Dekorasi ruangan yang terlihat mewah dan glamor menjadi pilihan kedua keluarga yang tengah bertemu untuk membicarakan hal penting malam ini. Mereka sedang berbincang ringan seraya menunggu Bian dan Natya yang masih dalam perjalanan.
"Bian itu memang pendiam, jadi wajar saja kalau dia jarang bersuara. Jangan diambil hati, nanti kalau sudah menikah mereka juga akan dekat dengan sendirinya." Lina yang memberikan pemahaman pada keluarga Natya mengatakan itu seraya tertawa dengan nada bergurau.
"Ah, kami paham, Lin. Putri kami juga pendiam tapi dia pasti bisa mengimbangi Bian yang akan menjadi suaminya. Tidak mungkin juga setelah menikah mereka hanya diam-diam gitu, kan." Resi yang paham maksud Lina tentu saja paham mengenai itu. Dia juga tak akan menyerah hanya karena Bian tak pernah mengajak Natya berbicara. Pikirnya karena mereka belum terlalu dekat saja.
Mereka semua tertawa seraya membahas anaknya masing-masing untuk membunuh waktu. Padahal yang sedang dibicarakan sama sekali tidak menunjukkan kedekatan. Seperti yang mereka lakukan dan katakan, profesional saja.
"Aku sudah tidak sabar menginginkan cucu, Res. Lagipula anak kita cuma Bian, jadi wajar saja kami desak dia untuk segera menikah." Lina menyenggol tangan Rahendra kemudian tertawa. Apa yang dia katakan memang benar, rumahnya sudah terlalu sepi dan dia menginginkan seorang anak kecil yang berasal dari pernikahan Bian nantinya.
Resi hanya menganggukkan kepalanya paham. Mengenai itu dia tak bisa merespon karena Natya sudah mengatakan bahwa dia tak ingin memiliki anak terlebih dahulu melihat karirnya yang sedang dijalankan sekarang yang harus selalu menjaga penampilan tubuhnya.
"Iya, iya. Kalau adik Natya masih di luar negeri melanjutkan pendidikan. Beda dari Natya, dia sepertinya akan berprofesi sebagai photographer gitu. Aku juga tidak paham, tapi selalu memberikan support untuk anak-anak." Pengalihan yang dilakukan Resi.
"Ya, begitulah orang tua. Karena anak kamu hanya satu, jadi kami seakan selalu mengarahkan dan menekan dia untuk seperti yang kami mau. Tapi, percayalah bukan memaksa hanya ingin yang lebih baik." Lina tau mungkin Bian berpikir dirinya selalu menekan sejak awal. Tapi, asal Bian tau Lina hanya ingin terbaik bukan hal lainnya.
"Kudengar Bian membeli apartemen di Golden Star." Entah mendengar darimana, Resi seolah selalu tahu apa yang Bian lakukan bahkan sedang apa sekarang.
"Benar. Setelah dia memegang alih perusahaan, dia juga harus mulai mengatur hidupnya sendiri dan mandiri. Itu juga akan ditempati bersama Natya kan nantinya. Jadi Bian sudah menyiapkan semuanya." Lina tersenyum bangga. Sementara suaminya hanya menyetujui apa yang dia katakan.
Papa Natya juga terlihat tak banyak bicara dan hanya melontarkan senyuman ramah.
"Benar-benar pria idaman. Tampan, mapan, dan pintar."
Idaman bagi Resi karena sudah lama dia mengincar menantu seperti Bian. Pertemuan pertamanya dan kesan waktu itu membuat dia berpikir harus mendapatkannya dan menjodohkan dengan Natya. Setelah banyaknya hal yang dia lalui ternyata tak ada yang sia-sia. Mereka benar-benar akan segera menikah, bukan?
"Bisa saja kamu, Res."
Bian dan Natya yang mulai terlihat mendekat membuat mereka memberitahu satu sama lain untuk menyambut. Melihat keduanya bergandengan tangan mereka terlihat senang dan langsung menyambutnya hangat.
"Akhirnya kalian datang. Duduk," ucap Rahendra yang mulai bersuara.
Natya langsung mencium pipi kanan dan kiri mamanya yang sudah lebih dulu datang bersama papanya dan keluarga Bian juga.
"Mama sudah lama?" tanyanya.
Tak hanya dengan kedua orangtuanya, Natya terlihat mencium punggung tangan kedua orangtua Bian juga, membuat Lina dan Rahendra semakin menyukai sikapnya yang sopan.
"Karena sudah larut dan mungkin kalian cukup disibukkan dengan pekerjaan. Maka, kita akan langsung membicarakan ke poin pentingnya." Kali ini Rahendra yang memimpin pertemuan antar keluarga tersebut.
"Papa, buru-buru aja. Kita ngobrol santai dulu dengan menantu kita, dong." Pembawaan Lina yang cukup santai tentu saja tak suka dengan hal-hal yang terburu-buru seperti ini.
Bian menghembuskan napasnya seraya memutar matanya lelah. Kemudian dia melipat kedua tangannya di depan d**a seraya membuang wajahnya ke arah lain.
"Mereka berdua juga kelihatan lelah banget. Jadi langsung saja." Papa Natya yang melihat keduanya memang lelah menimpali.
"Kalian setuju kan dengan perjodohan ini? Harus setuju." Rahendra tertawa untuk memecahkan keheningan.
Sementara Bian dan Natya yang sempat melemparkan pandangan satu sama lain langsung membuang muka.
"Satu bulan lagi, kita sudah memutuskan untuk pernikahan kalian. Karena memang cukup mendadak, jadi kalian langsung urus mengenai keperluan pernikahan, ya. Sempatkan waktu setelah bekerja atau di jam kosong. Untuk fitting baju saja, gedung dan katering atau lainnya itu urusan kami." Masih dengan suara Rahendra yang memimpin obrolan seolah dia sedang melamar Natya untuk anaknya, Bian.
"Kalau kalian ingin menyiapkan semuanya sendiri juga boleh. Barangkali kalian menginginkan sesuatu yang berbeda atau dekorasi dan hidangan yang seperti apa." Kali ini Papa Natya mulai bersuara.
"Siapkan saja semuanya. Biar kita urus fitting baju saja," sergah Bian yang enggan ribet jika harus mengurus semuanya bersama.
Natya menatap Bian tak percaya. Dengan kata lain Bian menyetujui perjodohan ini tanpa paksaan? Entah, Natya seolah tak bisa menebak apa yang sedang Bian inginkan sebenarnya.
"Natya setuju. Lagipula kita tidak terlalu memiliki banyak waktu."
"Kalian bisa cuti dari pekerjaan, astaga." Lina yang gemas dengan mereka berdua langsung bersuara. Bukankah mereka bisa mengambil cuti untuk persiapan pernikahan. Siapa yang tak memperbolehkannya?
"Aku masih baru, tidak mungkin seperti itu, Ma." Bian menatap mamanya seraya mengerutkan kening. Dia tak setuju jika harus cuti sementara dia sendiri belum bekerja selama sebulan penuh.
"Natya juga ada beberapa pemotretan yang harus segera diselesaikan. Jadi, kita hanya urus baju saja." Bukan ingin ikut-ikut keputusan yang Bian buat. Tapi, dia memang memiliki banyak jadwal terutama pemotretan yang dia ambil untuk menggantikan Hilda.
"Baiklah. Tidak buruk juga kalau kami yang menyiapkan." Resi menghembuskan nafasnya berat.
Tak ada penolakan yang Lina takutkan akan Bian lakukan. Justru pria itu terlihat menyetujui dengan tenang. Entah apa yang sedang direncanakan, Lina juga mencurigainya. Tapi, melihat perjodohan mereka akan segera berlangsung setidaknya menjadi kabar baik meskipun harus menentang hati Bian yang sesungguhnya.
Keputusan benar-benar sudah diambil oleh keluarga keduanya. Dan mereka akan benar-benar segera menikah, meskipun tanpa rasa. Atau, bisa jadi Natya menaruh hati terlebih dahulu pada Bian.
"Setelah ini, kamu antar Natya pulang, ya." Rahendra hanya memberitahu. Padahal tanpa mengatakan Bian akan melakukannya karena dia juga yang membawa Natya ke tempat ini.
Tak ada respon suara, Bian hanya menganggukkan kepalanya seraya menikmati makan malam bersama mereka untuk yang pertama kalinya. Rasanya benar-benar asing dan berbeda untuk Bian.
*** Bersambung...