Sepanjang perjalanan menuju Pilar Film–rumah produksi milik Kawa, tiada pembicaraan barang sepatah kata pun di antara mereka, di bawah atap mobil. Wanita berdada XXL pun terkejut oleh keberadaan El di apartemen Kawa, tapi, akhirnya, dia bisa pergi dengan tenang setelah Kawa memperkenalkan El sebagai adiknya. Katanya, wanita berdada besar biasanya otaknya kosong. El baru percaya setelah melihat sendiri.
“Perempuan tadi–”
“Kita mau ke rumah produksimu atau kantor agensi yang kemarin?” pungkas El, dengan sedikit kesal. Tentu saja, siapa yang tidak kesal jika dikhianati? Meskipun tidak melukai El secara langsung, tapi, Kawa sudah mengkhianati Sara. dan, entah mengapa … mengetahui Kawa menyukai wanita ‘seperti itu’, membuat El sedikit kecewa. Apa karena d**a Sara tidak sebesar itu?
Kawa menjawab El dengan dengkus napas, terasa sekali atmosfer aneh di mobil ini. Sebentar, kedua berdiam, lalu ketika kemacetan menjebak mereka, membuat waktu terasa lebih lama, Kawa berkata lagi, “Aku kesepian, El. Sudah kubilang, hidupku tidak mudah. Aku butuh kasih sayang, tapi, Sara tidak mau ikut bersamaku.”
El tergelak, lebih kepada tidak percaya. Sosok Kawa yang sangat sempurna di dalam benak El, kini tercederai. Kasih sayang, katanya? Bukannya seks?
Seorang bocah tanggung mengelap kaca mobil Kawa dengan kemoceng. Seperti ingin menunjukkan sifat aslinya, Kawa menekan klakson, lalu mengebut, menginjak gas, menerabas lampu merah.
El mendelik kesal, tapi, dia tidak ingin meributkan soal ini. Ketika Kawa semakin menggila, menyalip mobil-mobil lain, El cuma bisa mengeraskan rahang tanpa berkata.
Setelah semua kegilaan, Kawa menginjak rem mendadak. El sampai maju-terdorong dengan kencang hingga tengkuknya terasa sakit. “Hei!”, bentak El, tak tahan lagi. “Kamu gila, ya?”
“AKU SUKA KAMU, El!” teriak Kawa, tiba-tiba. “SEJAK DULU, YANG KUSUKA ITU KAMU, BUKAN SARA!”
Mata El membulat, bolanya bergerak-gerak cepat, menatap Kawa seolah sudah gila.
“Aku sudah memendamnya terlalu lama,” jelas Kawa, lirih, menatap mata El yang mulai merah dan berkaca-kaca. “Aku pacaran sama Sara karena ingin dekat sama kamu. Sejak awal, aku nggak pernah cinta sama kakakmu itu, jadi, sumpah, aku merasa nggak bersalah sama sekali waktu pacaran sama Joya.”
Sebutir air mata El menetes. Dengan bibir gemetar, dia mengumpat Kawa. “b******n,” desisnya, merapatkan rahang.
El tak mengedip sedikit pun, sementara Kawa coba menatapnya lembut. Pria itu meraih tangan El, membelai lembut. “Aku bisa putusin Joya sekarang, El. Asal kamu mau terima aku.”
PLAK! Satu tamparan mendarat di pipi Kawa. b******n, dia ini! Tidak bisa dibiarkan!
El berusaha melepaskan genggaman tangan Kawa, tapi, bagaimana pun, tenaga pria lebih kuat. Bahkan, ketika El mengangkat tangan untuk menamparnya lagi, Kawa menangkap tangan itu, lalu mendorong tubuh El hingga terpojok di sandaran punggung, menciumnya paksa.
El meronta, tapi, ini gila. El berdebar. Seluruh tubuhnya kaku, tapi, dadanya terasa panas.
Ciuman dengan Kawa.
Ini terjadi juga.
Perlahan, kekakuan tubuh El mengendur. Bibir Kawa yang mengulum bibirnya, dibalasnya perlahan. Sadar mendapat respons, sebentar, Kawa memberi jeda untuk menatap El. Napas gadis itu telah memburu, matanya redup, menginginkannya lagi.
Kawa memberinya lagi dan lagi. Tangan El kini telah melingkar di pundaknya dan dia membiarkan Kawa menyentuh pinggangnya.
Asal tahu saja, El pun menyukai Kawa sejak dulu. Setelah tahu cintanya terbalas, setelah tahu rasanya ciuman ini sangat nikmat, El tidak peduli apa pun lagi.
*
“Oke, guys,”-Kawa bertepuk tangan sebagai instruksi agar semua karyawannya berkumpul-”kenalkan, ini Elora Eirene–penulis baru kita.”
Sekitar sembilan orang di sana–laki-laki dan perempuan, berhamburan dari kubikel-kubikel, balas bertepuk tangan, bahkan ada yang bersorak, menyambut El. Pipi El bersemu merah, dia menutup mulutnya dengan tangan demi menyembunyikan salting.
Kawa tersenyum padanya, karena suasana menyenangkan ini dan karena ciuman tadi. Pria itu berdebar, melihat El secantik itu dan sebahagia sekarang. Setelah sorak-sorai mereda, El berdeham, menyusun respons dalam kepala, lantas berkata, “Mohon bantuannya, teman-teman.” Dia membungkuk sekilas, hingga semua rambutnya terurai ke depan.
Seorang staf pria mengangkat telapak tangan sebagai interupsi, lalu bertanya, “Kita manggilnya apa, nih? Mbak atau Teteh?”
Tawa pecah seketika, karena cara bicara staf itu terdengar ganjen. El juga tertawa, lalu menjawab, “Panggil El saja. Iren juga boleh.”
“Nggak boleh ‘Teteh’?” tanya staf itu lagi.
El tertawa, semua staf pun. Lalu kerumunan itu dibubarkan oleh tepuk tangan Kawa lagi. “Ayo, ayo, kerja, kerja. Festival Film Cannes menunggu kita, Guys!”
Selepas semua orang kembali ke kubikel masing-masing, Kawa berdiri di hadapan El, menghalangi pandangan mereka dengan tubuhnya, lalu diam-diam, meraih tangan gadis itu. Saling lempar senyum dan tatapan malu-malu. “Kamu mau ruangan atau cukup kubikel saja?”
“Seruangan sama kamu, boleh?” El menggigit bibir, menggoda, langsung membuat Kawa tersenyum lebar. Dicubitnya hidung mungil itu, sampai berbekas merah.
*
Berbulan-bulan, hingga setahun berlalu, El dan Kawa menyembunyikan hubungan mereka dari Sara. El tidak jadi pulang. Untuk apa? Ada Kawa dan pekerjaan barunya di sini.
El bahkan … telah menyerahkan semuanya untuk Kawa. Semuanya. Kamar utama di apartemen Kawa pun kini menjadi saksi malam-malam menggairahkan mereka. Seperti candu, Kawa dan El sering melakukannya, termasuk di kantor.
Pesona Kawa telah mengubah El menjadi sosok yang penuh gairah, sekaligus egois. Meski hubungannya sudah sejauh itu, El ingin Kawa tetap mempertahankan hubungannya dengan Sara, hanya agar El merasa lebih baik.
Dari segi karir, Pilar Film pun berkembang pesat. Dua film layar lebar dengan rating tertinggi yang digarap hanya dalam waktu satu tahun bukanlah pencapaian sepele. El dan isi kepalanya mengubah banyak hal, dibantu dengan tim terkait. Kawa dan kepemimpinannya pun patut diapresiasi.
Suatu malam sehabis bercinta di sofa ruang tengah, El merasa malas untuk bangun membersihkan diri atau sekadar pindah ke kamar. Kawa membungkus tubuh itu dengan selimut lalu menggendongnya ke kamar, membuat El meronta kegelian.
Diletakkannya tubuh indah itu ke ranjang, lalu sebelum beranjak pergi, Kawa sempat mencium keningnya, mengucapkan selamat tidur.
“Tidurlah, aku mau merokok dulu.”
El tersenyum, terus menatap lelakinya saat memadamkan lampu, mengatur suhu ruangan lalu keluar. Sebelum bergelung di dalam selimut, El tersenyum kepada langit-langit, mengira semua kebahagiaan ini akan kekal.
El tidak tahu, selagi dirinya lelap, Kawa masuk, memandanginya sebentar, lalu berbisik, “Maafkan aku, El.”
Keputusan Kawa malam itu, tidak langsung berdampak pada kehidupan El pada besok paginya, melainkan, pada berbulan-bulan setelahnya. Selama itu, El tidak tahu, ada retak di antara mereka yang semakin melebar, ada kepercayaan yang kian terkikis. Wanita itu tidak tahu, Kawa tidak mencintainya sebesar itu.