Part 7 Terungkap sebuah misteri

1729 Words
Kami tidak tau akan dibawa ke mana oleh 'nya', dan mengikuti saja ke mana dia pergi. Radit terus menggandengku. Makin lama, suasana sekitar kami makin menunjukan keanehan, dan jujur, baru kali ini aku mengalami hal seperti ini. Ada sedikit rasa takut jika tubuh kami akan di manfaatkan oleh jin jin kafir, kalau kami terlalu lama meninggalkan raga kami di sana. Tapi entah kenapa aku bersikeras ingin mengikuti 'dia'. Aku penasaran terhadap sosok itu, sejak pertama kali aku bertemu dengan nya di kost, dan beberapa kali pun dia seolah mengajakku berkomunikasi. Seperti ada yg ingin dia sampai kan padaku . Tanpa terasa, kami sudah berada di halaman kost ku. Tapi, aneh. Keadaan kost berbeda dari biasanya. Cat nya lain, bahkan beberapa bangunan terkesan lama. Berbeda dengan kost yg ku tempati sekarang. "Kok aneh ya, Ai? Ini kostan kamu, kan?" tanyanya. Aku pun ikut mengamati sekitar kami, benar kata Radit. Aneh. Sosok itu berjalan masuk ke dalam kost. Namun tak lama dia menoleh pada kami. Kami pun meneruskan mengikuti nya kembali, sekalipun kami mengikuti 'dia' namun kami pun tetap menjaga jarak. Entah lah aku masih merasa takut padanya, dan malas untuk dekat dekat. Saat menginjakkan kaki di kost, tiba tiba suasana menjadi ramai. Ada aktifitas di sini. Namun aku masih ragu , apakah mereka manusia atau bukan. "Aii.. Apa kita ada di dimensi lain ?" tanya Radit bisik bisik . "Hmm. Bisa jadi sih. Jujur aja aku baru pernah ngalamin hal ini. " "Teus gimana nasib kita nih. Kalau kita nyasar gimana? Kita gak bisa balik lagi ke tubuh kita ?" Aku pun memaklumi kecemasan Radi, karena aku pun berfikir hal yg sama. "Tenang aja, kak Arden pasti bakal cari kita. Sekarang, mendingan kita fokus ke 'dia', aku yakin dia mau nyampein sesuatu," saran ku . Kami terus mengikuti nya hingga ke lantai dua, di mana pertama kali aku melihat nya. Mungkin itu kamar kost miliknya dan mungkin dia adalah wanita yg diceritakan kak Ramdan, yg bunuh diri di kost ini. Sampai di dalam kamar kost nya, aku dan Radit sempat terkejut sampai sampai menghentikan langkah kami. Di depan kami, ada dua orang muda mudi dan yg membuat kami terperangah adalah wanita itu adalah sosok yg membawa kami ke sini. Aku makin yakin, bahwa kami dibawa kembali ke masa lalu, di mana ' dia' masih hidup. Mereka berdua terlibat cek cok, dari obrolan yg ku tangkap, wanita ini bernama Lilis, dan si pria bernama Heru. Mereka mahasiswa yg sama dengan kampus ku dan Radit, mereka kakak tingkat kami sepertinya. Dan sepertinya mereka sepasang kekasih. 'Dengerin aku dong, Lis ... Ini nggak seperti apa yg kamu pikirin .. Aku sama Tia nggak ada hubungan apa apa," kata Heru dengan bisik bisik, karena suasana di luar kost memang agak ramai. 'Apa kamu bilang ? Gak ada apa apa ? Kamu pikir aku buta ? Gak bisa liat kalo di antara kalian itu memang ada sesuatu ?! Pokoknya aku mau kamu nikahin aku !! ' kata Lilis lantang. 'Nikah? Gak mungkin lah, Lis . kita masih kuliah ! Kamu mau aku kasih makan apa? Batu ? Mau ??" 'Tapi... Aku hamil, Her!!' Heru terperangah kaget, lalu menatap Lilis nanar, pipi Lilis sudah banjir air mata sejak tadi. 'Pokoknya kamu harus nikahin aku, Her !! Kalau enggak, aku bakal bilang ke orang orang tentang kelakuan kamu selama ini!! " ancam Lilis . 'Apa kamu bilang??!!' Heru yg merasa tersudut terlihat naik pitam . Dia mendekati Lilis, Lilis yg panik lalu hendak berteriak. Namun Heru lebih dulu membekap mulut Lilis. Lilis meronta. Heru makin kencang membekap mulut Lilis, bahkan wajah Lilis dibenamkan ke tubuh Heru. Lilis yang awalnya terus berontak lama kelamaan melemas. Heru yg menyadari nya lalu mendorong tubuh Lilis menjauhi nya. Heru terlihat frustasi sambil memukul mukul tembok. Lilis meninggal . Aku makin mengeratkan pelukanku ke lengan Radit. Radit malah langsung memelukku. Aku meneteskan air mata. Jadi begini yg terjadi pada Lilis . Bukan bunuh diri. Tapi ... Sebelum aku melanjutkan gumamanku, Heru lalu menarik sprei kemudian dia keluar kamar dengan mengendap endap . Setelah suasana di rasa aman, Heru mengikat sprei itu ke kayu yg ada di depan kamar kost Lilis. Tepatnya di depan balkon, dia membuat simpul yg biasa kulihat di film film, jika orang orang ingin melakukan bunuh diri . Setelah ikatan dirasa kuat, Heru membawa tubuh Lilis lalu menggantungnya di sana. Dalam hitungan detik jasad Lilis sudah terayun di depan balkon . Dan Heru ? Dia langsung pergi dengan tergesa gesa. Sosok Lilis yg telah membawa kami ke sini, menatap jasadnya dengan tatapan memelas. Mungkin dia ingin menunjukan pada ku dan Radit, kebenaran yg sesungguhnya. Tiba tiba seseorang menepuk bahuku, saat aku menoleh... ' Pak de???' pekikku . ' ayok, pulang. Kalian udah kelamaan di sini,' ucap pak dhe Yusuf datar sambil melirik Lilis sinis. Aku dan Radit di gandeng pak dhe Yusuf dan tidak lama kami sampai di depan kamar inap ku di rumah sakit . *** Kepalaku rasanya pusing sekali . Entah kenapa aku mendengar suara bunda di sekitarku. Dan saat ku buka mata, bunda dan ayah sudah ada di sampingku . bersama pak dhe Yusuf dan kak Arden juga. "Alhamdulillah... Kamu udah bangun, Nduk," ucap bunda sambil memelukku. Begitupun dengan ayah . "Nggak di rumah, gak di sini ,selalu aja ya bikin ayah sama buda jantungan," kata ayah sambil mengacak acak rambutku. "Radit mana?!" "Tuh," tunjuk kak Arden ke ranjang sampingku . Radit sedang tertidur pulas di ranjang. Ku pandangi wajahnya, lega rasanya melihat dia baik baik saja dan kami juga kembali dengan selamat. "Telat 1 menit aja .. Kalian nggak akan bisa balik lagi," ujar pak dhe Yusuf datar. Glek! Ngeri banget, nggak bakal bisa balik lagi ? Gak lagi lagi deh, mau diajakin jalan jalan ' mereka '. aarrghh' runtukku dalam hati . Esoknya aku sudah bisa pulang . Ayah , bunda dan pakdhe juga langsung pulang, karena ayah harus dinas. Pakde juga ada urusan penting di Kalimantan . Aku kembali ke kost ku . "Thaa.. Kuliah kan ?" sapa Kiki sambil langsung ngeloyor ke kamarku . Aku yg sedang membereskan buku buku hanya tersenyum menanggapinya . " kamu udah gak papa, Ki ?" tanyaku . "Hmm.. Gak papa . maaf ya, Tha . gara gara aku, kamu jadi masuk rumah sakit gitu ." " apaan sih? Gara gara kamu apanya ? Aku nya aja yg lagi apes. eh.. Kamu kok bisa di rasuki gitu sih? Kamu habis ngapain?" "Gak tau, Tha . kemaren kan pas aku balik eh kamu gak ada kan di kamar . ya udah, aku langung tidur aja deh . tapi tengah malem ada yg ketuk pintu kamar kamu, akhirnya aku bangun, terus pas aku buka gak ada siapa siapa . terus aku gak inget lagi . tau tau aku kemaren ada di ruang kesehatan . kata Doni kamu masuk rumah sakit ." "Mm.. Iya . tapi aku udah gak papa kok . ya udah yuk, berangkat," ajakku . Kami berdua berangkat ke kampus bersama, tapi saat sampai di gerbang kost ,ada Radit dan Doni menaiki mobil Doni . Radit segera turun lalu membuka kan pintu mobil belakang untuk ku dan kiki . "Tumben nih dijemput ?"tanyaku . "Iyalah, habisnya kangen." gombal Radit sambil cengengesan. Kami berangkat ke kampus berempat . "eh kantin dulu yuk," ajak kiki . Kami sarapan dulu di kantin . Suasana kantin cukup ramai . "Nah itu masih ada meja kosong tuh." tunjuk Doni . "Kalian ke sana dulu aja ya . aku ambil laptop bentar, ketinggalan di mobil " ujar Radit sambil sibuk mengacak acak tas nya. "Ya udah . jangan kelamaan ya " ucapku . Sementara menunggu Radit mengambil laptop nya, aku, Doni dan Kiki duduk di meja yg ada di ujung. Doni memesankan nasi goreng untuk sarapan. Kiki menyenggol ku, lalu mengisyaratkan ku melihat ke pintu masuk kantin. Kak Ramdan . Kak Ramdan sedang melihat ke arah kami sambil tersenyum manis sekali . Ku balas senyum juga, lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah lain . "Tha.. Kak Ramdan naksir kamu deh kayaknya," goda Kiki . "Ngaco! " aku mengelak. " ih beneran . kalau ngeliatin kamu tuh ya ...hmm.. Dalem banget deh . bikin meleleh." " es batu kali meleleh," kataku cuek . " coba kalo aku belum sama Doni. Bakal aku pepet tuh kak Ramdan," kata Kiki dengan senyum licik. Aku meliriknya sinis . Dasar ni anak. Nggak bisa deh liat yg seger dikit, batinku . " teh manis anget siap nyonya.." kata Doni sambil meletakan 4 cangkir teh hangat di meja. "Makasih sayang, " kata kiki sambil senyum senyum ke Doni . Ku cecap teh hangat milikku, dan tiba tiba... "Uhuuukk... uhuuuk.." aku tersedak saat melihat ke ujung kantin . Ku pincingkan mataku berharap aku salah lihat, tapi aku yakin memang dia . Ada seorang pria dan wanita yg sedang sarapan di kantin dengan mesra nya, sambil suap suapan. "b******k!" umpatku . Aku berdiri sambil meraih teh hangat milik ku, lalu berjalan ke arahnya . Tanpa pikir panjang, ku siramkan teh yg masih hangat ke kepala nya . "Heh!! Gila ya !!" dia berdiri dan berteriak padaku . Ku lempar gelas ku tepat di bawah kakinya . Praaaang!! Gelas pun pecah di lantai, di mundur sedikit. Suasana kantin menjadi hening. Semua mata tertuju padaku . "Kamu apa apaan sih?? Gila ya!! Kurang ajar!!" dia memaki ku . "Heh!! Dasar cowok b******k! Kamu harus pertanggung jawabkan perbuatan kamu! " kataku dengan nada meninggi . Kiki dan Doni mendekat dan berusaha menghalangiku . "Heh!! Kamu gila?? Aku gak kenal kamu ya? Dasar stres!!" "Emang kamu gak kenal aku ! Tapi kamu kenal Lilis, kan?!" tanyaku . Dia terlihat agak kaget . "Lilis siapa??" "Halah.. Ngaku aja deh, kamu pacarnya Lilis kan?? Kamu harus membersihkan namanya. Dia meninggal bukan karena bunuh diri !! Tapi kami bunuh!! Iya kan??!!' " heh!! Jangan fitnah ya !! Aku bisa laporkan kamu ke polisi dengan tuntutan pencemaran nama baik !! Kamu gak tau siapa orang tuaku ??!! Kamu gak bakal bisa menuntut ku apa pun!! Paham??!" " kamu pikir aku takut ??!! Mau kamu anak bupati kek, gubernur bahkan presiden sekalipun, aku... Gak takut !! Kalau perlu, aku sendiri yang bakal seret kamu ke penjara sekarang juga!!" tantang ku . Kak Ramdan mendekat . "Aretha ada apa ?" "Tha, apa apaan sih? Elu kesambet setan mana lagi? Pagi pagi udah ngamuk," kata Doni sambil menarik ku menjauhi heru . "Dia!!!" ucapku sambil menunjuk Heru ," dia pembunuh! Dia yg bunuh Lilis!! " kataku lantang . Kak Ramdan melirik tajam ke Heru dengan mengatupkan rahangnya . "Ram, jangan percaya dia, itu bohong," bela Heru. "Aku lebih percaya dia daripada kamu! Jadi bener kamu yg ngelakuin itu ?? Jawab!!" tanya kak Ramdan dengan nada tinggi . "Aarrghh!!! b******k!! Itu bohong.. Kamu..!!" Heru menunjukku dan terlihat marah sekali . Dia maju dan hendak memukulku namun seseorang keburu menahan tangan Heru . Radit. "Elo berani sentuh dia sedikit aja !! Gue bunuh lu !!" kata Radit penuh emosi. Kak Ramdan menarik Heru dengan kasar bahkan terkesan menyeret nya . Heru masih saja teriak teriak tidak terima diperlakukan seperti ini . Suasana kantin menjadi ricuh . Semua orang bisik bisik sambil terus menatapku . Entah apa yg mereka pikirkan, aku tidak peduli . " kamu gak papa kan sayang?" tanya Radit sambil membelai wajahku . " gak papa kok.." =======
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD