Lembur Berdua

1391 Words
Matahari mulai terbenam. Gedung kantor itu semakin sepi dan lampu ruangan-ruangan yang sudah kosong mulai dimatikan. Namun, sebuah ruangan besar di lantai 48 masih nampak terang benderang. “Maafkan aku, Na. Ini sangat mendadak.” Ucap Frans. “Tidak apa, Frans. Aku mengerti. Pak Warso baru saja menghubungiku. Ia yang akan menjemputku nanti.” Jawab Nana. “Jadi, jam berapa kau akan keluar dari mall?” Tanya Frans. “Eum... Mungkin jam tujuh. Aku akan mengabarimu jika sudah di mobil,” Frans mengangguk. “Baiklah. Jangan terlalu malam, oke? Kau mungkin akan kelelahan nanti,” “Oke...” Jawab Nana dengan nada kekanakannya yang membuat Frans tersenyum. “Aku mencintaimu.” Ucap Frans. “Aku lebih mencintaimu.” Jawab Nana. “Milikku adalah seribu kali lipat dari milikmu.” Balas Frans lagi. Terdengar suara kekehan kecil dari ujung telepon. “Baiklah, Frans. Aku tutup teleponnya. Dah…” Frans menurunkan ponsel itu dari telinganya. Ia menghela panjang dengan gusar. Seharusnya ia yang menjemput Nana nanti dan sekalian makan malam di luar bersama. Namun seperti kebanyakan hari sejak dua bulan ini, Frans harus lembur di kantor. Suara ketukan pintu terdengar dari pintu ruangan Frans. Kemudian terdengar suara pintu tersebut terbuka, disusul oleh ketukan hak sepatu yang membentur lantai parkit ruangan direktur itu. Sosok wanita dengan rambut sepunggung yang dicat coklat caramel dan ditata dengan model keriting gantung muncul dari balik penyekat ruangan. Terdapat nampan yang menopang sebuah cangkir di tangannya. “Permisi, Pak. Saya membawa kopi yang biasa anda pesan. Apakah anda mau meminum ini?” Tanya Sofia dengan senyum lembut. “Tentu. Kau bisa meletakkannya di sana,” Frans menunjuk sisi meja kerjanya dengan lirikan mata. Sofia mengangguk sekali, “Baik, Pak.” ucapnya dengan meletakkan cangkir itu. “Apakah saya perlu menyiapkan makan malam sekarang?” Tanya Sofia. Frans menggeleng. “Aku belum lapar. Kau bisa mengurus makananmu dan yang lain dahulu.” “Yang lainnya tidak makan di kantor karena mereka akan pulang jam tujuh, Pak.” Kedua alis Frans terangkat meski ia masih sibuk memperhatikan layar komputernya, “Begitu? Baiklah. Terserah padamu.” Sofia mengangguk. “Baik, Pak. Jika ada lagi yang anda perlukan, anda bisa memanggil saya karena saya akan berada di sini hingga jam sepuluh.” Kedua mata Frans bergulir dari layar komputer untuk menatap sekertarisnya. “Kau tidak apa pulang semalam itu?” Sofia menggeleng dengan senyum ikhlas. “Tidak apa, Pak. Ini adalah pekerjaan saya. Sudah sangat lama saya menginginkan pekerjaan ini. Sebelum ayah saya wafat, ia juga sudah berpesan agar saya bekerja keras membantu Pak Frans.” Frans mengangguk-angguk pelan. “Ayahmu memiliki jasa untuk perusahaan ini. Jika aku tahu ia memiliki anak, aku sudah menawarkan pekerjaan untukmu sejak dulu.” Sofia tersenyum sendu. “Begitulah ayah saya. Ia tidak pernah mau memanfaatkan posisinya di perusahaan ini. Ia memaksa saya untuk berusaha sendiri. Tapi kelihatannya ayah juga takut berpisah dengan saya sehingga meminta saya tetap di Amerika setelah lulus kuliah.” “Ia memang pria yang dapat diandalkan dan memiliki integritas tinggi. Aku bisa melihat kau mewarisi sifatnya.” Frans memberi senyum tipis pada Sofia. Wanita itu tersenyum dan mengangguk sekali. “Terima kasih sudah memberi saya kesempatan untuk melanjutkan proyek ini, Pak. Saya akan berusaha agar tidak mengecewakan dan akan ikut mensukseskan proyek besar ini.” Frans mengangkat kedua alisnya sekali. “Baiklah. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu,” Sofia membungkuk kecil sekali sebelum meninggalkan atasannya dengan senyum manisnya yang masih awet hingga ia keluar dari ruangan besar itu. Sofia adalah putri dari Tjandra, mantan sekertaris ayah Frans yang dipindah tugaskan ke Amerika untuk mengurus semua cabang bisnisnya di sana. Enam bulan terakhir, Frans menarik Tjandra sebagai sekertaris tambahan, khusus untuk menagani proyek hotel dan resort bintang lima di Dubai yang sedang menuju puncak kesibukannya. Namun setelah beberapa bulan bekerja, Tjandra mendadak terserang Stroke dan meninggal dunia. Selama sakit, Tjandara mengajarkan Sofia untuk menggantikannya. Sama seperti Tjandra, Sofia juga sangat pintar dan mampu belajar dengan cepat. Sekarang, Sofia menjadi sekertaris sementara Frans selama proyek itu masih berlangsung. Sofia adalah salah satu lulusan terbaik di universitas terkenal di Amerika. Kepintarannya membuat Frans tidak khawatir untuk mengandalkannya. Memiliki pengalaman bekerja di berbagai perusahaan internasional di Amerika dan Eropa membuat Sofia mampu beradaptasi dengan sangat cepat dan bekerja dengan professional. Bahkan kinerjanya lebih baik dibandingkan semua sekertaris lama Frans. Sikapnya pun selalu sopan dan ramah. Itu membuat Frans menyukai Sofia sebagai sekertarisnya. *** Nana melirik jam tangannya. Ia baru saja mengabari Frans bahwa ia sudah masuk ke dalam mobil. Ini sudah jam setengah delapan malam. Nana agak terlambat pulang karena ia dan Kiky berpikir untuk mengantri roti diskon yang baru dimulai pada malam hari. Namun saat dalam perjalanan pulang, mobil Nana melewati sebuah tenda kecil dengan gerobak biru di depannya. Ia sangat terkejut melihat gerobak itu karena itu adalah penjual sate yang sudah dua tahun ini tidak berjualan. Nana masih ingat bahwa itu adalah sate favoritnya sejak ia pertama kali merantau ke Jakarta. Tanpa berpikir panjang lagi, Nana meminta pak supir untuk memutar balik mobil. Nana membeli dua porsi sate lengkap dengan lontongnya. Berhubung Frans berkata ia akan lembur hingga jam sembilan atau sepuluh malam, Nana berpikir untuk datang ke kantor dan membawakan Frans makan malam. Ya, ini memang adalah makanan yang berat untuk malam hari. Namun Nana sangat bersemangat meminta Frans mencoba sate kesukaannya yang sempat ia pikir sudah tutup. Kondisi bangunan kantor sudah sangat sepi. Nana seorang diri naik ke lantai 48 dengan satu kantung pelastik berisi dua porsi sate. Dengan langkah bersemangat, Nana masuk ke pintu ruang sekertaris Frans dan mendapati semua orang sudah pulang. “Ah... Kasihan sekali Frans harus bekerja sendirian. Sepertinya niatku datang ke sini tidak salah, jadi aku bisa menemaninya.” Gumam Nana sebelum membuka pintu ruangan Frans. Namun saat Nana masuk semakin jauh ke dalam, ia cukup terkejut saat mendapati seorang wanita sedang duduk di sofa panjang yang terletak di dekat meja kerja Frans. Itu adalah Sofia yang sedang menyiapkan makanan di atas meja tamu. “Bu Nana?” Sofia nampak terkejut melihat istri bosnya sudah berdiri di dekat sofa tempatnya duduk. Nana tersenyum canggung, “Selamat malam. Kau… masih bekerja?” “Oh, itu benar, Bu. Saya sedang menyiapkan makan malam untuk Pak Frans.” Jelasnya. Nana melirik makanan yang berada di atas meja. Itu adalah dua porsi kecil makanan ala barat yang terlihat sehat. Itu adalah kentang tumbuk dengan d**a ayam filet panggang dan segenggam sayur hijau rebus yang terlihat segar. Dari tampilannya, jelas bahwa makanan tersebut datang dari restoran mewah. Sebenarnya Nana tidak mau terlalu mempermasalahkan jenis makan malam itu. Ia merasa sayang karena kini terlalu banyak makanan yang tersedia karena ia sudah membeli dua porsi sate. Tapi dari itu semua, Nana menyadari ada sebuah hal janggal. Kenapa di meja itu terdapat dua porsi makanan yang sama bersebelahan? Apakah itu artinya Frans dan Sofia akan makan malam bersama? “Di mana Frans?” Tanya Nana dengan melangkah ke sofa single dan duduk di sana. “Oh, Pak Frans sedang di kamar mandi.” Jawab Sofia dengan senyuman yang awet sembari menyiapkan makanan ke atas piring hingga itu terlihat semakin mewah. “Maaf, untuk apa Bu Nana datang ke sini?” Tanya Sofia dengan melirik Nana. Kening Nana mengkerut sedikit namun ia tetap tersenyum tipis meski tersirat raut heran di wajahnya. “Aku hanya ingin menemani suamiku. Aku pikir ia sendirian di kantor,” Sofia menggeleng pelan, “Hari ini, kami berdua lembur karena mengerjakan proyek yang sangat penting. Tadi siang, investor meminta beberapa data tambahan. Ini adalah proyek yang sangat besar. Tidak boleh ada kesalahan sehingga kami harus sangat fokus. Investor berasal dari berbagai negara. Untungnya, saya dan Pak Frans menguasai berbagai bahasa asing sehingga kami berdua dapat bekerja sama dengan baik.” Nana mengangguk-angguk pelan. “Itu penjelasan yang cukup panjang. Frans sudah menjelaskan kepadaku mengapa ia terlambat pulang hari ini. Kelihatannya ia akan terkejut karena tiba-tiba aku datang ke sini.” “Kelihatannya begitu. Entah Pak Frans dan saya sendiri, kami tidak berpikir Bu Nana akan datang ke sini.” Sahut Sofia dengan suara agak pelan. Hal itu membuat Nana semakin mengerutkan dahi. Namun Sofia segera menyadari hal itu dan mengangkat wajahnya dengan tawa kecil. “Pak Frans sempat berkata bahwa malam ini kami harus bekerja seperti kuda untuk pertemuan besok. Itulah yang membuat saya berpikir Pak Frans sudah memberitahukan itu kepada Bu Nana sehingga Bu Nana tidak berpikir untuk datang ke sini,”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD