Tanpa tertahan, Dewi meneteskan air mata dan segera mengusapnya. “Maaf, Na. Padahal kau sangat kuat, tapi aku sungguh tidak tahan mendengar ceritamu,” Nana tersenyum sendu. Ia mengusap pundak Dewi. “Tidak apa, Dew. Aku tidak sekuat yang kau katakan. Hanya saja.. air mataku sudah habis dan aku tidak ingin menangisi hal itu lagi. Semuanya sudah berakhir dan aku harus berfokus pada kehidupanku yang sekarang.” “Tapi kau sekarang sedang hamil, Na. Suamimu juga tidak tahu bahwa kau tengah mengandung anaknya. Kau tidak memiliki apa pun dan kondisi kesehatanmu tidak terlalu baik,” Ucap Dewi. Ia tidak bisa membayangkan jika ia berada di posisi Nana. Mengandung adalah hal yang berat, terlebih jika kau hanya sendirian. Nana menggeleng dengan senyum tipis. “Tidak apa, Dewi. Aku yakin aku akan baik-

