Kepercayaan

1217 Words
“Boleh aku tahu apa yang ia katakan padamu tadi?” Tanya Frans perlahan. Akhirnya Nana mulai menjelaskan inti dari percakapannya dengan Sofia tadi. Ia pun menjelaskan perasaannya tentang nada bicara Sofia yang menurutnya agak mengesalkan. “Nana...” Frans tertawa kecil. “Maaf aku mengatakan ini. Aku tidak bermaksud membela siapa pun di sini. Namun dari penjelasanmu, sepertinya kau salah paham pada Sofia,” Nana mengerut dan menatap Frans bingung. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Sofia itu besar di Amerika dan sempat tinggal beberapa tahun di Eropa. Budaya di sana berbeda dengan di sini sehingga mempengaruhi sebagian besar karakter penduduknya. Sofia itu pintar dan percaya diri. Ia akan sangat bersemangat jika sedang menjelaskan suatu hal sehingga itu mungkin terlihat seakan ia hendak beradu argumen. Berbeda dengan budaya orang Indonesia yang suka merendah diri dan sangat sopan, Sofia terpengaruh pada budaya barat yang menganggap bahwa rendah diri adalah bukti bahwa ia tidak percaya diri.” Jelas Frans. Nana terdiam agak lama untuk berpikir. Kemudian Frans meliriknya dan tertawa kecil. “Nana, mungkin kau tanpa sadar terpengaruh oleh gossip tentang Sofia. Sepertinya perasaanmu juga memang sedang kurang bagus karena kau lelah setelah berjalan-jalan seharian. Aku juga menyesal dan mengerti kau pasti merasa kesal karena aku tidak memakan sate yang sudah kau beli. Tapi aku bukannya tidak mau, melainkan tidak tahu. Dan aku sudah meminta maaf soal itu, ‘kan?” “Na, bagaimana pun sikap Sofia, kau harus percaya padaku. Yang aku lihat dari Sofia hanya kinerjanya saja. Sama seperti Tjandra, ia sudah membantuku sangat banyak. Ia bekerja dengan professional dan aku membutuhkannya selama proyek ini berlangsung. Sejujurnya, aku sempat berpikir akan terus mempekerjakan Sofia bahkan jika proyeknya sudah selesai. Namun jika kau memang tidak suka padanya, aku akan memindahkannya ke divisi lain. Bagaimana?” Tanya Frans dengan mengusap kepala Nana sekilas. Nana mengehela panjang. “Aku rasa kau benar, Frans. Sepertinya aku sudah terlalu sensitif. Itu tidak apa. Aku mengerti bahwa Pak Tjandra memiliki jasa besar untuk perusahaanmu. Tidak adil jika harus memecat Sofia hanya karena istri direktur cemburu. Aku akan percaya padamu, Frans. Aku tahu kau akan membuat keputusan sebijak mungkin,” Frans tersenyum. “Tidak apa, sayang. Kau adalah istri yang sangat pengertian. Trimakasih sudah mempercayaiku. Aku tidak akan mengecewakanmu.” *** Nana terbangun karena merasakan kecupan-kecupan di wajahnya. Kedua matanya terbuka dan mendapatkan pemandangan indah seperti biasa, namun tidak pernah membuatnya bosan. Itu adalah wajah Frans yang mengulas senyum hangat padanya. “Selamat pagi, sayang,” Bisik Frans dengan suara berat seraknya yang sangat khas karena ia baru saja bangun tidur. Nana tersenyum dan memejamkan kedua matanya lagi. Ia kembali menyembunyikan wajahnya di bawah leher Frans dan mengusap sisi samping punggung pria yang sedang dipeluknya itu. Entah mengapa, Nana sangat suka mengusapkan ujung jemari-jemarinya di punggung Frans yang keras dan bergelombang. Frans menghela panjang. Matahari baru saja terbit dan belum meninggi. Ia masih merasa mengantuk setelah olahraga semalam yang membuatnya terjaga hingga hampir jam tiga subuh. Itu juga yang menyebabkan Nana terlihat sulit membuka kedua matanya hingga sekarang. Istri kecilnya ini pasti sangat kelelahan. Sayangnya, Frans memiliki jadwal penting yang harus ia lakukan hari ini. “Na...” Bisik Frans seraya membelai kepala Nana dan perlahan melonggarkan pelukannya. Terdengar suara-suara pelan tanpa arti dari Nana. Frans terus melonggarkan pelukannya hingga istrinya keluar dari sana, “Na… Maaf, hari ini aku ada meeting.” bisiknya. Kening Nana mengkerut dan kedua matanya terbuka perlahan. “Di hari minggu?” tanyanya dengan suara pelan yang serak. Frans mengangguk. “Aku lupa memberitahukan itu padamu kemarin. Itu cukup mendadak karena dua investor dari Dubai tiba-tiba harus kembali ke negera mereka nanti malam.” Masih dengan kening mengkerut, Nana mengangguk. “Baiklah.” Melihat Nana hendak bangkit duduk, Frans segera menariknya untuk tetap berbaring. “Kau bisa tidur lagi, Na. Aku akan bersiap sendiri. Aku membangunkanmu sebentar hanya untuk memberitahukan ini.” Namun Nana menggeleng. “Tidak apa, Frans. Aku hanya akan menyiapkan dasi dan manset untukmu seperti biasa.” “Nana...” Frans menatap haru pada istrinya yang sudah bangkit duduk. Nana tertawa kecil, lalu membelai kepala Frans. “Ini hanya menyiapkan dasi saja, Frans. Seperti yang selalu kau katakan, dasi yang aku siapkan adalah dasi keberuntungan, benar?” Frans tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Nana. “Aku mencintaimu. Kenapa setiap hari kau semakin manis? Kau selalu membuatku enggan berangkat kerja,” tanyanya sebelum memberi kecupan lama di bibir istrinya. “Entahlah... Mungkin karena aku semakin mencintaimu?” Jawab Nana dengan tawa kecil. Setelah menyiapkan dasi dan manset Frans, Nana mengingkari janjinya dengan mengikut Frans ke bawah dan mengantarkannya hingga ke depan rumah. Nana melambaikan tangannya pada mobil hitam yang melaju pergi menuju gerbang depan. Namun senyum itu berangsur memudar, digantikan oleh raut bertanya yang cukup kental. Meski Frans memang sangat sibuk selama beberapa bulan ini, ini adalah pertama kalinya Frans harus pergi rapat di hari minggu. Nana berusaha menenangkan dirinya karena Frans pun sudah menjelaskan mengapa ia terpaksa bekerja di hari minggu, dan alasan itu sangat masuk akal. Karena sudah terlanjur terbangun, Nana memutuskan untuk melanjutkan kegiatan yang mengisi waktunya selama beberapa minggu ini. Masuk ke kamar lamanya yang kini sudah menjadi kamar bayi, ia menghampiri sebuah lemari dan mengeluarkan kotak berwarna biru langit dari dalamnya. Di dalamnya, terdapat tiga buah dasi berbeda warna yang dua di antaranya telah terhias bordiran tangan berbentuk kepala singa yang agak abstrak. Tiga hari lagi adalah ulangtahun pernikahan Frans dan Nana. Tiga dasi dengan bordiran tangan itu akan Nana jadikan sebagai kado ulangtahun kedua pernikahan mereka. Sejak pertama kali hamil, Nana mulai belajar membordir untuk mengusir kebosanan. Dan ia baru menyadari bahwa ia cukup berbakat melakukannya. “Seharusnya ini bisa selesai besok,” Gumam Nana sambil tersenyum. Kemudian ia mengambil satu dasi yang bordirannya masih setengah jadi dan melanjutkannya. Namun saat mengerjakan bordiran itu, Nana mendadak teringat kejadian sebelum Frans berangkat tadi, tepatnya ketika Frans sedang mandi. Saat Nana sedang memilihkan dasi, ia melihat pesan masuk di ponsel baru Frans. Pemberitahuannya muncul di layar depan sehingga Nana dapat melihat bahwa itu adalah pesan dari Sofia. Isi pesan itu adalah nama sebuah restoran dan ucapan bahwa Sofia akan menunggu di sana. Nana tidak bisa menahan dirinya untuk merasa curiga. Jika itu adalah sebuah meeting, kenapa tempat meetingnya baru diketahui beberapa jam sebelum meeting itu diselenggarakan? Deretan pertanyaan di benak Nana semakin bertambah karena ia merasa ada beberapa hal yang sedikit janggal selama hampir empat minggu ini, tidak lama setelah kedatangan Sofia. Entah itu hanya kebetulan atau apa, Nana tidak berani bertanya pada Frans karena ia dapat melihat wajah Frans yang nampak kelelahan setiap pulang bekerja. Nana mengerti bahwa Frans memang sedang sangat sibuk hingga harus terus lembur dan seakan tidak pernah berhenti memeriksa ponsel dan laptopnya. Semenjak Frans membubarkan kelompok mafianya, ia harus mengubah semua bisnis ilegalnya menjadi bisnis legal. Ia bahkan harus membuang beberapa bisnis yang mustahil mendapatkan ijin. Karena itu, pekerjaan Frans menjadi lebih menyibukkan dibandingkan yang dahulu. Peralihan itu memang membuat Frans dan semua anak buahnya cukup kewalahan, terlebih sudah tidak ada Tora yang membantu. “Aku tidak boleh seperti ini. Frans adalah suamiku dan kami saling mencintai. Aku bisa melihat bagaimana ia sangat mencintaiku. Aku harus mempercayai Frans. Sepertinya imajinasiku menjadi semakin liar karena aku tidak memiliki banyak kegiatan. Sepertinya aku sudah harus kembali bekerja. Semoga saja Frans mengijinkan,” Gumam Nana seraya menggelengkan kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD