Hari ini adalah hari ulangtahun pernikahan Frans dan Nana, namun ada berita tentang kecelakaan yang terjadi di salah satu gedung hotel yang sudah rampung. Frans mengamuk sejadi-jadinya pada kontraktor pembangunan gedung tersebut.
Setelah marah-marah di telepon, Frans memutus sambungan teleponnya, “Sialan!”
Tok! Tok!
Suara ketukan pada kaca itu membuat Frans langsung menoleh ke belakang dan mendapati Nana tengah berdiri di balik pintu balkon. Frans tersenyum memaksa dan menghampiri pintu tersebut sebelum menggesernya terbuka.
“Frans.. Apa.. terjadi sesuatu?” Tanya Nana ragu saat melihat wajah suaminya yang nampak mengeras.
Frans menghela panjang seraya menatap Nana dengan raut bersalah, “Nana.. aku benar-benar minta maaf. Sepertinya aku harus menunda keberangkatan kita ke Jepang. Ada masalah terjadi di proyek. Aku akan terbang ke sana besok pagi.”
“Be.. benarkah?” Tanya Nana tanpa bisa menutupi nada kecewanya.
“Aku benar-benar minta maaf, Na. Aku hanya akan berada di sana selama satu atau dua hari saja. Setelah itu, aku akan kembali ke sini dan kita berangkat ke Jepang. Itu tidak akan lama karena aku menggunakan jet pribadi. Siang ini aku juga akan mengurus beberapa hal penting di kantor.” Jelas Frans dengan memegang kedua tangan Nana dan mengusapnya pelan dengan wajah sendu.
Nana mengatupkan bibirnya sedetik seraya menarik napas panjang. Kemudian ia tersenyum tipis dan mengangguk seraya mengangkat pandangannya pada Frans, “Baiklah. Itu tidak masalah, Frans. Tapi apakah makan malam kita juga akan dibatalkan?”
Frans menggeleng, “Tentu saja tidak. Hari ini adalah tanggal ulangtahunnya. Makan malam romantis adalah sebuah kewajiban.” Ia tersenyum tipis lalu membelai rambut yang membingkai wajah istrinya, “Aku benar-benar minta maaf, Na. Aku berjanji akan menebus ini semua.”
Nana tertawa kecil, “Itu tidak perlu, Frans. Tidak ada yang dapat memprediksi kecelakaan. Itu tidak disengaja. Lagipula liburannya hanya diudur saja, kan, bukannya tidak jadi sama sekali? Kita akan bersenang-senang nanti. Aku rindu melihat salju lagi.”
Senyum Frans masih nampak penuh dengan perasaan bersalah. Namun ia merasa lega karena Nana mau mengerti. “Terima kasih banyak, Na. Aku berjanji akan membuat liburan kita nanti sangat bermakna untukmu. Kita juga akan mengunjungi Nyonya Hanabi.”
“Benarkah?!” Kedua alis Nana terangkat tinggi. “Frans! Itu lebih dari tebusan! Trimakasih!” ucapnya seraya memeluk suaminya.
***
Frans masuk ke dalam ruang kantornya. Di sana, Sofia sudah menunggu. Mereka langsung menyiapkan semua berkas dan menyelesaikan pekerjaan dadakan untuk dibawa ke Dubai besok.
“Saya sedang meminta orang-orang kita untuk mencari tahu apa yang salah di sana. Namun mereka masih belum mendapatkan hasil. Asumsi saya, mereka kesulitan berbicara dengan kepala kontraktor karena posisi mereka hanyalah pegawai.” Jelas Sofia.
“Jam berapa besok kita berangkat?” Tanya Frans.
“Jam sepuluh siang, Pak.” Jawab Sofia langsung.
Frans melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul enam sore. “Cepat bereskan semua berkasnya. Aku sudah harus keluar dari sini jam tujuh. Aku sudah memesan restoran jam sembilan.”
Sofia mengangguk, “Baik, Pak.” Kemudian ia melangkah keluar dari ruangan Frans dengan senyum tipis.
Kecelakaan itu bukanlah sebuah kecelakaan biasa. Itu adalah sebuah kesengajaan yang Sofia buat dengan cara membayar beberapa orang di sana untuk mengacau. Ini semua adalah bagian dari rencananya.
“Kalian bisa pulang karena aku akan lembur lagi dengan Pak Frans.” Ucap Sofia pada semua rekan sekertarisnya.
“Bukankah kalian sedang terburu-buru?” Tanya Denny.
Sofia mengangguk. “Karena itu, Pak Frans meminta agar aku saja yang mengerjakan semuanya karena kalian hanya akan memperlambat pekerjaanku.”
Para pria itu saling melirik lalu memasang wajah geram. Namun karena bisa pulang sesuai jam kerja adalah barita yang bagus, mereka tidak protes dan langsung menurut.
Saat semuanya sudah pulang, Sofia segera menyiapkan kopi untuk Frans. Namun, ia membubuhkan sekantung pelastik kecil bubuk putih ke dalamnya.
***
Pintu ruangan Frans diketuk dua kali, disusul dengan suara langkah sepatu hak yang semakin mendekat. Frans tidak mengubah fokusnya. Ia tetap sibuk dengan komputernya untuk mengerjakan pekerjaannya. Kaca jendela besar di belakangnya sudah tidak memberikan cahaya lagi. Itu menandakan bahwa langit sudah menggelap dan ia harus segera pergi.
“Pak, saya membawakan kopi.” Ucap Sofia dengan meletakkan cangkir di atas meja Frans.
“Hm,” Jawab Frans tanpa meliriknya sama sekali.
“Mungkin anda bisa meminumnya sedikit agar bisa lebih fokus, Pak. Pekerjaan saya sudah selesai dan saya bisa membantu sisanya.” Ucap Sofia.
“Oh, benarkah? Kalau begitu kerjakan yang ini,” Frans menunjuk sebuah map pelastik yang terletak di sisi mejanya. Ia melirik gelas kopi yang baru saja Sofia letakkan dan segera mengambil itu untuk meneguk isinya.
“Baik, Pak. Saya akan memeriksanya sebentar di sana,” Sofia menunjuk sofa panjang yang berada di dekat meja Frans.
Kopi memang sangat efektif dalam menjaga fokus Frans, apalagi di tengah kesibukan yang padat. Setelah meneguk setengah isi cangkir tersebut, Frans kembali pada layar komputernya. Namun selang satu menit kemudian, ia merasakan kepalanya agak berputar.
Frans mengerjapkan matanya dengan kening mengkerut. Ia merasakan kulitnya menjadi dingin dan tubuhnya sangat ringan. Perlahan, pandangannya menjadi agak kabur dan telinganya berdengung. Frans mulai mendengar suara-suara dan pikirannya menjadi kacau.
Di sofa, Sofia memperhatikan Frans yang sudah terlihat kehilangan kewarasannya. Itu adalah obat yang membuat seseorang berhalusinasi parah. Seharusnya obat itu hanya diijinkan digunakan oleh kalangan medis dengan syarat ketat. Namun Sofia bisa mendapatkannya secara illegal.
Setelah merasa pikiran Frans sudah terlihat sangat terpengaruh oleh obatnya, Sofia bangkit dari duduknya untuk menghampiri meja kerja Frans.
“Kau…” Frans bergumam dan menatap Sofia dengan kening mengkerut.
Sofia tersenyum pada Frans dan menyentuh pipi pria itu lembut, “Ya, sayang?”
“Nana.. kenapa.. kau.. ada di sini?” Tanya Frans.
Tangan Sofia mengepal karena mendengar malah nama Nana yang keluar dari mulut pria itu. Ia tersenyum tipis dengan tangan meraih sebuah pelastik obat kecil dari dalam kantung kemejanya. “Sebentar lagi nama Nana akan menghilang dan digantikan dengan Sofia. Kau menginginkan anak, ‘kan, Frans? Aku akan memberikannya untukmu. Aku akan menggantikan posisi istri bodohmu itu,” gumamnya seraya menuangkan serbuk tersebut ke dalam gelas air putih Frans.
Kemudian Sofia memberikan gelas itu pada bosnya. “Kau benar, Frans. Aku adalah Nana. Kau terlihat haus. Minumlah dulu,”
“Nana?” Gumam Frans dengan menerima gelas itu dan meneguk isinya yang hanya setengah hingga habis. Setelah itu, ia meletakkan gelasnya di atas meja dengan kekuatan yang tidak terkendali. Ia menatap wanita di depannya dan tersenyum. “Kau cantik sekali malam ini. Apakah karena ini... hari ulangtahun pernikahan kita?”
Sofia mengangguk. “Aku berdandan secantik ini hanya untukmu, sayang,” jawabnya sebelum mendaratkan ciumannya di bibir Frans.
Dengan kecepatan signifikan, Frans yang sedang berhalusinasi mulai merasakan gejolak di inti tubuhnya. Ia merasakan isi perutnya seakan terbakar dan degub jantungnya berpacu cepat. Kedua tangannya dengan cepat bergerak mencengkram tubuh Sofia yang sudah berada di atas pangkuannya.
Sofia langsung memekik kecil saat merasakan cengkraman ganas itu. Namun ia segera tersenyum dan bergumam. “Obat perangsangnya sudah bekerja. Saatnya bersenang-senang,”
***
Jari jempol dengan kuku bercat warna coklat muda itu menyentuh tombol ‘kirim’ pada ponsel yang bukan miliknya. Ia baru saja mengirim pesan kepada istri sah atasannya menggunakan ponsel atasannya sendiri.
“Hei... Nana... Jangan bermain ponsel saat kita sedang sibuk,”
“AH!” Sofia memekik senang saat pinggulnya ditarik lebih tinggi. “Frans...” gumamnya dengan menatap pria bertubuh kekar berbalut tato yang bertengger di atasnya.
Pakaian mereka sudah berserakan di lantai hingga meninggalkan keduanya sepolos mungkin di atas sofa panjang di depan meja kerja Frans. Sofia melenguh keras saat Frans mempermainkannya lagi.
Ini baru saja beberapa menit, namun keringat sudah membasahi kening Sofia. Frans memang adalah monster, namun Sofia sangat mengaguminya.
Sofia melingkarkan kedua kakinya di pinggang Frans dan menjerit-jerit saat pria itu menari di atasnya. Namun sebuah cahaya kekuningan membuat fokus Sofia agak teralihkan. Ia segera menoleh pada pembatas ruangan dan mendapati sepasang mata besar tengah menatapnya dengan lilin menyala di bawahnya.
Itu adalah Nana. Sofia sangat terkejut mendapati Nana datang dan memergoki mereka. Namun bukankah itu lebih bagus? Ini memperlancar rencananya!
Sebuah senyum terulas di bibir Sofia. Sambil mendesah, ia menatap Nana dengan penuh kemenangan sebelum sebuah tangan besar bertato menarik wajahnya untuk kembali menatap ke depan, disusul dengan terjangan lumatan panas di bibirnya.
***
Kembali ke masa sekarang…