Sebuah Gosip

1447 Words
Nana membalas senyuman Frans. “Maaf mengganggu kalian,” Wanita yang berdiri di samping meja Frans langsung berbalik. Ia cukup terkejut mendapati sosok wanita berwajah lembut tengah berdiri beberapa langkah di dekat mereka. Ia tidak mendengar ada yang datang. “A-ah... Selamat siang...” ucapnya canggung. Nana melangkah mendekat dengan senyum ramah, “Selamat siang,” Frans bangkit dari kursinya lalu segera menghampiri Nana. Dengan cekatan, tangannya merebut rantang yang sedang Nana tenteng, “Ini berat sekali. Kenapa kau membawanya sendiri?” “Itu tidak berat, Frans.” Jawab Nana. “Ini berat, Na. Kau tidak boleh membawa barang berat. Di mana Ferdinand?” Kening Frans mengkerut tidak senang. Nana menatap Frans dengan sedikit peringatan, “Aku tidak meminta Ferdinand datang. Ia tidak tahu aku datang ke sini. Aku hanya meminta Pak Warso yang mengantarku.” “Nana...” Frans menatapnya dalam. Nana menghela panjang, “Baiklah.. Lain kali aku akan meminta tolong jika membawa benda agak berat,” “Maaf kami malah berdebat di depanmu,” Ucap Nana tidak enak pada wanita yang terpaksa menontoni mereka berdebat hanya karena hal sepele. Wanita itu segera menggeleng, “Tidak apa-apa, Bu. Saya akan permisi keluar dari sini jika memang tidak ada lagi yang Pak Frans ingin bahas dengan saya.” “Tidak ada lagi yang ingin aku bahas. Kau bisa keluar dari…” Tiba-tiba Nana menyikut pinggang Frans pelan hingga membuat kalimat Frans terhenti. Kemudian ia menatap Nana dengan tanya. Nana tersenyum tipis, “Apakah kau tidak akan memperkenalkan kami, Frans?” tanyanya dengan sedikit berbisik. “Ah… Kau benar,” Kemudian Frans menoleh pada sekertarisnya, “Perkenalkan, ia adalah Nana, istriku.” Wanita itu tersenyum dan menjulurkan tangannya kepada Nana, “Saya Sofia Wriana, sekertaris baru Pak Frans. Senang berkenalan dengan anda, Bu Nana.” Nana tersenyum, “Sama-sama.” Setelah perkenalan singkat itu, sekertaris baru Frans yang bernama Sofia itu keluar dari ruangan, meninggalkan mereka berdua. “Dia memanggilmu ‘Frans’?” Tanya Nana sembari membuka rantang makanannya dengan senyum bingung. Frans mengangguk, “Ayahnya juga memanggilku dengan sebutan Frans. Ia memperkenalkan putrinya padaku dengan nama itu.” “Oh…” Sahut Nana tanpa menghentikan kegiatannya membuka rantang makanan. Namun Frans tersadar atas sesuatu dan melirik Nana, “Apakah... kau merasa terganggu dengan itu? Aku akan memintanya memanggilku dengan nama Earvin seperti yang lain jika kau mau.” Nana langsung menaikkan pandangannya dengan sedikit terkejut. Kemudian ia tertawa kecil, “Tentu saja tidak. Aku tidak masalah jika ada yang memanggilmu dengan nama Frans di kantor ini. Sebaliknya, aku merasa kau jadi lebih manusiawi terhadap pegawai-pegawaimu.” “Benarkah? Kenapa kau berpikir seperti itu?” Tanya Frans dengan kekehan kecil sembari membereskan meja kerjanya agar Nana bisa menyusun makan siang mereka dengan nyaman. “Kiky berkata bahwa kau jauh lebih tidak seperti monster dibandingkan sebelum kau menikah dulu. Bukankah itu artinya aku memberi dampak yang baik untukmu?” Nana tertawa bangga. Frans tersenyum miring. “Kelihatannya kau benar. Lebih tepatnya, karena asupan harianku terpenuhi sehingga suasana hatiku selalu baik.” Ucapnya dengan duduk di kursi dan menarik Nana untuk duduk di pangkuannya. “Asuapan apa yang kau maksud? Dasar aneh...” Gumam Nana dengan kedua pipi memerah. “Oh... Kau mau aku menjelaskannya lebih rinci? Namun jangan salahkan aku jika makan siang ini berakhir memiliki makna yang berbeda,” Bisik Frans tepat di telinga Nana. “Hei! Kita berada di kantor, Frans. Apa kau sudah gila?” Nana segera menjauhkan kepalanya dari Frans yang telah melingkarkan tangan di pinggangnya. “Sejak kapan aku bisa tetap waras jika berada di sampingmu? Apalagi jika kau sedekat ini,” Frans menggoyangkan kedua kakinya. “Frans!” Tegur Nana dengan wajah semakin memerah dan ditanggapi oleh tawa kemenangan dari suaminya. Ruangan besar itu menjadi agak berisik dengan tawa-tawa dari pasangan tersebut. Mereka menempel seperti perangko dan terlihat sangat bahagia. Namun, ada sepasang mata yang menatap tidak suka pada pemandangan manis itu. *** Setelah menemani Frans makan siang, Nana menghampiri Kiky yang sudah mengambil ijin kerja setengah hari untuk keluar bersama Nana. Mereka pergi ke sebuah mall yang terletak tidak jauh dari kantor Frans. Setelah berbelanja sebentar, mereka mengobrol-ngobrol di sebuah café. “Frans berkata kau sedang banyak pekerjaan. Apakah tidak apa-apa kau keluar seperti ini, Ky? Kau tidak memaksa hanya demi bisa menemaniku, ‘kan?” Tanya Nana tidak enak. “Hah... Kau ini bicara apa sih, Na? Kau tahu sendiri aku tidak pernah merasa sungkan pada orang. Aku mau menemanimu karena aku bisa melakukannya. Tidak perlu khawatir,” Kiky tertawa kecil dengan mengibas-ngibas tangannya di depan hidung. “Um... Na,” Tiba-tiba wajah Kiky berubah serius dan tubuhnya mulai condong ke depan. Nana menatap Kiky dengan tanya. Ia sudah hafal bahwa itu adalah ciri-ciri saat sahabatnya ini akan mulai bergosip. Kiky memang memiliki telinga di berbagai tempat dan mulutnya seperti keran bocor jika sudah bertemu dengan Nana. Dengan tawa kecil, Nana bertanya, “Ada berita apa lagi?” “Um... Sebenarnya aku tidak enak jika mengatakan ini padamu, Na.” Ucap Kiky. Kening Nana seketika mengkerut. Ia menatap Kiky bingung, “Apa maksudmu, Ky? Kenapa tidak enak padaku?” Kiky mengangguk pelan. “Sebenarnya... ini tentang suamimu,” “Tentang Frans? Apa yang terjadi pada Frans?” Wajah Nana semakin bingung. “Begini, Na. Kau tahu kan kalau Frans memiliki sekertaris baru sekarang? Sekertaris yang bernama Sofia itu…” Kiky nampak sungkan. Seketika wajah kebingungan Nana langsung menghilang. Ia menghela panjang disusul dengan tawa kecil, “Tentu aku tahu. Hari ini aku baru saja bertemu dengannya. Tenanglah, Ky... Tidak ada yang salah dengan sekertaris itu,” “Tapi banyak yang mengatakan bahwa ia terlihat berusaha mendekati suamimu, Na. Katanya, ia juga bermuka dua. Jika ada Pak Earvin, ia akan bersikap sok baik. Namun jika Pak Earvin tidak ada, ia bersikap ketus dan sok berkuasa pada karyawan yang lain seakan ia adalah orang penting di kantor ini.” Jelas Kiky. “Ky, apakah kau yang mengalaminya sendiri?” Tanya Nana tenang. Kiky berdehem lalu menggeleng, “Tidak, sih...” Kemudian Nana tersenyum lembut. “Maaf, Ky. Aku bukannya tidak mau mempercayaimu. Namun kita tahu sendiri bagaimana mulut para karyawan di kantor. Saat aku masih bekerja di sana saja, aku diterpa berbagai gossip aneh. Aku merasa sikap Frans tidak berubah sejak kedatangan Sofia. Ya, meski Frans terlihat sangat sibuk, namun aku mengerti bahwa itu dikarenakan proyek besarnya. Aku percaya Frans tidak akan mengkhianatiku. Sofia juga terlihat sopan, tidak seperti sekertaris-sekertaris perempuan Frans yang sebelumnya.” Ekspresi khawatir Kiky masih tidak dapat ditutupi. Ia menatap Nana dengan sungkan. “Maaf jika aku menyinggung yah, Na. Aku sungguh tidak memiliki niat apa pun. Aku hanya mengkhawatirkanmu,” Nana tersenyum pada Kiky sambil menggeleng, “Tidak apa, Ky. Aku malah berterima kasih kau mau mengkhawatirkanku. Hanya kau temanku yang mengetahui masa laluku dan bagaimana hubunganku dengan Frans sejak awal. Aku mengerti kau hanya tidak ingin aku tersakiti. Namun aku sungguh mempercayai Frans, Ky. Ia tidak akan menyakitiku.” *** “Proposal apa lagi yang mereka maksud?” Frans menatap kedua sekertarisnya dengan kening mengkerut. “Mereka berkata bahawa proposal kemarin belum lengkap. Ada beberapa poin yang ingin mereka bahas dan pertanyakan di rapat berikutnya, Pak. Mereka baru mengirimkan poin-poin itu siang ini.” Jelas Denny, salah satu sekertaris pria Frans yang ikut membantu menagani proyek baru. “Rapatnya akan diselenggarakan besok dan mereka baru mengatakannya siang ini?” Frans terkekeh kecil dengan geram. Sofia melangkah mendekati meja Frans dan menyerahkan sebuah tab padanya. “Ini adalah poin-poinnya, Pak.” Frans menerima benda itu dan mempelajarinya satu menit. Kemudian ia meletakkan benda itu di atas mejanya dengan agak kasar. “Itu ada sepuluh poin. Siapa yang bisa mengerjakannya?” Sofia dan Denny saling menatap satu sama lain. Frans yang melihat hal itu langsung merasa geram, “Apakah aku harus menunjuk orang? Apakah kalian tidak memiliki koordinasi?!” Bentakan Frans membuat kedua sekertarisnya terlonjak. Ia menatap mereka dengan sisa kesabarannya. Ia paling tidak suka pada pekerja yang saling melempar pekerjaan. Ia sudah membayar tenaga paling professional sehingga seharusnya ia tidak perlu repot-repot harus mengatur mereka layaknya seorang guru taman kanak-kanak. “S-saya akan mengerjakannya, Pak. Tolong ijinkan saya mengurusnya,” Ucap Sofia dengan sangat sopan. Frans menghela keras untuk menata emosinya agar ia tidak mengamuk. Kemudian ia mengangguk sekali, “Baiklah. Kau tahu bahwa itu artinya semua harus selesai malam ini, ‘kan?” Sofia mengangguk, “Saya paham, Pak. Saya akan lembur malam ini untuk menyelesaikannya.” “Kau bisa mengaturnya. Yang pasti, aku mau itu semua sudah siap besok dalam keadaan rapih.” Kemudian Frans melirik sekertaris prianya. “Aku tidak perlu berharap kau bisa bekerja dengan baik, ‘kan?” tanyanya dingin. Pria itu segera menggeleng, “Tidak, Pak. Saya akan membantu Sofia.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD