“Ingat ya, Kaw, saya butuh bukti. Tentang pencurian naskah, juga tentang perempuan itu–saya butuh kamu buktikan semua itu. Buktikan, semua tuduhan itu tidak benar.” “Siap, Om. Akan saya ingat. Saya pasti tidak akan mengecewakan Bapak.” Ayah Naomi menepuk-nepuk pundak Kawa, tertawa renyah. Tak jauh dari mereka, Kamal berdiri, baru mengantar Naomi pulang. Melihat Kamal, Kawa seketika gelisah. Pria itu tidak mampu lagi berkonsentrasi meladeni Ayah Naomi dan hanya bisa tertawa kikuk. Ayah Naomi menyadari keberadaan Kamal. Kamal langsung mengangguk takzim, lalu melirik Kawa sesaat, sebelum berbalik pergi. “Siapa, ya?” gumam Ayah Naomi sembari mengerutkan dahi, belum pernah bertemu Kamal. “Kamu kenal?” tanyanya, pada Kawa. Kawa mendesis, seraya menggeleng. “Kalau nggak salah, manajernya Bask

