Tahun 2022
“Orion Baskara. Kamu menyukainya?”
Elora Eirene menoleh, melepas pandangan lamanya dari videotron yang terpampang di hadapannya. Seorang aktor ternama dengan iklan pusat perbelanjaan, tentu saja, ini kantor agensi ternama.
El telah dua jam duduk di sini dan visual di videotron itu terus mengulang iklan-iklan yang sama. Kawa tahu-tahu ada di sebelahnya, menanyakan itu.
“Nggak juga,” El senyum. “Cuma bosan menunggu di sini.”
Kawa menyesal. “Maaf, tadi ada rapat.”
“Nggak apa-apa, salahku, mendadak datang di hari kerja seperti ini.” Sebentar, El menghela napas, mengingat semua yang terjadi hari ini. Belasan jam dari Jawa Timur ke Jakarta, berkali-kali ganti moda transportasi, yang didapatnya hanya kecewa.
Kawa melihat koper di samping El dan benar seperti dugaannya, pasti terjadi sesuatu. “Kamu baru datang? Dari pulau?”
El mengangguk. Maksud Kawa, Pulau Nyiur Sunyi di Jawa Timur, kampung halaman mereka. “Aku ditipu,” tertawa El, terdengar getir, berusaha menyembunyikan kepahitan di dalamnya.
“Ditipu?”
“Ada sayembara ide cerita yang dipromokan di media sosial. Aku mengirimkan sinopsisku ke sana dan menang. Terus, mereka memintaku datang ke Jakarta untuk teken kontrak. Katanya, aku akan diberi fasilitas tempat tinggal dan gaji tetap sebagai tim penuis skenario.”
“Terus?” tanya Kawa, menyipit, meski sudah tahu cerita ujungnya.
El mengangkat bahu. “Seperti yang kamu lihat.”
“Mereka minta uang?”
“Iya. Selain itu,”-gadis itu terdiam, bibirnya bergetar dan matanya berkaca-kaca- “mereka hampir menyentuhku–”
Kawa mengerang frustrasi, bangkit dari duduk, berkacak pinggang dan mondar-mandir gelisah. “Kamu masih ingat tempatnya?”
Saat menarik ujung kemeja Kawa, air mata El sudah jatuh di pipi. “Nggak usah,” pintanya, sambil berusaha tersenyum lagi. “Aku sudah memberi mereka pelajaran.”
Ah! Kawa membuka mulutnya, paham. El adalah penyabet sabuk hitam taekwondo yang hampir meraih medali emas. “Seberapa parah?”
“Yah … mungkin, mereka harus dirawat selama sebulan.”
Kawa tertawa, lebih karena lega. El juga senang bisa membalas para b******n itu. “Maaf, aku–”
“Nggak apa-apa, aku juga ingin tertawa kalau diingat-ingat. Aku sangat polos, bukan? Atau bodoh?”
Kawa menatap gadis itu, beberapa saat. Dia bersyukur bisa bertemu lagi setelah … lima tahun? Pria itu tersenyum, menyimpan rindunya, lalu fokus pada solusi. “Jadi, apa yang bisa kubantu?”
“Ah, ya.” El tampak ragu-ragu mengatakannya, karena tidak enak hati. Meskipun teman lama dan Kawa adalah pacar Sara, kakaknya, tapi, minta bantuan setelah tidak lama bertemu cukup membuatnya sungkan. “Aku mau pulang, tapi, aku baru sadar, dompetku jatuh di suatu tempat.”
“Oh, ya? Ada lagi yang hilang? KTP?”
El menggeleng. “Untungnya, aku menyimpan kartu-kartu di dompet lain, jadi, yang penting di dompet itu cuma uang.”
“Oke.” Kawa tampak berpikir. “Sebenarnya, aku pun ingin pulang Minggu depan. Gimana kalau bareng?”
El menggaruk dahinya yang tidak gatal. “Minggu depan, ya?” Masalahnya, sebelum datang ke sini, dia benar-benar tidak menyiapkan apa pun selain tekad. Rumah produksi abal-abal itu menjanjikan tempat tinggal, jadi, dia benar-benar datang tanpa persiapan matang.
“Kamu bisa tidur di apartemenku.” Kawa seolah menebak isi pikiran El.
El makin bingung, karena dia sama sekali tidak menduga ini. Setelah semua kejadian hari ini, yang terlintas dalam pikirannya hanyalah meminjam uang pada Kawa. Akan tetapi, tidur di apartemennya, itu terlalu ….
“Boleh?” El malah memastikan. Sejujurnya, saat ini, dia tidak ingin pulang setelah berpamitan kepada Sara, sampai kakaknya itu menangis dan bahkan El bertengkar dengan ibunya yang tidak setuju. Jika mereka harus tahu bahwa dirinya gagal, setidaknya … mereka tidak tahu secepat ini.
“Boleh, dong!” Kawa semringah. El mendecih, meninju pelan lengan pria itu dan sungkan di antara mereka akhirnya mencair.
“Aku ambil tasku dulu, ya. Kamu tahu lobi di sana, kan?” Kawa menunjuk lobi utama. El masuk dari sana, tidak mungkin tidak tahu. “Tunggu di sana saja, aku sekalian ambil mobil di basemen.”
El melenguh, menyikut Kawa, menggodanya karena sejak tadi pria itu membuat El bangga. Pekerjaan bagus, apartemen nyaman dan sekarang: mobil. Sejak awal, keluarga Kawa memang merupakan yang paling kaya di pulau kecil itu. Jadi, tidak heran, jika Kawa lebih cepat sukses dibanding orang-orang sebayanya.
Kawa tertawa, senang rasanya bertemu El lagi, bercanda seperti ini. “Tunggu, ya. Nggak lama, kok.”
*
“Sara gimana?” Kawa menyetir, bertanya pada El di bangku sebelahnya. Hiace premium membelah jalanan ibukota, belum terlalu macet, masih aman.
“Baik.” El menjawab singkat, sibuk melongok-longok bagian dalam mobil, terpesona.
Kawa terkekeh menyadari kelakuan El. “Ini mobil kantor, kok, serius. Harus hiace karena aku sering ke lokasi, bawa artis.”
“Oh, ya?” El takjub. “Artis siapa saja yang pernah naik ini?”
“Hmm….” Kawa berpikir. “Yang pasti, artis-artis agensiku. Salah satunya, Orion Baskara yang kamu lihat di iklan tadi.”
“Dia baru, ya?” El tidak tahu. “Akhir-akhir ini aku jarang nonton film Indonesia. “Dia baru, ya?” El tidak tahu. “Akhir-akhir ini aku jarang nonton film Indonesia.”
“Kenapa? Sekarang film Indonesia bagus-bagus, lho.” Kawa meraih ponsel, menggulirkan layarnya, lalu bertanya, “Mau nonton sekarang?”
“Hah?” El kaget. “Nggak, loh. Nggak bisa tiba-tiba gini.”
“Oke.” Kawa tidak memaksa. “Aku cuma pengen ajak kamu keliling Jakarta, sih, sebelum balik Minggu depan.”
“Terima kasih.” El tersipu tanpa alasan, mungkin, karena membayangkan akan menyenangkan keliling kota setelah seumur hidup cuma tinggal di pulau kecil. Paling-paling, sesekali ke kota, itu pun tidak setiap tahun.
“Kamu biasa nonton di mana?” Mata Kawa fokus melihat jalan dan tangannya memutar setir dengan piawai.
“Cineplex. Di Sumenep.” El memeriksa tas bahu, baru sadar ponselnya mati karena kehabisan daya. “Kamu punya charger Type-C?”
Kawa melirik sekilas, memastikan kabel yang cocok untuk HP El. “Ya ampun, El, kamu masih pakai HP itu?”
El tertawa, sama sekali tidak merasa tersinggung, karena dia yakin, Kawa tidak bermaksud mengejeknya, melainkan hanya bernostalgia. El punya HP itu waktu kelas 2 SMA, enam tahun yang lalu. “Awet loh, ini. Ingat, kan? HP ini pernah nyebur ke embernya Gino.”
“Ya, ya, ya.” Kawa bersemangat, ingat kenangan itu dan ingat Gino, teman sepermainan El. “Gino masih berlayar?”
“Masih,” tawa El, mengingat temannya yang kurus kerempeng itu. “Mau apa lagi? Dari bayi, dia sudah bisa cari ikan di laut.”
Tawa pecah lagi, Kawa benar-benar bernostalgia, sekarang. “Kangen, deh. Orang-orang masih sama? Kamu masih di vila Pak Denny?”
“Sara kadang datang menginap, kalau dia lagi bertengkar sama Ibu."
"Sara bertengkar sama Ibu?" Kawa takjub. Kalau El yang bertengkar, kan, sudah biasa. El tertawa, alih-alih merasa tersinggung.
“Omong-omong, jangan bilang Sara aku ketemu kamu, ya?” El ingat belum membicarakan ini dengan Kawa. “Aku nggak mau bikin dia cemas.”
“Oke, kayaknya lebih baik begitu.” Hiace memasuki kawasan apartemen. Kawa membuka jendela untuk menempelkan kartu parkir ke mesin TPE. “Kamu turun di lobi atau ikut aku ke basemen?”
“Hmm, lebih dekat mana?”
“Dari basemen, sih. Tapi, kalau dari lobi, ada porter yang bisa bawain koper kamu.”
El mengibaskan tangan. “Aku bawa sendiri saja.”
Kawa terkekeh. “Kalau gitu, aku yang bawakan. Di basemen saja, ya.”
Setelah debat panjang tentang siapa yang membawa koper, akhirnya, mereka sampai di unit apartemen Kawa dengan Kawa menyeret koper milik El itu. Membuka pintu, Kawa menekan tombol-tombol di kunci pintu digital dan diam-diam El takjub karena kunci dengan PIN cuma dia lihat di drama-drama Korea.
“Ada dua kamar, tapi, sebenarnya, aku lebih sering tidur di sofa.” Kawa melangkah masuk, menyeret koper juga, lalu meletakkannya di depan sebuah kamar. “Kuharap kamu nggak risih melihatku tidur di ruang tengah, ya.”
El tidak terlalu menanggapi ucapan Kawa, karena matanya kini tengah dimanjakan oleh pemandangan kota malam hari dari dinding kaca lantai 17 ini. “Kamu nggak takut?” tanya El, tiba-tiba. “Kamu tidur di ruang tengah dan kacanya selebar ini. Nggak takut lihat kuntilanak terbang malam-malam?”
Kawa tergelak, tidak bisa menyembunyikan tawanya. “Itu sempat terpikir olehku, sih” katanya, sambil meraih sebuah remot kecil lalu mengarahkannya ke dinding kaca. Dalam satu kali tekan, dinding itu memburam, lalu gelap.
Mulut El terbuka takjub, lalu mengatup dengan cepat. Kawa mencubit pipinya, kemudian bergerak ke arah lain. “Aku mandi dulu. Kamu mau makan apa?”
Heh? Memangnya boleh memilih, mau makan apa?
“Kamu nggak lupa aku jago masak, kan?” Kawa menyombong. Seketika, El ingat. Dulu, Kawa dan Sara dekat karena pria itu memasak di motel. Marun Motel tidak punya koki ataupun restoran, jadi, Kawa yang saat itu menginap, berinisiatif masak sendiri dan dengan cepat, aroma lezat yang tidak pernah ada, menyebar ke seluruh gedung.
“Kalau begitu, masaklah.” El menyengir, semringah dalam hati. “Aku ingin pinjam ini sebentar.” Gadis itu memegang remot, kemudian menjadi asyik memburamkam-menerangkan dinding kaca.
Puas main, El menyeret kopernya masuk ke kamar yang ditunjukkan Kawa. Tipe kamar utama yang luas. Apa benar kamar ini? Gadis itu keluar lagi, melongok, mencari Kawa untuk bertanya, tapi agaknya pria itu mandi. Jadi, El masuk, mencoba yakin tidak salah kamar karena tidak ada satu pun barang pria di sini.
Setelah mengeluarkan beberapa pakaian dari koper ke lemari, El berbaring, meluruskan punggung. Menguap, gadis itu memandang langit-langit yang tinggi. Apa Kawa sendirian di rumah senyaman ini? Dengar-dengar, orang tua Kawa pindah ke luar negeri. El berencana menanyakan kabar mereka saat makan malam nanti.
*
“El ke Jakarta? Kapan?”
Sayup-sayup, El mendengar percakapan dari luar pintu. Sadar namanya disebut, dia seketika bangun, berlari ke area dapur dan ruang makan, tempat Kawa memasak sambil bertelepon dengan pelantang suara di telinga.
“Oh, ya? Mungkin, HP-nya lowbat.” Kawa melirik El, senyum di wajahnya sulit diartikan. Ini semacam permainan rahasia, kan? El menyilangkan tangan di depan d**a, mengingatkan pria itu untuk tidak memberi tahukan keadaannya.
Beberapa kalimat Kawa ucapkan, lalu, telepon terputus. El yang sejak tadi menahan napas, sekarang bisa lega. “Apa katanya?” tanyanya, penasaran.
“Seperti yang kamu pikirkan–dia mencemaskanmu. Kalau HP-mu sudah nyala, teleponlah,” saran Kawa, sementara tangannya sibuk memotong-motong daging di atas talenan.
Kedua ujung bibir El melorot. “Aku harus bilang apa?”
“WA saja,” saran Kawa lagi. “Pesan teks lebih mudah.”
Setelah menanyakan makanan kesukaan El–dagingnya mau dibuat apa dan El membantu menyiapkan meja, keduanya makan bersama. El sedikit canggung dan kikuk, tapi, Kawa selalu bisa mencairkan suasana.
“Boleh aku yang cuci piring?” tanya El, menumpuk piringnya dan piring Kawa di tengah. “Biar perasaanku membaik.” Tempat tinggal dan makan gratis, bagaimana bisa El tidur dengan tenang jika tidak melakukan apa-apa?
Kawa tertawa. “Oke. Aku merokok dulu.”
Pria itu bergerak ke arah beranda, berlawanan arah dengan dinding kaca berpemandangan kota. El menyusul, begitu selesai mencuci piring. Anginnya sangat kencang di atas sini. “Serius, kamu nggak takut?” El merayap di dinding, memanjangkan lehernya melongok ke bawah. Penasaran, tapi takut.
“Kuntilanak lagi?” Kawa terkekeh.
“Bukan. Maksudku, ketinggian ini. Kamu nggak pernah terpikir untuk melompat dari sini, kan? Atau bisa saja, kamu terpeleset setelah hujan.” El bergidik sendiri, membayangkan.
Kawa menyipit, mengisap rokoknya, lalu memalingkan asapnya. “Kalau kubilang pernah, kamu percaya?”
Mulut El terbuka, lalu mengatup lagi. Seorang Kawa dengan segala privillege-nya pernah berpikir begitu?
“Semuanya nggak selalu mudah bagiku, El. Ada kalanya aku kesepian dan kesusahan. Tahu? Aku sedang rawat jalan di sebuah rumah sakit jiwa.”
El ingin bertanya kenapa, tapi, gadis itu malah mengepalkan tangan kuat-kuat, menahan semua penasarannya. Lebih nyaman menunggu Kawa yang cerita.
*
Matahari mulai naik, El baru bangun. Ketika El keluar kamar, Kawa tengah menyeruput kopi, duduk di ruang tengah, lalu di balik cangkir, alisnya terangkat menyapa El. Pria itu sudah berkemeja hitam, celananya panjang, tapi, tidak formal. Santai, tapi pantas. Dua kancing kemejanya terbuka, memamerkan kalung tali hitam tanpa bandul di d**a bidangnya. Sungguh mencerminkan orang yang bekerja di bidang kreatif.
Karena mengobrol sepanjang malam, El tahu, Kawa bukan cuma bekerja di agensi, tapi, juga memiliki rumah produksi sendiri, meski baru dua film yang dibuatnya. Dia sendiri yang memproduseri bahkan menyutradarai filmnya.
“Kamu sudah memikirkannya?” tembak Kawa, langsung menodong keputusan El.
El duduk. Gadis itu pun sudah mandi, meski tidak rapi-rapi amat. “Gapapa?” El bertanya balik.
Daripada pulang, Kawa lebih menyarankan El ikut bekerja bersamanya. “Meski PH kecil, tapi, cukup sering dapat proyek. Pokoknya, aku sanggup kok, bayar gaji kamu,” kata Kawa, semalam.
El takut menyusahkan Kawa. Sudah gitu, Kawa pun mengizinkan El menyewa kamar apartemennya per bulan. Meski awalnya, Kawa tidak setuju soal ‘menyewa’. Bagaimana pun, El adalah teman sekampung dan bisa saja, suatu hari, gadis itu jadi iparnya.
Bunyi tombol-tombol yang ditekan, terdengar dari arah pintu. El dan Kawa sama-sama menoleh, kemudian seorang wanita berjalan masuk.
“Bebe!” panggil wanita itu, meninggalkan sepatu hak tinggi di foyer, berlari ke arah Kawa dan belum menyadari keberadaan El. Ketika kedua pasang mata wanita itu bertemu, barulah El mengangguk takzim, menyapa.
Seorang wanita yang tahu kata sandi apartemen Kawa. Memanggilnya Bebe–panggilan sayang. Juga, pakaiannya … oh, tidak, bahkan, sebagai perempuan, El malu melihatnya. Belahan blusnya terlalu rendah untuk dadanya yang XXL. Apa Kawa mengkhianati Sara?