Karma?

1085 Words
Ketika El bangun, ada hawa berbeda menyelimuti udara apartemen Kawa. Seperti sepi dan terlalu lengang. Jadi, dia turun dari ranjang, mengenakan asal-asalan jubah mandi yang diambilnya dari stand hanger, lalu keluar kamar. Wanita itu memanjangkan leher, mencari-cari keberadaan Kawa. Jika biasanya pukul segini Kawa sedang memasak sarapan, kini, dapurnya lengang. Ruangan kerja pria itu pun kosong. Sebentar, El menyentuh meja untuk menyadari sesuatu: laptop Kawa yang biasa ditaruh di sana, sekarang tidak ada. Kawa tidak pernah sekalipun bawa laptop itu ke kantor atau pun ke Pilar. Semua data pekerjaan selalu disimpannya dalam penyimpanan awan, jadi, Kawa tidak perlu repot-repot mengganti laptop setiap ingin mengerjakan sesuatu. Keluar dari ruang kerja, El duduk dan berpikir di ruang tengah. Apa Kawa ada rapat atau pekerjaan mendadak? Sangat darurat, hingga tidak bisa mengabarinya dulu? Mencoba berpikir positif, El menjalani akhir pekan seperti biasa, kemudian ketika sore tiba dan tak terdengar satu pun kabar dari Kawa, El memutuskan untuk mendatangi Pilar. Sayang, tak ada seorang pun di sana, kecuali seorang staf kebersihan. Melihat El di kantor, staf kebersihan itu kebingungan. “Mbak kok masih di sini? Nggak ikut premier?” “Premier? Premier apa?” El balik bertanya, dengan kerutan di dahi. “Loh?” Staff itu garuk-garuk kepala. “Bukannya ada film baru, ya? Semua orang tadi kumpul di sini, terus pergi. Mau nonton premier, katanya. Saya dikasih tiketnya, nih.” Wanita gempal itu merogoh saku lalu menunjukkannya pada El. El membaca tiket itu, dari judulnya, dia merasa ada yang aneh. Selama bekerja, tidak ada satu pun proyek yang membahas ini. Kepalanya pusing, tiba-tiba. Namun, El berusaha tetap sadar dan membaca bioskop yang menayangkan film itu secara perdana. “Mbak, saya beli tiket ini, ya?” El merogoh tas bahu, mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet. “Nggak usah, Mbak, bawa saja. Saya nggak suka non–” Belum selesai ucapan staf itu, El sudah melesat pergi. Dirinya harus mencari tahu, film apa ini sebenarnya? Mengapa cuma El yang tidak tahu? * Turun dari taksi online, El berdiri memandang gedung mal di depannya dengan penuh tekad. Wanita itu menyempatkan diri mengikat rambut, memakai masker–tidak ingin ketahuan hingga dirinya yakin, film apa yang disembunyikan Kawa darinya. Selain itu, tidak mungkin Kawa mengerjakan film ini sendirian. Pria itu dan staf lainnya telah bersekongkol. Pasti. Ketika El sampai di lobi bioskop, kerumunan penggemar sudah terjadi. El menuju lorong yang lebih sepi dan menemukan poster film Perempuan Lain dalam Selarut Teh, di sana. Film garapan Kawa. Ide cerita yang sangat dikenalnya. Judulnya bahkan sama. El melepas masker karena merasa sesak, mengeluarkan pisau lipat dan menggenggamnya dengan tangan gemetar. Ketika pengumuman pemutaran film mengudara, El menuju studio premier, menunjukkan tiket pada penjaga, lalu bergegas masuk. Dia beruntung, karena kursinya di atas. El melihat Kawa bersama jajaran tim produksi dan para artis di barisan ketiga dari bawah. Kawa tidak sadar El melewatinya, berjalan menaiki tangga menuju barisan C. Hampir setengah jam berlalu, El tahu ini film romansa, pemerannya adalah Anya Geraldine, Putri Marino dan Omar Daniel. Omar Daniel mengatakan dialognya, “Kita bisa memperbaikinya, Senja. Banyak pria yang menjalani vasektomi, tapi kemudian berubah pikiran. Mereka bisa punya anak.” “Bukan vasektomi masalahnya!” bentak Senja, tokoh wanita yang diperankan oleh Anya Geraldine. “Masalahnya adalah, aku! Aku tidak akan diterima oleh ayahmu, SELAMANYA!” Tertegun, El meneguk ludah sendiri. Dialog yang familiar. Tidak asing. Seperti … miliknya. Seiring berjalannya alur cerita, seperti penonton lainnya, El menitikkan air mata. Bukan karena sedih, melainkan sakit hatinya. Ini naskahnya. Film ini menggunakan skenarionya. Sekitar tiga-empat bulan setelah bergabung dengan Pilar, El merampungkan naskah itu dan menunjukkannya pada Kawa, tapi, pria itu menolaknya, mengatakan skenario itu tidak memiliki potensi. Akan tetapi, apa ini? Tahu-tahu jadi layar lebar. Tambah-tambah, ketika credit tittle muncul di akhir cerita, nama penulis skenario bukanlah Elora Eirene–apalagi Serena Sara, seperti janjinya pada Sara, melainkan Kawa Mahendra Mahardika. Rumah produksi? Tentu saja, Pilar Film. Apa maksudnya? Ini kejutan? Sebentar lagi akan ada yang datang bawa kue dan menyanyikan lagu ulang tahun untuknya? Tidak. Ini akhir tahun, sedangkan ulang tahunnya bulan September. El menahan semuanya, hingga testimoni para artis, bahkan sampai sesi tanya jawab. Ketika ada yang bertanya, dari mana Kawa mendapat ide cerita film, pria itu menjawab, “Dari seseorang di kampung halamanku. Aku tidak bisa melupakannya, meski sudah dapat yang baru.” Pecah tawa seisi studio, tapi, juga air mata yang ditahan El. Tangisnya berderai-derai, karena pengkhianatan itu, juga karena Kawa berbohong soal inspirasi itu. Itu adalah idenya, bagaimana b******n itu mengakuinya? ‘Seseorang di kampung halaman’, maksudnya, Sara? Katanya, dulu, dirinya yang dicintai Kawa, bukan Sara. Sekarang, pria itu mengatakan sebaliknya. Mana yang benar? Aku atau Sara? Sakitnya dikhianati tidak sesakit naskahnya dicuri. Adegan, dialog, alur, bahkan nama tokoh, semuanya plek-ketiplek dengan naskah miliknya. Maka, ketika MC bertanya siapa penanya berikutnya, El berdiri dan mengangkat tangan. Seorang staf memberinya mikrofon. Matanya lurus memandang Kawa yang mengerutkan alis, mungkin merasa mengenali El. Benar saja, setelah El melepas masker, menunjukkan wajah, Kawa berubah pucat. Staf Pilar Film yang duduk di barisan tengah pun mengenalinya, dan sama terkejutnya. Kawa terlihat memberi isyarat pada mereka untuk mencegah El bicara, entah dengan merebut mikrofon atau menyeretnya pergi. Namun, permainan telah berakhir, Kawa…. “Saya ingin bertanya pada Mas Kawa. Bagaimana rasanya mencuri naskah seseorang? Menegangkan? Memacu adrenalin?” Kepanikan menyelubungi bagai kabut tipis yang meliuk-liuk di antara semua orang dalam studio, pelan, tapi, pasti. Dua staf Pilar Film mulai naik untuk menangkap El, tapi, El masih punya waktu, setidaknya, untuk menatap lurus ke arah Kawa dan mengatakan ini: “Filmnya bagus. Kamu memang ayah yang hebat. Iya kan, Nak?” kata El, seraya mengusap dan berbicara dengan perutnya sendiri. Kasak-kusuk pecah menjadi dengung-dengung yang berisik di telinga. Kawa menatapnya marah, tangannya gemetar. Dua staf Pilar menarik tubuh El, berbisik padanya untuk tidak membuat keributan. Namun, masih punya harga diri, El pergi sendiri. “Lepas,” perintahnya, pada seorang yang mencengkeram lengannya. “Bilang produsermu itu, untuk cari penulis baru. Aku keluar.” El pergi. Namun, baru beberapa langkah, dia berhenti karena menatap seseorang yang harusnya tidak berada di sana. Sosok itu berdiri tidak jauh darinya. Meskipun lama tidak bertemu, tapi, dia tidak mungkin melupakan rupa kakaknya. Sara. Dia menyaksikan semuanya, termasuk soal kehamilan itu. “Mb-mbak?” desis El, terbata. Dia menengok pada Kawa untuk meminta penjelasan, tapi, rupanya, pria itu sama terkejutnya. Ketika El melihat Sara lagi, kedua mata kakaknya itu sudah merah. Sebelum air matanya jatuh, Sara berbalik pergi, menyela kerumunan lobi bioskop. El mengejar, tapi, sia-sia. Sara lesap bagai asap
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD