Aku mengerjapkan mata, dan saat mata ku terbuka seutuhnya sudah ada Kak Arden, Radit, Danu dan Kak Ramdan. Tapi tidak lagi ada di ruangan tadi, karena bau etanol mulai menyeruak ke hidungku. Ini ... Rumah sakit.
"Kamu gak papa, Dek?" tanya kak Arden dengan wajah cemas melihatku.
Radit langsung menggenggam tanganku dan mengecupnya pelan.
"Sayang, kamu gak papa ? Mana yg sakit ? Kasih tau aku."
Aku tersenyum melihat reaksi Radit yg seperti ini ," eum... Kepalaku, Dit. Masih sakit," erangku.
"Yang mana, Ai? Sakit banget ya? Aku panggilin dokter ya," ucapnya makin cemas padaku ,"Danu...!! Panggilin dokter, gih" suruh Radit ke Danu .
"Hm... Gue lagi." Danu lalu pergi keluar walau dengan ekspresi sebal.
"Aku kenapa sih ?" tanyaku ke mereka.
Kak Arden langsung menoleh ke kak Ramdan, akhirnya kak Ramdan yg angkat bicara .
"Kamu pingsan tadi, Tha, kena pukul iska , yg tadi kesurupan . inget kan? " tanya kak ramdan .
"Siska? Mmm..." aku mencoba mengingat ingat kejadian itu sambil menekan tengkuk ku karena masih terasa sakit.
"Kamu gak papa kan, dek?" tanya kak Arden .
"Hmmm.. Gak papa sih kak. Cuma masih pusing kepalanya ."
Tak lama Danu datang bersama dokter dan suster dengan beberapa alat alat kesehatan dan buku besar yg di bawa suster . Kebetulan dokter sedang keliling untuk pemeriksaan rutin ke pasien . Aku pun diperiksa oleh dokter .
Beruntung pukulan itu tidak terlalu keras, dan semua baik baik saja sejauh ini .Hanya saja, aku masih harus dirawat semalam di sini .
"Kak..."
"Hmm... Kenapa, Dek ?"
"Ayah bunda gak usah di kasih tau ya.. Aku gak mau mereka cemas . lagian aku gak kenapa napa kan ?" pintaku .
Kak aarden menarik nafas panjang.
"Hmm... Iya. Kakak belum kabarin ayah sama bunda sih. Kakak juga mikir gitu . kalau di kabarin pasti bunda bakal heboh terus langsung nekat ke sini . "
" iya, kak. Makanya itu."
" eh.. Aku balik duluan ya, Tha," kata Danu sambil menatap jam tangan nya .
" iya, makasih ya, Dan. sorry , ngerepotin," kataku .
"Santai aja kali , beib.." sahutnya cuek .
"Heh!! Beib beib.. Sembarangan !!" gerutu Radit kesal .
"Hahahaaa... Keburu bodyguardnya ngamuk, pamit dulu semuanya .. Assalamualaikum.." ucap Danu sambil keluar dengan tergesa gesa dari kamar, takut kena pukulan Radit rupanya. Tapi iseng nya ya.. Hmm.. Dasar .
Kak Arden dan kak Ramdan menatap nanar padaku .
"kenapa sih ngeliatin nya gitu amat ?" tanyaku heran .
Mereka berdua masih saja terdiam dan membuatku makin penasaran .
Kak Arden mendekat .
" dek.. Kamu diganggu ? "
"Hah? Aku ? Sama siapa?" tanyaku dengan polosnya.
" iya, Den. Aretha emang diganggu . di kost ." Radit angkat bicara .
Kak Arden menoleh ke Radit lalu kembali menatapku lekat lekat .
" 'dia' yg merasuki kiki ? Bener kak ?"
" bukan cuma kiki... Tapi , kamu juga."
Aku melongo .
Aku juga ? Kapan ?
=========
Flashback.
Arden pov's
Setelah Danu mengabari ku, tentsng kejadian yang menimpa Aretha, aku, Radit dan Dedi segera berlari ke kelas kiki. Saat sampai di pintu, Aretha pingsan karena telah dipukul dengan cukup keras di belakang kepalanya .
"Aretha!!!" teriak aku dan Radit bersamaan .
Kami segera masuk ke dalam. Tapi, tiba tiba saja , Aretha terbangun kembali, namun, sikap nya agak berbeda.
Dengan gerakan pelan , Aretha yg awalnya terbaring di lantai, perlahan bangun dengan wajah yg masih menunduk. Aku dan Radit berhenti dan mengamati sikap Aretha yg aneh.
Aku yakin dia bukan Aretha .
Setelah dia berdiri sepenuhnya, dia mulai menggerak gerakan kepalanya Seringai mengerikan terlihat di wajahnya, Aretha menoleh ke belakang, tepat ke orang yg telah memukulnya.
Aretha maju mendekati orang itu, aku bahkan tidak fokus pada sekitarku. Padahal banyak sekali yg kesurupan di sini. Aku malah fokus ke Aretha . aku penasaran siapa yg merasuki nya dan apa yg akan dia lakukan sekarang .
Dalam hitungan detik, Aretha menutup wajah orang itu dan orang itu langsung pingsan.
Keadaan makin kacau, orang orang yg kesurupan makin menjadi. Mau tidak mau, aku dan Radit akhirnya turun tangan. Radit memang sudah cukup handal menangani orang orang kesurupan . semua berkat didikan pakde Yusuf.
Disaat suasana makin tak terkendali , Aretha tiba tiba terdiam, lalu tak lama menggeram dengan suara yg cukup menakutkan. Suaranya lain, suara laki laki .
Dan anehnya, semua yg kesurupan langsung pingsan, dan tak lama, Aretha juga ikut pingsan .
Flashback end .
==========
"Jadi gitu? Pantes aja aku gak inget apa apa, aku cuma inget, kalau aku dipukul dari belakang habis itu semua gelap," kataku.
"Hmm.. Jadi ' mereka' yg dari kost Aretha, Den?" tanya Radit .
Kak Arden malah menatap kak Ramdan yg sedari tadi terdiam .
" kostan Aretha ... Emang angker," ucap kak Ramdan datar .
"Hah? Serius kak?" pekikku.
Kak Ramdan mengangguk pelan.
"Dulu sekitar 5 tahun lalu, di sana ada kejadian bunuh diri, katanya sih salah satu penghuni kost, dia gantung diri di kamarnya. Sejak saat itu , kostan itu jadi sepi. Bahkan banyak yg memilih pindah karena takut di hantui arwah gadis itu," tutur kak Ramdan .
" terus gimana. Den ? Apa Aretha pindah kost aja? Kasihan juga kan kalau harus ketakutan tiap hari ." saran Radit .
" kamu gimana ,dek ?" kak Arden balik bertanya padaku .
Aku berfikir sejenak .
" hm.. Kasih aku waktu 3 hari ya, kak . kalau sampai 3 hari aku bener bener gak sanggup, aku bakal pindah kost ."
"Sayang, Kamu mau ngapain?" tanya Radit menyelidik .
" gak ngapa ngapain kok . ya siapa tau setelah kejadian tadi, ' dia' gak akan ganggu aku lagi. Takut sama Arkana . kan bisa jadi kak."
Aku yakin Arkana yg merasuki ku saat itu, karena sesat sebelum aku pingsan, aku melihatnya berdiri menatapku datar. Mereka bertiga hanya diam saja . mungkin setuju dengan pendapatku .
***
Malam ini kak Arden dan Radit menemaniku di rumah sakit .
Kak Ramdan sudah pulang ke rumah nya sejak satu jam yg lalu .
Sekarang sudah pukul 22.00 malam . keadaan di rumah sakit sudah mulai sunyi . Kak Arden sedang ke toilet .
Radit sedang membuka laptop nya seperti nya ada tugas yg sedang dia kerjakan.
Keadaan di dalam kamar, mendadak panas .
"Dit... Ac nya mati tah?" tanyaku
Radit berdiri dan mendekat ke bawah Ac. Tangan nya terjulur untuk merasakan apakah Ac benar mati atau tidak .
" enggak deh, Aii. Nyala. Berasa nih dingin nya ."
"Tapi kok di sini gerah ya?"
"Ya udah aku kurangin lagi suhu nya ya, biar lebih dingin ."
Radit meraih remote Ac lalu menekan tombol nya .
Tak..tak..tak..
Suara ini lagi .
Radit menoleh padaku, itu pertanda kalau dia juga mendengar apa yg kudengar .
"Siapa, ya? " tanya Radit .
"Biarin aja."
"Tamu kali, Aii?"
" tamu dari mana, sayang? Bukan lah . udah biarin aja ."
Radit sepertinya paham maksud perkataan ku, dia mematikan laptop nya lalu mendekat padaku . " kamu gak ngantuk, Aii? " tanya nya sambil membelai wajahku lembut .
" Belum begitu ... Dit..."
"Hm? Kenapa sayang?"
"Perasaanku kok gak enak ya ."
"Eum.. Ada apa ? "
" aku ngerasa bakal terjadi sesuatu." sambil ku tekan dadaku menahan rasa yg entah apa, yg kini sedang berkecamuk di hati.
Radit menggenggam tanganku erat ." kamu gak sendirian ,ai . ada aku di sini, inget kata kata ku kan ? "
"Iya, aku inget kok. Inget banget . makasih ya."
Radit membelai wajahku lalu mendaratkan bibir nya di keningku .
Brak brak brak..
Pintu di pukul pukul dengan kasar dari luar . Aku dan Radit saling pandang. Aku menggeleng ke Radit tapi dia malah mengangguk, kutahan tangan nya saat dia hendak berjalan ke pintu .
" enggak papa, Ai . aku liat dulu siapa di luar ." ujarnya .
" tapi .."
Radit malah kembali mencium keningku . Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya, keringat dingin makin mengalir deras di dahiku. Bahkan aku menelan ludah berkali kali karena merasakan kering di tenggorokan.
Saat Radit membuka pintu, dia terbelalak lalu dengan cepat menutup pintu dan menahan dengan tubuhnya.
Wajah Radit pucat, dia terlihat panik . segera di kunci pintu itu lalu mendekat padaku .
" ada apa sih? " tanyaku.
" aii.. 'Dia' ada di luar .." ucapnya.
"Hah? 'Dia' ? Dia siapa sih ?"
" yg di kost kamu ,aii.. "
Deg!
Dia mengikutiku sampai ke sini .
Ada apa sebenarnya ?
Kupikir aku tidak mengusik nya, aku tidak pernah mengganggunya .
Kenapa dia terus menggangguku?
" kak Arden mana sih, Dit ?"
" bentar aku telepon dulu." Radit segea meraih ponselnya dan menghubungi kak arden .
Tak lama dia mengumpat .
" s****n !! Diluar jaringan lagi nih . argh!! Ngeselin bgt !!" gerutunya .
Brakkkk!!!
Pintu terbuka dengan kasar .
Kami berdua menegang. Radit menutupiku. Namun di pintu tidak ada siapa pun . Hanya semilir angin berhembus menerpa wajah kami . bahkan beberapa anak rambutku tersapu terkena angin .
" waspada, Tha . " suruh Radit sambil terus menatap lurus ke depan .
Bulu kudukku mulai meremang .
Pertanda ada kehadiran makhluk astral di dekat ku .
Tapi aneh nya aku tidak melihat sosok apa yg ada di sekitarku .
"Tha... " panggil Radit membuyarkan lamunan ku .
"Kenapa ?"
" fokus," ucapnya sambil mengulurkan tangan nya padaku .
Kuraih tangan Radit, kami memejamkan mata bersama sambil fokus dengan terus melafalkan ayat ayat suci alquran .
'Hhhhhrrrrr'
Terdengar gumaman di sekitar kami . saat aku dan Radit membuka mata , sosok itu pun makin terlihat jelas .
Sosok wanita di kost, sedang berdiri di ujung pintu sambil menatap kami datar .
" mau apa kamu!!" teriak Radit .
Dia melambaikan tangan nya pada kami, seolah menyuruh kami untuk mendekat. Radit menatapku , seolah bertanya padaku, dan entah kenapa aku mengangguk .
Kuraih infus yg menggantung di tiang infus sampingku .
" kamu yakin?" tanya Radit .
"Insya Allah ."
Kami berjalan mendekati sosok itu . 'dia ' pun mulai berjalan meninggalkan kamar ku seperti menyuruh kami mengikutinya.
Radit menggandengku dan kami berdua mulai keluar dari kamar .
" astagfirulloh!!" pekik Radit saat menoleh kembali ke dalam kamar .
Aku pun ikut menoleh dan ikut terbelalak. Di dalam kamar , ada aku dan Radit sedang tertidur. Radit tidur di pinggir ranjang ku .
Kenapa ini ?
Bagaimana bisa kami melihat tubuh kami sendiri?
"Tha ? Gimana ini ?"
" gak papa, Dit . kita ikuti aja dulu ' dia'. aku yakin dia punya maksud kenapa nyuruh ikut," kataku yakin .
Radit menarik nafas panjang lalu mengangguk .
======