Part 8 Tuyul?

1464 Words
Setelah kejadian tragedi meninggalnya Lilis beberapa tahun lalu terungkap, suasana kost kini lebih nyaman. Bahkan beberapa kamar kost yg awalnya masih kosong, sekarang sudah mulai ada yg menempatinya. "Ai...," sapa Radit yg tau tau nongol dari balik pintu. Kalau sore sore begini, aku memang lebih suka membuka pintu lebar lebar. Agar ada angin segar yg masuk. Cuaca juga sudah cukup dingin. "Eh.. Assalamualaikum?" tanyaku . Radit lalu masuk dan langsung berbaring di lantai . Keringat nya berpeluh peluh . "Oh iya, wa alaikum salam sayang." "Dasar! Kamu dari mana sih? " tanyaku lagi sambil mengambilkan dia segelas air minum. "Ngejar tuyul." "Hah? Tuyul ? Tuyul apaan??!!" "Ya tuyul . yg anak kecil kepalanya botak pakai popok doang. Suka ngambilin duit. Tuyul kan itu namanya?" Dia meneguk nya air minum yg ku berikan dalam sekejap habis tak bersisa. Radit mengamati gelas di tangan nya . "Bocor ya ini gelas nya," katanya ngasal . Aku menjitak kepalanya . "Bocor masuk ke perut kamu!!" Aku lantas berjalan ke kompor. " kamu belum makan, kan ?" "Tau aja kamu, sayang. Aku belum makan," katanya cengengesan . Kubuatkan nasi goreng sosis untuknya. Kebetulan stok bumbu instan masih ada. "Nih... Makan dulu. Kasian kelaparan ya, sayang," kataku sambil mengacak acak rambutnya. "Heem. Laper." rajuknya manja mirip anak kecil minta jajan. Aku bergidik ngeri mendengarnya . " alay banget sih?" Dia malah tertawa tanpa menghentikan acara makannya. Dalam beberapa menit, makanan sudah habis di makan Radit . Tak lama kak Arden, Dedi dan Danu datang . "Assalamualaikum," sapa mereka bersamaan . " wa alaikum salam." "Wah cepet banget udah di mari," ujar Danu sambil tos ala ala pria pada umumnya. "Heem ... Minta jatah," kata Radit sambil melirikku, aku pun ikut melirik tajam padanya . "Jatah makan, " gumam Radit melanjutkan kalimatnya. Danu dan Dedi cekikikan, kak Arden hanya geleng geleng kepala. "Eh.. Gosip tuyul itu bener gak sih?" tanya Danu . Semua menatap ke kak Arden . meminta jawaban dari kak Arden tentunya. Kak Arden malah tiduran di kasur ku dan memejamkan matanya . Satu menit.. Dua menit.. Tiga menit .. Dan bantal yg di pegang Dedi pun mendarat di wajah kak Arden . "Heh!! Apaan sih " erang kak Arden sebal. "Ditanya juga, malah tidur," ujar Dedi kesal. "Nggak tau!" ucap kak Arden. "Masa sih gak tau, Den? " Danu tidak percaya. Kak Arden tidak menjawab hanya makin erat memeluk guling, dan sepertinya tertidur. Kubuatkan mereka teh hangat, agar acara mengobrol lebih santai. "Doni sama Kiki ke mana sih?" celetuk Dedi . "katanya sih jalan jalan," sahutku . " ke mana?" tanya Danu . "Kepo deh ih," timpal Radit sambil mencecap teh di tangan nya " kita jalan jalan juga yuk," ajak Dedi . " ke mana ?" tanyaku . " pantai bray." "Ide yg bagus . mau nggak, Ai?" "Hm ... Ayok aja deh. Bosen juga ya , sejak dateng ke sini belum pernah jalan jalan, kan?" ujarku . Kak Arden pun di bangunkan dan kami putuskan untuk pergi ke pantai terdekat. Dengan naik mobil Radit kami hanya menempuh perjalanan 30 menit saja, dan sampai juga di pantai yg di maksud. Suasana pantai agak lenggang, mungkin karena bukan hari libur . Entah sudah berapa lama, kami tidak ke pantai. Kami langsung berjalan ke tepi pantai. Yah, hanya sekedar berdiri di hamparan pasir dan sesekali terkena ombak yg menggulung pelan mengenai kaki kami. Rasanya sudah cukup menenangkan. "Eh.. Haus. Aku beli es klapa muda dulu ya, tuh di sana," ujar kak Arden . "Pesenin sekalian, Den " pinta Dedi . "Yoi..." Sementara kak Arden pergi membeli es klapa muda, Danu malah mendekat ke bapak bapak nelayan yg baru saja datang. Dedi pun yg penasaran ikut mengekor Danu . Ku pandangi hamparan laut lepas di depan ku . Tenang. Damai. Aku sangat suka laut, entah kenapa aku selalu merasa nyaman jika berada di pantai seperti ini . Tiba tiba seseorang memelukku dari belakang. Sudah jelas dia adalah Radit . Bahkan saat aku memejamkan mata ku pun, aku sudah hafal aroma tubuhnya, pelukan nya, walau saat Radit tidak menyentuhku sekali pun , aku bisa merasakan kehadiran nya ada di dekat ku. Dia mencium pucuk kepalaku sambil mengeratkan pelukan di pinggangku. "Aku sayang kamu, Ai," bisik nya di telinga. "aku juga sayang kamu, Ay," sahutku sambil kubelai kepalanya. Kami menikmati sunset sore ini di pantai, hidupku sungguh lebih sempurna dengan kehadiran Radit di sisiku. Dia selalu ada untukku, dia selalu menemaniku. Dalam keadaan apa pun. "Woii.. Dit! Ta!! Ayok!" seru Danu dari kejauhan. Akhirnya aku dan Radit mendekat ke mereka yg sedang duduk di warung sambil meminum es klapa muda . Radit terus menggandeng tanganku . "Minum dulu, habis itu kita salat ." suruh kak Arden . Adzan maghrib memang baru saja berkumandang. Kami menikmati es klapa muda sembari menunggu adzan selesai. Danu sibuk dengan ponsel nya, namun dahinya tiba tiba berkerut . "Ehh.. Nanti kita mampir ke rumah Setio bentar ya, ambil laptop ku," pinta nya . "Kok bisa di Setio?" tanyaku . "hooh, kemaren rada eror terus aku kasih ke dia. Setio kan bisa benerin katanya." "Rumahnya mana sih?'' tanya Radit . "Nggak jauh dari kampus kok ." Setelah salat maghrib kami ke rumah Setio dulu untuk mengambil laptop Danu. Sampai di rumah yg ditunjuk Danu kami pun turun dari mobil. Semilir angin membuatku sedikit menggigil . Tumben banget nih aku bisa menggigil, padahal cuaca agak panas karena sepertinya hujan akan turun nanti . "Aii ? Dingin ?'' " iya, sedikit . " Radit langsung melepas sweeter nya dan memakai kan nya padaku . " yuk.. Masuk dulu deh," ajak Danu . Kami pun masuk ke halaman rumah Setio yg cukup luas . Aku sempat menghentikan langkah ku saat ku lihat mbak kunichan sedang duduk di pohon mangga sambil mengayun ayun kan kaki nya . Ada pocong juga di pojok halaman, suara anak kecil pun tak luput dari pendengaran ku. Saat ku fokus kan penglihatan ku ada beberapa anak kecil berlarian di sekitar kami. Mereka bertubuh kerdil berkepala plontos. Tubuhnya agak berbulu dan agak berlendir. Namun giginya runcing semua. Tuyul. Kak Arden dan Radit paham atas sikapku, mereka pun membuka mata ketiga mereka. "Tioooo!!! " seru Danu ke seseorang yg baru saja keluar rumah. Aku, Radit dan kak Arden hanya saling lempar pandangan . Dedi mendekat ke kak Arden. "Pasti ada yg kagak beres ya?" Dedi bisik bisik, namun masih bisa kami dengar. Tio melambaikan tangan nya ke Danu seolah menyuruh Danu untuk masuk . Ku tahan kak Arden yg hendak mengikuti Danu, saat kak Arden menoleh, aku menggeleng pelan . "Nggak papa, dek . kita masuk aja dulu yuk. Sebentar lagi hujan," ajak kak Arden . Radit lalu menggandeng tanganku ." ada aku, aii . inget, kan? " bujuk Radit . Rintik hujan pun mulai jatuh . Mau tidak mau, aku pun menuruti mereka untuk masuk ke rumah itu . Saat masuk ke teras rumah ini, aku merasa panas, hawa sekitarku berubah panas . Lalu Setio keluar membawa laptop milik Danu, mereka ngobrol sebentar. "Eh mau minum apa? " tanya Setio . Kulihat seorang bapak bapak paruh baya mondar mandir di dalam rumah, sepertinya itu ayahnya Setio. Beliau berjalan dengan kedua tangan yang berada di punggung seolah-olah tengah menggendong sesuatu. "Rumah kamu ramai banget, kayak TK ," celetuk Radit sambil Memandangi rumah Setio. Memang temboknya di cat warna warni, benar benar mirip TK . Tak lama seorang ibu paruh baya keluar menemui kami, wajahnya cantik namun pucat, tidak segar dilihat. Sepertinya ini ibunya Setio . "wah... Ada tamu," sapa beliau ramah . Beberapa makhluk kerdil mengikuti ibu ini, berkeliaran di samping dan belakang nya. Benar benar mirip anak kecil yg suka bermain main . Aku terus menatap tajam ke makhluk itu, namun tiba tiba mereka balik melihatku dengan tatapan mengerikan, aku pun langsung menunduk dan memejamkan mataku, ku remas lengan Radit yg duduk di sampingku, dan ku benamkan wajahku di bahunya. Radit membelai kepalaku dan berusaha menutupiku dari makhluk makhluk kerdil itu. kak Arden mengulurkan tangan nya padaku . Dan ... Lenyap . Mereka menghilang tiba tiba . "Dan, Udah kan?" tanya Radit . "Hah? Eh iya udah .. Yuk balik. Tio, thanks ya," pamit Danu ke Setio . Setio menatap kami bergantian dengan wajah yg keheranan . Akhirnya kami pamit pulang dan di antar Setio sampai ke mobil. Saat aku akan masuk ke dalam mobil tiba tiba setio menarik tanganku. "Tha. Aku mau ngomong sebentar," pinta Setio . Sejak ospek kemarin, namaku memang langsung terkenal. banyak yg menyebutku dukun lah, ghost buster lah, banyak sebutan mereka untukku. Tapi aku cuek saja, aku sudah terbiasa dianggap aneh seperti itu . "Apaan sih, Tio?" Radit mendekat lalu menghempaskan tangan Setio . "Eh yg sopan ya !!" "Sorry, Dit. aku nggak bermaksud kurang ajar, aku cuma pengen tanya ke Aretha aja," kata setio memohon . "Oke.. Tapi lepas dulu tangan kamu!" Setio melepaskan tanganku, di terdiam beberapa saat . "Aku.. Cuma mau tanya, kamu lihat apa di rumahku, Tha?" tanyanya penuh harap . Aku dan Radit saling tatap . "maksud kamu apa sih ?" aku pura pura tidak paham . "Ayolah, Tha. aku tau kamu lihat sesuatu, bahkan kalian bertiga. Tatapan kalian beda tadi, aku cuma pengen tau. Apakah desas desus itu bener? Tentang keluarga ku ?" Glek. Jadi Setio tidak tau ? Aku menatap kak Arden, kak Arden yg mengerti lalu mendekat . " kita obrolin ini besok aja ya, di kampus . gak enak kalo diobrolin di sini, " saran kak Arden. Akhirnya setio setuju dan kami pun pulang ke kost kami masing masing . ======
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD