Sweet 16

1086 Words
Emma meremas kuat kain seprei di bawahnya sementara Douglas terus menggoda miliknya dengan ujung dildo. Emma tak tahan lagi dia ingin segera dimasuki Douglas. “Please daddy, sekarang..” isak Emma “Little one, kau belum mengatakan bahwa kau menyetujuinya” ucap Douglas “Oh Tuhan, kau menyiksaku.. Ya.. Ya.. Aku menginginkannya” seru Emma geram Douglas menarik tubuh Emma bangun, memeluknya dari belakang menc*mbu lekukan lehernya, satu tangannya meremas payudra Emma dan yang lain meluncur membelai kewanitaannya. Emma melenguh nikmat saat Douglas menangkup dan sedikit meremas disana. Tubuh Emma dibaringkan Kembali menghadap kearahnya, lalu dia beranjak menuju salah satu dinding, mengambil seutas tali dan kembali menghampiri Emma yang berbaring diam. Douglas meraih salah satu kaki Emma, mengecup dan mengulum setiap jari kakinya lalu menekuk kaki Emma menempelkannya didad* gadis itu, menarik satu tangannya lalu mengikat pergelangan tangan dan kakinya menjadi satu Dia melakukan hal yang sama dengan kaki Emma yang lainnya. Lalu menaruh sebuah bantal di bawah pinggul Emma hingga milik Emma terpampang jelas. Douglas berdiri menatap Emma yang terbaring terikat, membelai kewanitaan Emma yang terlihat mengkilap basah lalu menyebarkan cairannya di liang a**s gadis itu. Hal itu membuat nafas Emma tercekat lalu merintih saat tiba-tiba jari itu melesak masuk dan menggoda Emma dengan gerakan perlahan. Douglas mendesis saat dia merasakan betapa ketatnya liang itu nafasnya memburu melihat Emma bergerak gelisah di bawah kendali tangannya. “Sekarang, baby girl ” desis Douglas mencabut jarinya dan meraih dildo. Emma menanti dengan gemetar dia menggigit bibirnya, menahan rasa takutnya. Lalu benda itu menerobos masuk, rasa sakit yang ditakutkan oleh Emma tidak terjadi yang ada hanya rasa nikmat saat benda hitam dan panjang itu meluncur masuk. “Ugghh. Daddy. Rasanya sesak” desah Emma saat benda itu berada sepenuhnya didalam miliknya. Douglas menarik keluar dildo yang berada di dalam Emma lalu memasukannya kembali. Terus menggoda gadis itu. Sementara tangannya yang lain mencoba memberi rangsangan pada liang anusnya. Emma terus merintih, mendesah saat Douglas bermain- main dengan milik nya, tangannya mengepal menahan gairh yang terus menggulungnya. “Kau cantik baby girl. Panas dan menggairhkan” desis Douglas. Douglas menahan kaki Emma yang terikat, satu tangannya menggenggam miliknya yang sudah mengeras lalu mengarahkannya ke liang a**s Emma. Tanpa peringatan Douglas menerobos masuk kedalam sana. Jeritan Emma terdengar menggema di ruangan itu bersamaan pekikan nikmat yang lolos dari mulut Douglas. Douglas mengecup lembut air mata Emma yang menggenang di sudut mata gadis itu. “Oh little girl, maafkan daddy… Tapi daddy janji sakitnya akan hilang sebentar lagi…kau percaya pada daddy bukan?” bisik Douglas.+ “Ya.. ya.. Daddy..please” pinta Emma. Douglas bergerak perlahan menarik miliknya lalu menghujamkannya kembali. Awalnya perlahan, tapi lambat laun gerakannya semakin cepat dan liar saat Douglas merasakan liang ketat itu seperti menghisap miliknya kuat. Emma meringis menahan nyeri dan nikmat. “Unghhh… ohhhhhh…Daddy…” Desahnya. Nafasnya tercekat setiap kali Douglas memasukinya, dan dildo didalam vginanya melesak lebih dalam. Desahan nikmat dan deru nafas memburu dari keduanya terus terdengar. Tangan Douglas masih tetap mengendalikan dildo yang berada di dalam Emma. Nafas Emma terengah-engah karena sensasi nikmat dan rasa penuh dalam dirinya, tubuhnya bergerak liar seiring hujaman Douglas dan dildo di dalam miliknya. Mulut nya terus meracau meminta lebih sampai akhirnya dia merasakan tubuhnya mengejang kaku, Douglas yang tahu Emma akan mencapai klimaksnya bergerak lebih cepat dan menghujam lebih dalam lagi “Ahh kau suka bukan little girl, Ohhh Tuhan…. Ini nikmat!” racau Douglas saat Emma mencapai klimaksnya dan Douglas melihat bagaimana cairan milik Emma mengalir keluar dengan deras membasahi sebagian miliknya. Emma terengah tubuhnya lemas tapi Douglas masih terus menghujamnya. Tubuhnya berguncang liar seiring hujaman pria itu. Douglas menatap Emma yang sedang terpejam menikmati sensasi yang di timbulkan Douglas. Emma begitu muda, lugu dan mampu membuat Douglas melewati batas kewarasannya. Douglas membungkuk, mencium seluruh wajah Emma. Lalu kepalanya mendongkak, tubuhnya mengejang, gumaman liar dan kedutan milik Douglas memberitahu Emma bahwa pria itu mencapai klimaksnya. Emma bisa merasakan cairan milik Douglas mengalir hangat. Douglas menunduk menatap Emma yang terpaku menatap kearahnya lalu menggigit bibir bawah Emma, mengulumnya penuh nafsu. Dengan perlahan Douglas mencabut miliknya. Emma merintih, Douglas mengerang nikmat saat melihat cairan miliknya memenuhi liang a**s Emma. “Kau lelah little girl, apa aku terlalu memaksamu?” tanyanya membuka ikatan Emma. Emma menggelengkan kepalanya, lalu membelai helai keperakan di pelipis Douglas “aku tak tahu dari mana kau mendapat staminamu yang luar biasa itu” gumam Emma Douglas mengecup pergelangan tangan Emma. “Berlatih, baby girl” kekehnya. “Dan kau pun harus melakukannya.” “Ya, aku rasa begitu” ucap Emma membelai otot dad* Douglas dan menggosokan kakinya ditubuh Douglas. “Hentikan, atau kau ingin besok pagi tak bisa bangun dari tempat tidur. Kita tak ingin membuat Agatha mencemaskanmu, lalu memeriksamu dan menemukan banyak tanda kemerahan di tubuhmu bukan?” tanya Douglas geli “Uhhh. Tidak. Jangan sampai itu terjadi. Itu akan sangat memalukan” erang Emma lalu tersenyum malu. “Aku lapar” bisiknya. “Emma McGrath yang malang, aku terlalu larut dalam kenikmatan hingga melupakan hal itu. Aku akan memasak untukmu, sebelum kita kembali ke penthouseku.” kata Douglas “Kau bisa memasak?” tanya Emma tak percaya. “Hei. Kau tak tahu apa-apa tentangku, little girl” jawab Douglas pura-pura tersinggung Itu benar. Emma memang belum mengetahui banyak tentang pria ini. “Well, daddy. Tunjukan padaku” desis Emma mendorong tubuh Douglas menjauh. Douglas bangun berdiri dihadapan Emma dengan tubuh telanjang. Emma menelan ludah dengan susah payah, saat matanya tak sengaja melihat milik Douglas yang masih terlihat tegang. Ya Tuhan, luar biasa indah dan menggairhkan. Lamunannya buyar saat dia mendengar suara kekehan Douglas. “Dia masih menginginkanmu. Kau senang mengetahuinya, bukan?” goda Douglas nakal. Emma menunduk malu lalu bangun dan berjalan melewati Douglas bermaksud untuk mengambil pakaiannya dan mengenakannya kembali tapi tiba-tiba Douglas menghentikannya. “Kita tak butuh pakaian. Dirumah ini tak ada siapa-siapa. Kita akan ke dapur seperti ini” bisik Douglas memeluk tubuh Emma. Emma mengangguk malu, lalu matanya menangkap sebuah kilatan logam di sudut ruangan. Dia berjalan kearah kilatan itu dan menemukan gelang kulit dengan rantai yang diujungnya terdapat sebuah lingkaran membentuk cincin yang tempo hari dia buang. Douglas meraih gelang itu bermaksud untuk menyimpannya, tetapi Emma dengan gesit merebutnya dari Douglas. Dia memandang Douglas, lalu memasang gelang itu di pergelangan tangannya sendiri dan berjalan kearah douglas dan memasangkan cincinnya di salah satu jari pria itu “Milikmu. Selalu.” bisik Emma menatap Douglas yang sedang menatap kearahnya dengan mata penuh kilatan emosi yang sulit diartikan oleh Emma. ^^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD