Di tepi pantai, El meluruskan kaki, sementara ombak tenang nun jauh di sana. Bas mengikutinya sejak tadi, kini berada di belakangnya seolah mengawasi, takut El melakukan hal-hal bodoh. “Ngapain berdiri di sana?” El ternyata menyadari keberadaannya. “Nunggu saya minta maaf atau ngarep saya bilang makasih?” Bas mendengkus. Tidak bisakah El bicara yang baik-baik? Jadi, dia memutuskan untuk duduk di trotoar yang membatasi pasir pantai dengan jalanan, menemani El dari kejauhan, seperti seorang ayah mengawasi anaknya kala bermain. Tidak mengobrol atau basa-basi, hanya sama-sama berdiam di sana, tahu bahwa mereka ada satu sama lain. “Ealah, El, bosan banget ketemu kamu tiap malam. Apa kamu nggak pernah tidur?” sapa bapak-bapak yang mencangklong jala ikan di bahunya. Sudah waktunya berlayar,

