Luka yang Dirahasiakan

1364 Words

El tengkurap, memendam wajah ke bantal hingga sulit bernapas, lalu telentang, terengah-engah. Lurus memandang langit-langit yang tinggi dan lapang, di dalam hatinya gelisah. Setelah mengutuki diri, dia tengkurap lagi, telentang–begitu terus. “Dia nggak ingat kan, aku yang waktu itu?” gumamnya, bertanya pada udara kosong kamarnya ini, menggigit bibir. Kalau dia cerita ke Ibu soal kejadian waktu itu, kalau Ibu sampai tahu penyebab Sara pergi…. “Bisa mati gue!” teriaknya, terbangun, terduduk di atas ranjangnya. Cepat dan darurat, matanya menyapu seluruh kamar, mencari solusi, meskipun yang ditemuinya hanyalah jendela, pemandangan di luar dan langit biru di atas sana. Buru-buru, El melompat turun dari ranjang hingga jempolnya terkilir. PLETEK! “Akk! Argghh!” raungnya, sambil memegangi jemp

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD