Setelah salat isya, aku pun segera naik ke ranjang dan mencoba untuk tidur.
Kak Arden dan yg lain nya sudah kembali ke kost mereka masing masing sejak sejam lalu. Kiki juga sepertinya sudah tertidur, karena kamar nya sudah sepi. Biasanya suara musik masih kudengar jika kiki masih terjaga. Hujan lebat disertai guntur dan petir sedang menghiasi langit malam ini, kurapatkan selimut ku dan mencoba untuk tidur lebih cepat.
Saat aku mulai masuk ke alam mimpi, aku mendengar suara berisik di sekitarku. Suara yg sama seperti saat aku ada di rumah Setio. Seperti ada banyak sekali anak kecil yg berlarian di sekitarku .
Bahkan seperti ada yg menarik narik selimutku. Akhir nya ku paksakan lagi untuk membuka mata .
Deg!
Jantungku berdegup lebih cepat . beberapa makhluk kerdil yg biasa disebut tuyul berkeliaran di kamar kost ku. Ada yg mengacak acak tas, lemari dan beberapa berlarian ke sana ke mari. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku, badanku terasa kaku tidak bisa ku gerakan sedikit pun.
Aku memberanikan diri untuk membuka mata. Bayangan makhluk kerdil itu terus ada di sekitarku .
Namun, tubuhku benar benar kaku. Kenapa mereka mengikuti ku sampai ke sini. Dengan susah payah, kuraih ponsel yg ada di samping. Menekan angka 1 sebagai panggilan darurat.
Ya Allah... Tolong hamba.
Kubacakan doa doa dalam hati .
Tapi entah kenapa pikiran ku blank. Apalagi saat ada sesosok pocong di sudut kamarku. Walau keadaan kamarku gelap, tapi aku bisa merasakan dia ada di sana. Diam dan Sedang memperhatikan ku .
Kenapa mereka malah meneror ku sekarang?
Astagfirulloh 'haladziiim..
Mereka makin mendekat padaku, bahkan pocong tadi melayang dan kini berdiri di sampingku .
Dia mencondongkan tubuhnya dekat sekali denganku.
Namun, tiba tiba..
Braaaakkkk!!!
Seseorang masuk dan langsung mendekat padaku dan mendekapku. Seketika itu pula, semua makhluk mengerikan itu menghilang begitu saja .
"Kamu gak papa, Aii?" tanya nya terdengar sangat panik .
Perlahan tubuhku sudah bisa ku gerakan lagi.
Aku pun langsung memeluk Radit yg kini ada di hadapanku .
" aku takut, Dit. Mereka ngikutin aku sampai sini. "
Tubuhku bergetar, Radit pun makin mengeratkan pelukan nya padaku .
Yah, aku memang menghubungi nya tadi. Nomer ponselnya adalah urutan pertama di tombol cepat ponselku, dan dia akhirnya datang diwaktu yg tepat.
"Udah ya. Mereka udah gak ada kan sayang? Kamu yg tenang ya.. Ada aku di sini .. Aku ambilin minum dulu. " Radit lalu mengambil kan segelas air minum untukku dan segera ku habis kan dalam beberapa detik saja .
Dia terus menatapku lekat lekat .
Setelah minum habis, kuberikan gelas itu ke Radit .
"Ya udah.. Sekarang kamu tidur ya, Ai. Besok kamu kesiangan lagi," ucapnya lembut sambil membelai kepalaku.
"Tapi.. Kamu temenin aku bisa? Aku takut mereka balik lagi," rengekku .
Radit tersenyum lalu mengangguk.
Setelah memastikan aku tidur dengan nyaman. Dia juga tidur di karpet dekat Tv katanya. Malam ini, Radit menemaniku di kost.
=====
Suara alarm di ponsel membuatku sedikit tersentak. Setelah ku matikan, aku pun duduk dulu di ranjang sambil meregangkan otot otot ku yg kaku.
"lho? Radit mana!" gumamku sambil celingukan.
Tak lama ponselku berbunyi menandakan ada pesan yg masuk .
[Selamat pagi.. Maaf ya aku tinggalin gitu aja. Habisnya takut ketauan ibu kost. Nanti kita disuruh cepet nikah gimana? Kalau aku sih yes.. Hehe..
Oh iya, aku udah beliin sarapan tuh buat kamu. Sekarang, kamu nengok ke kiri dikit. Nah... Tuh di meja.. Dimakan ya. Nanti kita ketemu di kampus. Oke sayang.
Love you.? ]
"Dasar orang gila!" Batinku sambil senyum senyum seperti orang gila juga.
Aku segera ke kamar mandi untuk mandi dan salat subuh lebih dahulu.
"Aretha. Yuk berangkat!!" teriak Kiki dari luar .
"Iya bentar. Tunggu!"
Kuraih tas milikku dan segera keluar kamar sebelum pintu kamar di dobrak Kiki. Bahaya nih, kalau suruh ganti rugi doang sih mending. Tapi kalau diusir dari sini. Wah... Aku tidur di mana dong. hehe.
Dalam beberapa menit saja kami sampai di kampus .
"Aretha! Tunggu!!" teriak seseorang dari kejauhan .
Kupincingkan mataku untuk dapat melihat dengan jelas, siapakah gerangan yg memanggilku.
"Siapa itu ya, Ki?" tanyaku ke Kiki sambil mengerjapkan mata berharap bisa lebih jelas melihat nya.
"Ya ampun, Aretha. Kamu nggak lihat? Itu kan si ... Siapa itu... Eum.. Setio... Temen kelas kamu juga.." gerutu Kiki.
"Oh Setio.. Yayaya. Eh kok kamu kenal? Kirain kamu cuma tau namanya doang. Wujudnya tau juga ternyata," cetusku sambil meliriknya sinis.
"Lah, ya tau lah.. Lihat aja wujudnya. Hmm... Cool banget loh, Tha. Siapa sih yg gak kenal Setio."
Gubrak!! Aku hanya menepuk keningku sambil geleng geleng kepala atas sikap Kiki .
"Kalau Doni tau kamu gini gimana coba, Ki?" tanyaku .
"Ya bakal digoreng aku, makanya jangan sampai tau. Oke say.. Eh..eh..eh.. Setio ndeket tuh," kata Kiki gugup sambil pasang ekspresi sok cool.
Rasanya pengen ku unyel unyel ni anak.
"Tha.. Kamu baru berangkat? Aku udah tungguin di kelas dari tadi," katanya sambil ngos ngosan .
Dengan santainya ku lirik jam di pergelangan tanganku," baru juga jam segini.. Kenapa?" tanyaku dengan polosnya.
"Kamu lupa, Tha? Yg semalem," rengek nya.
"Hah? Semalem ?" tanyaku sambil melihat ke atas.
Kiki malah menyikut ku .
"Ih ... Apaan sih ah??"
"Kenalin dong, Tha," bisik Kiki.
"Ya ampun." mulutku langsung di bungkam oleh Kiki.
"Tha... Please.. Jangan heboh deh. Biasa aja keles."
Aku mendengus sebal sambil memutar bola mataku .
"oh iya yg semalem. Heem. Kita obrolin di taman sana aja yuk. Oh iya, kenalin dulu Tio, ini Kiki sahabatku," kataku dengan senyum yg ku paksakan.
Kiki langsung mengulurkan tangan nya dan disambut oleh Setio .
Setio memang tampan, badan nya atletis, pintar dan baik .
Namun ada satu hal yg mengganggu pikiran ku, dia diliputi aura gelap, dan aku baru menyadarinya sekarang .
Sepanjang perjalanan ke taman, aku terus memandangi Setio dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku yakin dia menyadarinya, hanya saja dia masih memilih untuk diam. Kiki juga terus ngoceh panjang lebar . tapi Setio hanya menanggapi dengan senyuman saja
Sampai di taman, kami duduk di bangku panjang yg ada di bawah pohon beringin. Aku lebih memilih duduk di bangku yg lebih banyak terkena sinar matahari.
"Eh Tha. Gak panas? Sini napa?"
"Ah.. Enggak kok, enak di sini.. Sekalian berjemur," jawabku bohong .
Padahal di dahan pohon itu ada mbak kunichan sedang duduk sambil menggoyang goyangkan kakinya, dan terus menatap kami sambil sesekali menyeringai.
'Please, di situ aja ya, mbak. Gak usah turun turun ke mari. Awas aja, aku bilangin om gondrong yg nunggu depan loh ya,' batinku .
Mbak kunichan malah tertawa nyaring membuat bulu kudukku meremang.
Ah ... s**l. Kenapa tadi harus aku ajak ke sini ya? Hm. Salah pilih tempat
"Tha!!" teriak Radit dari kejauhan, kembali kupincingkan mataku mencari Radit.
Wah, rasanya aku harus membeli kaca mata, mataku parah.
Tak lama Radit, kak Arden, Dedi, Danu dan Doni datang .
Akhirnya sudah komplit sekarang.
"Jadi ... Apa yg mau kamu tanyain, Yo?" tanya kak Arden tiba tiba.
Setio diam sambil menatap kami satu persatu.
"Semalem... Kalian pasti lihat sesuatu di rumahku, kan?" tanyanya ragu dan malu.
"Heem.. Iya, kami memang lihat sesuatu, bahkan banyak. aku gak tau mereka itu apakah peliharaan keluarga mu atau penunggu rumah kamu," kata kak Arden .
Aku tau kak Arden bohong, karena sejak aku masuk ke rumah Setio, aku tau kalau para makhluk itu memang peliharaan keluarganya.
Tapi Setio sepertinya memang tidak mengetahui hal ini .
"Kak, " panggilku sambil mengisyaratkan kak Arden menatap setio lekat lekat.
Kak Arden mengangguk paham .
"Tio.. Kapan kamu terakhir salat?" tanya kak Arden.
"Salat? Hm.. Aku gak pernah salat, Den. Udah lama banget . seingetku, aku rajin ke mushola pas kecil aja. Setelah masuk SMP, aku udah gak pernah lagi salat. Bahkan perlengkapan salat pun aku udah gak punya. Orang tuaku juga gak begitu suka kalau aku ikut kegiatan masjid deket rumahku."
" astagfirulloh'haladziiim.." ucap kami bersamaan.
" pantesan," gumam ku.
"Pantesan apa? Eh kamu dari tadi ngeliatin aku segitu nya, ada yg salah sama aku?" tanya Setio .
" kamu diliputi aura gelap, yo, dan asal kamu tau, kemarin kami lihat banyak sekali makhluk astral di rumah kamu. hmmm.. Itu peliharaan orang tua kamu," ucapku lirih di kalimat terakhir.
Setio nampak terguncang ,"astagfirulloh'haladzim.."
"Yg sabar, Bro," kata Danu sambil menepuk bahu Setio .
"Terus aku harus gimana, Tha. Den?" tanya Setio.
"Hmm... Pertama, kamu harus salat lagi, Tio.. Kembali ke jalan Allah, karena cuma kamu yg bisa menyadarkan orang tua mu sendiri," saran kak Arden .
"Tapi... Aku lupa.. Bacaan salat."
"Tenang aja.. Kita bakal bantu kok," kata Radit juga.
Setio tersenyum tipis. " makasih ya.. Kalian mau bantu aku."
Mulai hari ini, kami mulai mengajari Setio tentang agama islam. Dari salat, membaca alquran dan yg lainnya .
Perlahan aura gelap yg ada di sekitarnya menghilang.
Dan hanya dalam beberapa hari, Setio sudah hafal bacaan salat, dia juga sering terlihat di kegiatan ROHIS kampus. Auranya mulai bersinar .
Bahkan banyak yg bersimpati padanya. Beberapa kali pun kulihat dia di dekati perempuan perempuan di kampus. Pokoknya laris manis deh.
Hingga hari itu tiba...
Saat Setio akan pulang, tiba tiba dia berteriak ketakutan. Aku dan Danu langsung mendekat saat Setio makin histeris, seperti sedang mengusir sesuatu.
"Pergi kalian! Pergi!!"
Suasana kelas menjadi tegang . beberapa teman kami berlarian keluar, beberapa masih ada di dalam kelas.
"Heh!! Bro.. Kenapa sih?? Woi!!!" teriak Danu sambil berusaha menyadarkan Setio .
"Itu, Dan.. Itu!! Dia selalu ngikutin aku, " kata Setio sambil menunjuk ke langit langit.
Aku fokuskan pandangan ku ke atas dan saat semua jelas terlihat, ada makhluk mengerikan terbang di atas kami. Itu tidak hanya satu tapi banyak .
Dia berwarna hitam, memiliki tanduk di kepalanya, matanya merah, kuku kuku nya tajam dan panjang. Beberapa bagian tubuhnya mengelupas seperti terkena luka bakar, bahkan baunya semakin lama semakin menyengat. Cairan hitam juga menetes dari beberapa bagian tubuhnya, dan tetesan itu mampu membuat semua benda yg terkena akan melepuh.
"Masya Allaah!!" pekikku sambil mundur menjauhi Setio dan menarik Danu .
" apaan sih, Tha!!" tanya Danu heran .
"Kabarin kak Arden.. Buruan, Dan!" pintaku .
Kubacakan beberapa suratan pendek , bahkan yg awalnya hanya gumaman kini makin kencang ku lafalkan .
Beberapa teman di sekitarku akhirnya mengikuti seperti yg ku lakukan. Kami melakukan doa bersama untuk Setio .
Tak lama kak Arden datang bersama Radit, Dedi, Doni, Kiki dan kak Ramdan .
"Kenapa, Tha ??" tanya kak Arden .
Kak Ramdan langsung melihat ke atas dengan ekspresi tercengang .
Saat kak Arden melihat juga ,kak Arden langsung beristigfar .
"Ayok kita buat posisi lingkaran. kita bacain doa sama sama," ujar kak Arden .
Kami mengangguk .
Setio sudah mengalami banyak luka di beberapa bagian tubuhnya .
Setelah kami membuat lingkaran, kami bacakan ayat ayat rukyah.
Butuh waktu sekitar 30 menit , makhluk itu lama kelamaan menghilang bagai asap .
"Alhamdulillaaaaah," ucap kami bersamaan .
Setio sudah tenang hanya saja kondisinya melemah. Kami segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sampai rumah sakit Setio segera masuk ruang ICU . Danu menghubungi orang tua Setio .
Dan 30 menit kemudian, mereka datang dengan tergopoh gopoh .
" kenapa sama Setio ? Bukan nya tadi dia baik baik aja??!!" tanya ibunya Setio pada kami .
" karena kalian dia gini," ucapku tanpa basa basi.
" heh !! Apa maksud kamu ??" ayah Setio mulai terpancing emosi .
Aku berdiri dan berjalan ke hadapan mereka," iya karena kalian!! Setio menderita karena ulang orang tua nya sendiri!! Maaf ya bu.. Pak!! Kalian gak sadar atas apa yg kalian lakukan itu berimbas ke Setio?" tanyaku seolah menantang mereka.
" maksud kamu apa ya??"
Kak Arden berdiri menengahi kami . Radit menarik ku mundur . Kak arden mengajak orang tua Setio ngobrol pelan pelan .
Yah, aku tau.. Setio seperti ini karena orang tuanya .
Karena dia mulai kembali lagi ke jalan Allah, dan semua pengaruh ilmu hitam yg keluarga nya jalani menentangnya . Akhirnya Setio yg diserang .
"udah ,aii. Sabar ya sayang . jangan ngomel ngomel gitu dong, jelek tau ." bujuk Radit .
"Habisnya .. Mereka keterlaluan. Sesat banget. Bener bener pengikut iblis !! Neraka tuh balasan nya. Nereka j*****m kalau bisa!!"
"Ssst.. Udah sayang. Udah.." Radit lalu memelukku erat untuk menenangkan ku .
Dan , memang benar.. Aku lebih tenang sekarang.