan kamu bawa saja ke apartemen. Nanti kita ketemu di apartemen, ya! Aku pergi duluan!" Dengan langkah tergesa Natya memasuki lift. Di dalam lift itu dia hanya sendirian. Bayangan yang terpantul pada pintu membuat dia sedikit berkaca untuk membenarkan tatanan rambutnya. Namun, ketika pintu lift terbuka dia kembali dikejutkan dengan keberadaan Bian yang menariknya untuk keluar. "Lama! Mana lagi bengong di dalam kayak tadi. Keluarga udah nunggu!" pekik Bian. Ketika Natya sudah berada diluar lift dia langsung bergegas pergi yang diikuti wanita itu di belakangnya. Natya hanya diam mengikuti langkah Bian hingga ke parkiran dan langsung masuk ke mobil pria itu tanpa dipersilahkan. Lagipula, memang seharusnya segera naik, kan? Bukannya apa-apa. Bian malah menatapnya seolah tak suka. Natya yang masih mengatur nafasnya hanya diam seraya membenarkan kembali penampilannya. "Buru-buru, kan?" lirih Natya. Bukannya menjawab, Bian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Natya yang sudah terbiasa dengan laju mobil seperti itu hanya diam menerima ketika Bian tak membuka suara pun dia juga diam. Masih cukup melelahkan untuk mencari topik dan membuka obrolan. Mereka sampai di sebuah restoran yang sudah dijanjikan dengan keluarganya pukul setengah delapan. Padahal kawasan itu cukup jauh, karena Bian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Maka, hanya setengah jam mereka sudah sampai. "Aku tunggu di luar. Benarkan dulu penampilanmu." Bian langsung keluar dan kembali menutup pintu mobilnya sedikit keras. Entah kesal atau kenapa, Natya tak paham. Jika memang kesal, apa yang sudah Natya lakukan memangnya? Dari dalam mobil Natya bisa melihat Bian yang sedang berdiri agak jauh dari tempatnya parkir. Tanpa sengaja Natya tersenyum memperhatikannya. Tak lama dia sadar kembali harus cepat membenarkan penampilannya di depan keluarga nanti. Setelah memastikan dress yang dia pakai sudah bagus dan juga tatanan rambut yang rapi serta rias wajahnya yang juga sudah dibenahi, Natya keluar dari mobil milik Bian dan saat itu juga Bian mengunci mobilnya yang membuat suara kunci terdengar. Meskipun menurut Natya penampilannya sudah sempurna. Tubuh bagus dan seorang model papan atas. Tapi, bagi Bian tak ada yang lebih sempurna dari Reina. Buktinya dia sama sekali tak menunjukkan rasa ketertarikan ketika melihat penampilan Natya yang kini menggandengnya menuju ke dalam restoran untuk mencari keberadaan keluarga mereka. "Profesional saja di depan keluarga," bisik Natya. *** Bersambung….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD