Sifat Sesungguhnya

1229 Words
Nana hanya tersenyum tipis. Sesungguhnya Frans tidak mengatakan padanya bahwa ia akan lembur bersama Sofia sehingga Nana berpikir untuk datang dan menemaninya. Diam-diam, Sofia melirik kantung pelastik lusuh yang tergeletak di sisi meja. Ia bisa menilai bahwa itu adalah makan malam murah yang sepertinya Nana beli di pinggir jalan. Sofia sendiri pun sudah mencari tahu tentang siapa Nana dan mengetahui bahwa wanita itu hanyalah orang miskin biasa yang tertiban durian runtuh. “Nah.. Akhirnya selesai juga,” Gumam Sofia dengan nada senang sembari melihat kedua makanan yang sudah tertata manis di atas piring mewah. “Itu terlihat cantik. Apakah kau bisa memasak?” Tanya Nana. Sofia menatap Nana dan mengangguk cepat, “Tentu saja. Hobi saya adalah memasak. Namun saya hanya bisa memasak masakan barat karena saya lahir dan besar di Amerika. Saya juga bisa memasak cukup banyak menu Eropa. Kebetulan, Pak Frans juga memiliki lidah yang lebih familiar dengan masakan barat sehingga saya hanya perlu memesan makanan dari satu restoran saja.” “Itu mungkin dulu. Sekarang, Frans juga menyukai masakan nusantara karena aku sering membuatkan itu untuknya. Ia bahkan adalah penggemar berat perkedel.” Jelas Nana. “Oh, benarkah? Maaf, saya tidak mengetahui hal itu karena Pak Frans selalu meminta masakan barat selama bersama dengan saya. Ohya.. Mungkin Pak Frans menyukai perkedel karena sejatinya perkedel adalah modifikasi dari menu Eropa. Itu adalah masakan Belanda dengan nama Frikadel. Pak Frans juga sangat menyukai Mashed Potato yang rendah kalori dan tentunya lebih menyehatkan dibandingkan nasi putih,” Jelas Sofia dengan senyum yang seolah-olah merendahkan Nana. Nana membalas senyuman itu dengan senyum yang lebih manis, “Kelihatannya tinggal sangat lama di luar negri membuat lidahmu melupakan selera makan nenek moyangmu sendiri, yah? Aku bangga Frans memiliki sekertaris yang begitu memperhitungkan kandungan-kandungan di dalam makanan. Mungkin itulah yang membuatmu menjadi sangat pintar, atau… setidaknya terlihat seperti itu.” Lalu Nana menarik napas panjang dan memasang wajah berpikir tanpa memudarkan senyumannya, “Sebenarnya, awalnya Frans hampir sama sepertimu. Ya, meski Frans memang memiliki darah campuran Rusia dan Belanda, sedangkan kau memiliki murni darah Indonesia. Frans awalnya sangat tidak menyukai makanan nusantara. Namun sejak mengenal masakanku, ia jarang sekali mau makan di luar dan selalu menginginkan masakan Indonesia yang aku masak. Entah itu karena ia menyukai masakanku atau… karena perasaannya terhadapku,” Penjelasan Nana membuat hati Sofia meradang. Senyumannya bahkan hanya tersisa segaris karena ia bukan orang yang mahir menutupi emosinya seperti Nana. ‘Kau lihat saja nanti, perempuan tak tahu malu! Aku akan mengirimmu kembali ke tempat kau berasal, yaitu di kolong jembatan!’ Geram Sofia di dalam hati sambil menatap Nana yang memberikan ekspresi kemenangan padanya. Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka yang berasal dari arah toilet dan ketukan sol sepatu, disusul dengan sosok pria dengan kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka dan bagian lengan tergulung setengah. Wajahnya nampak basah, begitu juga dengan bagian rambut depannya yang disisir asal ke belakang menggunakan jari. “Oh,” Sofia langsung bangkit berdiri setelah mengambil handuk kecil di sampingnya. Ia menghampiri Frans dan memberikan handuk itu padanya, “Silahkan, Pak.” Dengan asal, Frans mengambil handuk kecil itu dan mengeringkan wajahnya yang sudah terasa segar setelah ia cuci. “Makananku sudah disiapkan?” Sofia mengangguk. “Sudah, Pak. Itu adalah Mashed Potato dan Grilled Chicken Breast. Sesuai pesanan anda; menu yang tidak mengandung terlalu banyak karbohidrat dan lemak.” “Bagus. Makanan mengandung kolesterol akan membuat kesehatanku memburuk karena akhir-akhir ini aku bekerja terlalu...” Frans menghentikan kalimatnya saat ia mendapati Nana sedang duduk di sofa depan meja kerjanya. “Nana? Kenapa kau ada di sini?” Nana masih duduk di tempatnya. Ia menatap Frans dari atas kepala hingga ujung kaki. Pria itu terlihat agak berantakan. Namun Nana mengerti bahwa Frans hanya mencuci wajah di kamar mandi karena merasa penat bekerja. “Hai...” Sapa Nana sambil tersenyum. “Maaf aku datang tiba-tiba seperti ini. Apakah aku mengganggumu?” Frans segera mengoper handuk yang sedang ia pegang pada sekertarisnya. Ia menggeleng seraya melangkah menghampiri Nana. “Hei... untuk apa kau minta maaf, Na? Tentu saja kau tidak mengganggu.” Ucapnya sebelum mengecup kening istrinya. “Namun, kau benar bahwa aku agak terkejut kau datang ke sini. Kau baru saja pergi ke mall seharian, Na. Kau pasti kelelahan. Untuk apa kau datang ke sini? Kau seharusnya beristirahat di rumah.” Lanjut Frans dengan duduk di sofa panjang. “Selagi mallnya dekat dengan kantor dan karena kau berkata akan pulang jam sembilan atau sepuluh, aku berpikir untuk menemanimu karena aku kira kau sendirian.” Jawab Nana dengan menggidik bahu. “Oh... Maaf. Aku benar-benar lupa mengatakan padamu bahwa Sofia juga lembur bersamaku.” Jelas Frans. Nana menggeleng. “Tidak apa, Frans.” Lalu ia menatap makanan yang sudah tertata di meja. “Kau belum makan, yah? Ini sudah malam. Sebaiknya kau cepat makan agar tidak sakit.” “Bagaimana denganmu? Kau sudah makan?” Tanya Frans. Nana tersenyum dan mengangguk, “Tadi di mall,” “Oke,” Frans mengalihkan padangannya pada makanan di atas meja. Namun ia segera menyadari ada dua piring di sana. Ia langsung mengingat bahwa ada Sofia di tempat ini. Frans langsung menoleh ke samping untuk mencari sang sekertaris. Ia mendapati Sofia sedang berdiri canggung di samping sofa tempatnya duduk. “Ini makananmu, ‘kan?” Sofia mengangguk, “Benar, Pak. Maaf, saya akan mengambil itu dan makan di depan sana,” “Makan sendirian di sana? Mungkin kau mau makan di sini bersama kami?” Tanya Frans. “Oh? Apakah boleh?” Sofia beralih menatap Nana dengan sopan. Frans ikut menoleh pada Nana. Ia yakin Nana akan mengijinkannya dan bahkan akan marah jika Frans membiarkan Sofia makan di ruang tamu sendirian. Frans mengenal betul bahwa Nana adalah wanita dengan hati malaikat. Nana menaikkan kedua alisnya dan menatap Sofia. “Frans sudah menawarkannya padamu. Sebaiknya kau makan di sini, ‘kan?” *** Mobil sport hitam itu melaju di jalan ibu kota yang masih agak ramai. Suasana di dalam terasa sunyi meski lagu dari tape mobil melantun merdu. Frans menoleh pada Nana yang duduk di sampingnya, “Na,” “Hem?” Nana menoleh pada Frans. “Apa terjadi sesuatu? Kenapa kau diam saja?” Tanya Frans dengan tawa kecil untuk mencairkan suasana yang ia rasa agak kaku. Ini adalah perasaan yang sangat aneh dan tidak pernah ia alami selama dua tahun ini. “Sebenarnya ada hal kecil yang mengganggu pikiranku, Frans.” Ucap Nana pelan. Kening Frans langsung mengkerut, “Apa itu?” “Sepertinya aku merasa ada yang aneh dengan sekertaris barumu.” “Maksudmu Sofia? Apa yang aneh dengannya?” Tanya Frans bingung. Nana bergerak dengan tidak nyaman. Ia tidak pernah merasa curiga pada Frans selama ini. Sejak mereka memadu kasih hingga menikah, Nana tidak pernah merasa cemburu. Ia pun bukan tipe wanita yang mudah cemburu dan mencurigai suaminya. “Na... Ayo katakan. Apa yang mengganggumu tentang Sofia?” Frans menjulurkan tangannya untuk memegang tangan Nana. “Aku bingung menjelaskannya, Frans. Namun aku merasa ia memiliki niat buruk. Sebenarnya Kiky tadi bercerita padaku bahwa semua orang di kantor bergosip bahwa Sofia itu bermuka dua,” “Bermuka dua?” Ulang Frans dengan senyum heran. Nana mengangguk. “Mereka berkata bahwa Sofia sangat ketus kepada pegawai lain namun menjadi sangat sopan dan baik ketika ada kau di depannya. Awalnya aku pikir itu hanya gossip belaka. Namun saat kau di kamar mandi tadi, aku merasa bahwa gossip itu sepertinya benar,”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD