“Ada, kok, dia udah lahir.” Uhuk! Bas terbatuk, tersedak kenyataan mengejutkan. Pria itu memukul-mukul d**a dan sialnya, minumnya habis. El menyodorkan gelasnya yang tersisa setengah, Bas menenggaknya habis. “Makasih,” ucap Bas, setelah lega. El cuma geleng-geleng, lalu berdiri menghampiri mbok-mbok pedagang untuk membayar. Selama itu, bahkan selama perjalanan pulang, Bas cuma bisa menatap El tiga-empat kali seolah ingin bertanya, tapi, dia menyimpan semua penasarannya. “Pasti banyak yang ingin kamu tanyakan,” tebak El, seraya berjalan di tepi pantai yang berpasir, menuju vila. “Nggak juga.” Bas menyembunyikan kedua tangan di belakang, seperti menyembunyikan rasa ikut campurnya yang besar. “Kalau lo nggak mau cerita, nggak apa-apa.” Dalam sunyi debur ombak, malam yang berangsur pergi,

