“Kapal Bapak terbalik karena badai. Orang-orang masih mencari keberadaan Bapak.”
Jatuh mangkok berisi bubur, dari pegangan Marwah. El membeliak, menatap ngeri, jelas sekali bubur baru masak itu tumpah di punggung kaki ibunya, tapi, wanita paruh baya itu tak bereaksi sama sekali, kecuali berlari ke luar rumah, tanpa alas kaki, bahkan sempat tersungkur setelah tersandung kaki sendiri, tapi, dia buru-buru berlari lagi.
“Ibuuu!” El menangis. Sara berhambur memeluknya, mendekap kepalanya. El dapat merasakan ubun-ubunnya basah oleh air mata Sara dan tangisnya semakin kencang karena itu. Orang-orang panik, orang-orang menangis. Kenapa? Apa Bapak mati?
Selama pencarian, waktu terasa berjalan amat lambat, tetapi, setelah evakuasi jasad Bapak berakhir, semua terjadi bagai sekejap mata, kosong, tapi berbekas.
Pemakaman pun berlangsung ganjil–amat ganjil. Bagaimana bisa pria kesayangan El itu akan dipendam dalam tanah, sendirian, tapi, El tidak menitikkan air mata sebutir pun? Padahal ini menyayat hati, mengapa El tidak merasakan apa-apa?
Seseorang merangkul El, mengusap-usap lengannya. Sosok pemuda yang lebih tinggi darinya–setinggi Sara. Kawa, namanya. Dia anak orang kaya yang tinggal di rumah besar dekat hutan. Alih-alih memikirkan Bapak, El justru fokus memikirkan Kawa pakai parfum apa.
Ah, El lupa bilang ke Bapak soal Kawa dan Sara. Mereka pacaran. Waktu Bapak dan Sara meledeknya soal pacar, seharusnya El membahas Kawa.
Saat itulah, saat El sadar dirinya tidak bisa memberi tahu Bapak soal Kawa, sadar dirinya tidak akan bisa berbicara lagi dengan Bapak atau naik ke punggungnya, atau menaburi garam ke mulutnya waktu tertidur, barulah tangis El pecah.
Lututnya lemas dan seperti air matanya yang berderai-derai, tubuhnya pun jatuh tersungkur di tanah kuburan. Tangannya mencengkeram tanah merah itu, memukul-mukul d**a, karena sakit sekali di lubuk hatinya.
Lalu, semenjak hari itu, semua yang terjadi dalam hidup seorang Elora Eirene pun tak sama lagi. Dirinya kalah dalam pertandingan taekwondo dan menyerah selamanya. Meskipun begitu, dia masih tetap berlatih setiap pagi dan sore, karena hanya taekwondo, satu-satunya cara berkeringat dan sibuk, membuat dirinya bisa–sejenak–melupakan Bapak.
*
“Apa sih, yang bisa kamu lakukan dengan benar, El?” Marwah menggerutu, setelah membuka penutup panci, mendapati beras di dalamnya telah berubah menjadi bubur super lembek–benyai. “Nggak bisa meniru Sara? Kamu bukannya bantuin ibu, malah bikin tambah repot. Kalau begini, nasinya tidak bisa dimakan. Kamu tahu nggak, beras itu mahal?”
Sederet omelan Marwah tidak pernah berhenti di kalimat kedua atau ketiga. Selalu panjang, memuakkan, memekakkan telinga. Tambah-tambah, El tidak pernah terima jika terus dimarahi.
“Aku tahu, aku salah. Tapi, bisa nggak, Ibu berhenti bandingkan aku sama Sara? Sara itu lebih besar, jelas lebih banyak bisanya dibanding aku yang nggak pernah Ibu ajarin!”
“Sara juga tidak Ibu ajarin, tapi, bisa sendiri. Semua itu tergantung niat, El. Jadi orang jangan pandai beralasan! Aslinya, kamu ini memang malas. Sejak Bapak masih hidup pun, kerjamu cuma taekwondo terus. Buat apa belajar gebukin orang? Mending belajar cara masak nasi yang benar!”
“Taekwondo itu bukan gebukin orang!” El menjerit, dadanya naik turun, tak tahan lagi. “Apa pernah–”
“Sudah, El,” lerai Sara, berdiri di tengah-tengah Marwah dan El yang makin bersitegang. “Kamu jalan-jalan dulu, gih. Hirup udara segar sebanyak-banyaknya. Sebentar lagi matahari terbit. Kamu suka matahari terbit, kan?”
“Tapi, Mbak–”
Sara tersenyum, matanya teduh, menenangkan–meyakinkan El bahwa dirinya bisa. Tahukah Sara? Perlakuan baik seperti itu membuat El makin sakit hati. Mengapa Sara begitu sempurna dan mengapa dirinya begitu bodoh?
Berdecak kesal, El berpaling, membawa pergi air matanya. Berlari ke pantai, air matanya yang berderai, kering tersapu angin. Kaki telanjangnya menapak pasir, dibelai-belai ombak kecil yang mampir ke permukaan pantai.
Dia teriak sekuat tenaga, melepaskan semuanya. Kalau saja Bapak masih hidup….
PLAK! El menampar pipi sendiri. Bapak sudah mati, ingat itu! Ketika dirinya hampir menangis lagi, ditamparnya pipinya yang lain. PLAK!
Kapal-kapal nelayan mulai tampak di kejauhan sana, berlayar pulang, berlatar terang matahari terbit. Dan, kapal Bapak masih bertengger di tepi pantai, diikat pada pasak, karena rusak dan belum bisa diperbaiki–atau lebih tepatnya, tidak ada yang tega untuk memperbaikinya.
Melihat luka-luka di tubuh perahu itu, akan mengingatkan pada tragedi hilangnya Bapak. Bagaimana perahu terbalik, bagaimana badai menghantamnya–semua itu terlalu menyakitkan untuk diingat lagi.
Ketika perahu mulai mendekat, sebelum para nelayan itu menyapanya dan berbasa-basi, mengungkit tentang kematian Bapak dan mengasihaninya, gadis itu berbalik, membuat jejak-jejak kaki di atas pasir yang semakin menjauhi pantai.
Langkah demi langkah, lalu berhenti. Matanya menatap vila besar milik Pak Denny yang pernah Bapak bahas. Seketika, kedua bola mata El kembali berbinar, mendapat ide.
*
“Ya, secara teknis, kamu memang bisa menempati rumah itu El,” terang kepala desa, setelah melihat kunci rumah itu berada di telapak tangan El. El bertandang ke rumahnya untuk sekadar bertanya, apa mungkin dirinya menempati vila itu seperti harapan dirinya dan Bapak. “Tapi, tidak ada hitam di atas putih. Jika suatu saat Pak Denny kembali–”
“Jika Pak Denny kembali, aku akan pergi dari rumah itu,” janji El, penuh tekad.
“Yah, kalau begitu–”
“Oke, terima kasih, Pak!” El terus memotong, lalu berlari pergi seperti orang kebelet pipis. Gadis itu sudah tak sabar ingin mengemas barang-barangnya dan pergi dari hadapan Marwah, selamanya.
Di rumah, Marwah cuma bisa memandangi anaknya itu berkemas, sambil berkali-kali menghela napas. Sebelum mengunjungi kepala desa, mereka sudah ribut besar soal keputusan El pindah ke vila itu. Mengetahui El mendapat persetujuan dari kepala desa, Marwah tidak bisa mengatakan barang sepatah kata pun lagi.
Tersisa Sara, yang cemas bukan main, membayangkan adiknya tinggal sendiri di vila besar itu. “Bagaimana kalau ada rampok, El? Kamu cuma sendirian di sana.”
El mengibaskan tangan. “Pulau ini lebih aman dari yang kamu kira, Mbak. Lahir di sini, masa nggak tahu, sih? Lagipula, kalau benar ada rampok, aku masih ingat caranya tendangan berputar, kok!”
Sara menghela napas lagi. “Iya, tapi–”
“Kalau kamu segitu cemasnya, ikut denganku saja. Bapak pernah bilang, kita bisa punya kamar masing-masing di sana. Kedengarannya seru, kan?”
Sara melirik Marwah yang duduk membelakangi mereka. Mana mungkin meninggalkan ibunya seorang diri? Bapak pergi, El pun pergi, dirinya tidak bisa ikutan pergi–meski kedengarannya menyenangkan. Sara menatap plafon rumah yang banyak noda bekas bocor, bau lembap yang menganggu dan kamarnya yang cuma satu. Vila itu seribu lebih baik dibanding rumah ini, kan?
“Jangan dengarkan anak durhaka itu, Sara. Dia mau meninggalkan kita, juga meninggalkan kenangan Bapak di rumah ini,” ucap Marwah tiba-tiba, dengan suara getar menahan marah.
Pantaskah seorang ibu berkata seperti itu? Ibu kandung loh, ini. Bagaimana bisa terus menyudutkan anaknya sendiri?
Mendengar ucapan ibunya, El tidak menanggapi, malah semakin bertekad. Dirinya pun tidak akan lagi meminta makan dari Marwah. Dia bisa melakukan apa pun–menjadi ojek perahu, berjualan ikan di pasar atau bekerja di pabrik garam. Dirinya bersumpah, tidak akan kembali kepada Marwah sekalipun nyaris mati kelaparan.
*
“Kamu masih menulis, Mbak?” tanya El, sementara Sara mengedarkan pandangan ke sekeliling bagian dalam vila ini. Sudah dua bulan El tinggal sendiri, sudah terlalu mandiri hingga Sara merindukannya, karena El lebih sering bolak-balik kota untuk mengerjakan dan berjualan apa saja.
Sara menjawabnya dengan gelengan. “Nggak sempat. Pulang sekolah aku bekerja di pabrik garam.”
“Mbak harus lihat ini.” El menyodorkan setumpuk kertas, hasil cetak komputer.
“Apa ini?” Sara menerimanya, ragu-ragu. Sebelum membacanya, dia menatap El yang tersenyum misterius. Sebentar, setelah membacanya, Sara paham . “Ini, kan–”
Naskah milik Sara. Lebih tepatnya, ide cerita Sara. El menulis ulang dengan gayanya sendiri.
“Aku akan meneruskan mimpimu, Mbak. Nanti, kalau novelku terbit atau skenarioku tayang menjadi film, akan kutulis namamu: Serena Sara. Keren, kan?”
“Tapi, kenapa?” Sara bertanya, sudah berkaca-kaca matanya.
“Ingat, nggak? Aku pernah bilang akan memberikan medali emas kepada seseorang. Seseorang itu adalah kamu, Mbak. Aku merasa berhutang pada janjiku sendiri. Aku sedih karena mimpi-mimpi kita berakhir, jadi, biarkan aku meraih mimpimu untuk kita, ya?”