Rencana Perjodohan

1217 Words
JB Building Tower, Jakarta Pusat, Malam Sebelum Premier “Ada lagi yang mau dipesan?” Seorang pelayan perempuan bertanya, dengan tablet keluaran terbaru di tangannya. Baik Orion Baskara maupun Naomi Moon, menggeleng, merasa cukup atas pesanan mereka untuk makan malam ini. Maka, setelah ragu dan menggigit bibir, pelayan itu akhirnya memberanikan diri. “Boleh minta foto?” “Boleh, dong.” Naomi menyisir rambut dengan tangan, merapikan roknya. Namun, pelayan itu meringis, berkata lagi, “B-bukan, Mbak. Maksud saya…” Pelayan itu menatap Bas, tak berani melanjutkan kalimatnya. Bas segera memecah kecanggungan, meraih ponsel yang dikeluarkan pelayan itu dari sakunya, siap mengambil foto. Aktor berusia 24 tahun itu bahkan merangkul sang pelayan dan tersenyum lebar. Tertangkap kamera, wajah merah pelayan itu, yang tak bisa disembunyikan lagi. “Sudah?” tanya Diah, Mama Bas, yang sejak tadi jengah, merasa terganggu oleh pelayan itu. Biasanya, Diah sangat ramah demi menjaga citra politiknya, tapi, malam ini, perasaannya benar-benar sedang buruk. “Kalau sudah, bisa tolong pergi? Biarkan kami makan malam dengan tenang.” “B-baik, Ibu Ratu.” Diah mengangkat dagu, hidungnya kembang-kempis. Ibu Ratu adalah julukannya sebagai aktris senior yang telah menyabet berbagai penghargaan. Setelah berkecimpung di dunia politik, julukan itu kian melekat padanya. Ratu yang sangat dielu-elukan. “Kenapa sih, Ma? Makanannya juga belum datang,” protes Bas, setelah pelayan itu membungkuk berkali-kali lalu pergi. Diah memasang senyum semanis madu, tangannya meraih telapak tangan Bas. “Apa Mama salah? Mama cuma ingin tenang menghabiskan waktu bersama anak Mama yang baru pulang dari Swiss,”-Diah menatap Naomi penuh makna-”juga sama calon menantu Mama.” Senyum Naomi amat manis, pudar sudah semua kekesalannya karena pelayan tadi. Bisa-bisanya pelayan rendahan sepertinya meremehkan Naomi Moon? Seorang influencer terkenal, anak artis dan pejabat ternama, Bambang Tri Sinar yang sebentar lagi akan menjadi menantu seorang Nadiah Juliana. Wajah Bas berkedut risih, pelan, dia menyingkirkan tangan Diah di atas tangannya. “Aku masih jet lag, ma. Kayaknya, aku nggak bisa ikut makan,” jelasnya, beralasan. Diah mendengkus keras, tahu anaknya akan mengalihkan pembicaraan. Padahal, itulah tujuan dirinya mempertemukan Bas dengan Naomi, untuk membicarakan soal rencana perjodohan mereka. “Aku pamit, ya. Pesananku batalin aja, atau buat siapa, kek.” Bas berdiri, ingin cepat-cepat melarikan diri dari sini. “Duduk,” perintah Diah, dengan suara berat tak bisa dibantah. Atmosfer berubah menjadi tegang. Naomi bahkan meluruskan punggung, berdeham kecil. “Besok aku ada undangan premier film, Ma. Sudah lama aku nggak muncul di publik, Mama nggak mau aku kelihatan berantakan, kan? Aku mau istirahat malam ini.” “Ah, filmnya Kawa, kan? Dengar-dengar, biaya produksinya mencapai puluhan miliar, lho,” timpal Naomi, merasa mendapat kesempatan bicara. Bas meringis, merasa basa-basi Naomi payah sekali. Meski sudah kenal cukup lama, lebih tepatnya tiga tahun lalu sejak Diah memutuskan untuk terjun ke dunia politik, Bas tidak pernah bisa akrab dengan Naomi. Apa, ya, namanya? Tidak sefrekuensi? Dan Naomi bukanlah siapa-siapa tanpa nama besar ayahnya. Dia cuma selebgram tanpa prestasi yang suka memamerkan gaya hidupnya yang hedon dan kebetulan saja orang-orang menyukainya. Padahal, kalau dipikir-pikir, pejabat dan gaya hidup mewah harusnya menjadi red flag, kan? Bukannya yang disukai sekarang adalah pejabat rendah hati yang suka membantu rakyat kecil? “Baik, terserah kamu.” Diah akhirnya menyerah soal makan malam ini, tapi, tidak dengan rencana perjodohannya. “Mama sebenarnya cuma mau bilang, bulan depan, kamu sudah harus bertunangan dengan Naomi.” “Ma….” “Kamu tidak masalah kita tidak jadi makan kan, Nom?” Diah mengabaikan Bas, lalu berdiri, mengulurkan tangan kepada calon menantunya itu, mengajak pergi. “Ayo, kita makan di GI saja, sekalian belanja tas.” Naomi mengangguk, menyambar tangan Diah, tampak sangat bersemangat. Matanya sempat melirik Bas yang melorot kuyu di bangkunya, tapi, dia tidak perlu mencemaskan apa pun selama Diah berada di pihaknya. Sepeninggal kedua wanita itu, pesanan datang. Bas menatap makan malamnya yang mewah itu, tak berselera. Dia mengeluarkan ponsel dari saku, menelepon Kamal, manajer sekaligus sahabatnya. “Mal, lo udah makan? Temanin gue, sini. Iya, naik aja.” * “Lo tahu? BB gue naik sepuluh kilo semenjak ikut sama lo.” Kamal mengeluh, tapi tetap mengunyah steik di mulutnya, merasakan lumer daging waigyu berpadu bumbu dan rempah yang menggoyang lidahnya. Bas tertawa, juga lahap menikmati makan malamnya. “Bersyukurlah karena gue nggak bisa makan sendiri, semenjak kejadian itu. Gaji lo utuh kan, karena selalu makan sama gue?” Kamal tertawa, tak bisa memungkiri itu. Sebentar, dia menatap Bas, seperti seorang ibu melihat anaknya yang sedang makan. Bas itu kasihan, sebenarnya. Jalannya sebagai figur publik tidak selalu mulus, tapi beruntung, Kamal selalu berada di sisinya. “Mal, lo ingat, bokap gue punya vila di Jawa Timur?” bahas Bas, tiba-tiba. Kamal hanya mengangguk-angguk, karena mulutnya penuh. Setelah menelan makanannya, pria berkacamata itu balik bertanya, “Kenapa tiba-tiba omongin itu?” “Gue pengen kabur ke sana. Nyokap gue makin gila, masa, bulan depan gue harus tunangan sama Naomi?” “Uhuk!” Kamal tersedak, batuk-batuk. Tak menunggu Kamal selesai meneguk air, Bas berkata lagi, “Ini baru rencana, sih. Maksudnya, kalau gue nggak punya pilihan lain, ya, terpaksa gue ke sana. Gimana menurut lo?” Susah payah Kamal membersihkan tenggorokannya, kini, dia dihadapkan ide gila Bastian. “Lo yakin? Di sana terpencil banget. Lo yakin bisa hidup di sana?” “Kenapa nggak?” Bas tersinggung. “Lo meremehkan gue? Heh, asal lo tahu. Gue udah pernah tinggal di desa.” Kamal terkekeh. “Iya, desa. Desa di dekat pegunungan Alpen, kan? Orang gila!” Bas tertawa, tapi, dia tidak sepenuhnya salah kan? Memang sebuah desa, kok. Hanya saja, letaknya di Swiss. Kamal menaikkan kacamata di tangkai hidung, bertanya dengan hati-hati.“Besok lo datang ke premier-nya Kawa?” “Datang. Kenapa nggak? Gue diundang, masa harus ngumpet?” “Serius, gue penasaran kenapa dia ngundang lo.” Bas mengangkat bahu, mencebikkan bibir. “Mungkin, dia kangen sama gue?” “Najis!” * Hari Premier Sambutan baik diterima Bas saat dirinya–akhirnya–muncul di gedung bioskop. Awak media hingga para fans mengerubunginya, meminta foto bersama dan wawancara singkat. Tentunya, tak sedikit di antara mereka yang penasaran akan kehadiran Orion Baskara pada premier film musuh bebuyutannya, Kawa. “Bagaimana menurut Anda tentang film ini?” “Apa hubungan Anda dan Kawa membaik?” “Kabarnya, Anda akan bergabung dengan proyek film selanjutnya, apakah benar?” Bas terdiam, karena pertanyaan barusan. Dirinya? Bermain di film garapan Kawa? Jika ingin, dia sudah bergabung sejak dulu karena Kawa sangat tertarik dengan kehidupan pribadi Bastian sebagai seorang aktor, juga sebagai anak dari seleb senior dan politikus. “Kita tidak tahu bagaimana ke depannya, ya. Tapi, sejauh ini, belum ada pembicaraan ke sana. Saya datang karena diundang–itu saja,” respons Bas, mencoba untuk bijak. Ketika sebuah pertanyaan mengarah pada Naomi, Bas undur diri. Kamal membawanya pergi, menjauhi kerumunan, berdua mereka di dekat toilet wanita. Di sanalah, Bas melihat seorang wanita berdiri mematung dengan tangan gemetar dan wajah memerah. Dia menangis? Atau marah? Rupanya, wanita berambut panjang itu memandang poster film yang diluncurkan perdana hari ini–film garapan Kawa. Tanpa tedeng aling-aling, wanita itu menyayat poster dengan pisau di tangannya, hingga merusak seluruhnya. Sesuatu jatuh dari wanita itu. Bas memungutnya, sebuah saputangan warna biru laut berbahan linen. Bas ingin memberikannya, tapi, wanita itu keburu pergi melewatinya, bergabung dengan keramaian, menuju studio premier.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD