Kanya bergegas masuk dan menyeberangi lobi demi menyusul Arka yang sudah berdiri di depan lift. Saat pintu lift terbuka, ia berada di sana di waktu yang pas. Bersikap seakan-akan tidak mengenalnya, Arka berdiri kaku dalam balutan celana jin, kemeja kotak-kotak dan bertopi hitam. Ada tas ransel besar di punggungnya. “Arka, kamu baru pulang kuliah?” sapanya ramah. Hening, tidak ada jawaban. Sikap tubuh Arka seakan menyiratkan tidak mendengar sapaannya. “Hei, kamu marah sama aku?” Akhirnya, ia bertanya tidak sabar dengan tangan terulur dan mencubit pinggang Arka. “Aww, apaan, sih. Sakit, tahu!” Arka menggerutu sambil mengusap pinggangnya. “Siapa suruh kamu cuekin aku!” Kanya berucap sambil berkacak pinggang. Arka tersenyum kecil, melirik wanita di sampingnya yang malam ini terlihat menaw

