Hai semuanya! Perkenalkan namaku Adya Naindra Benedict. Kalian bisa panggil aku Adya. Adya ganteng juga sangat diperbolehkan.
Aku hanya ingin memberitahukan arti nama yang orang tuaku berikan saat bayi kecil dan mungil terlahir di dunia yang indah ini. Tetapi jika kalian tidak mau tahu aku akan tetap memberitahukan kepada kalian. Jadi, arti namaku adalah Anak pertama yang memiliki keteguhan dan di cintai Tuhan.
Keren kan? Tentu! Anak pertama? Yaa! Aku anak pertama dan bisa dibilang aku anak tunggal. Tidak memiliki kakak ataupun adik.
Bisa kalian bayangkan bagaimana bosannya aku di rumah saat kedua orang tuaku tidak ada di rumah? Dan beruntungnya Mama tidak di izinkan bekerja oleh Papa, disitulah aku merasa senang, setidaknya ada yang menemaniku saat aku di rumah.
Papaku bernama Ammar Vadim Benedict dan Mamaku Zara Dalila Benedict, Papa berasal dari Italia tapi jangan salah kami sekeluarga beragama Islam loh! Mama warganegara Indonesia yang bertemu dengan sang pujaan hatinya di Italia saat melanjutkan sekolahnya di sana.
Dan malangnya nasibku, aku di lahirkan di Indonesia, kenapa tidak di Italia dulu? Supaya Akta kelahiranku bisa aku banggakan pada teman-temanku nantinya.
Papa bekerja di perusahaannya sendiri, merintis karirnya dari bawah hingga dia bisa membawa beratus-ratus karyawan untuk perusahaannya.
Aku ingin sama seperti Papa, menjadi lelaki yang bijaksana dan bertanggung jawab, menjadi panutan untuk semua orang. Aku berjanji akan membahagiakan kedua orang tuaku nanti.
Ah ya! Aku saat ini baru saja menduduki bangku SMA. Kalian bisa berhitung? Bisa kalian hitung sendiri umurku berapa. Tak perlu aku hitung karena aku membenci perhitungan. Walaupun aku malas berhitung tapi hasil nilai matematikaku selama SMP tidak pernah buruk kok. Nilai matematika tertinggiku delapan puluh! Dan bersyukur itu berkat bantuan teman-temanku.
Aku baru tinggal di Jakarta, baru saja menempati rumah yang sekarang aku tinggalkan. Awalnya aku dan keluarga tinggal di Medan, karena Papa memegang perusahaannya yang di Jakarta jadilah aku disini, Jakarta. Rumah baru, lingkungan baru dan teman baru.
Kalian penasaran tidak dengan kehidupanku? Aku berharap kalian penasaran. Walaupun tidak juga aku akan tetap menceritakannya kepada kalian. Baiklah kita akan masuk di mana zona kehidupanku akan di mulai.
Aku. Adya si pejantan tangguh. Pencinta gadis ataupun janda.
Astaghfirullah. Gadisnya aja kok, jandanya engga.
Jangan diambil hati, aku cuma bercanda. Hehe.
---
"Ma." panggilku ke Ratu Negara dengan menuruni anak tangga.
"Iya Kak?" suara Mama berada di ruang keluarga lalu aku menghampirinya.
"Perut aku bunyi-bunyi terus deh dari tadi, ini kenapa ya?" tanyaku.
Mama terkekeh. "Jangan sok ngelucu ah."
Aku mengerutkan alisku mendengar jawaban Mama. "Aku seriusan, bukan lagi ngelucu."
"Makan Kak kalo bunyi perutnya." jawabnya.
"Emang ada makanan?" tanyaku dan Mama menggeleng menjawabnya.
"Terus aku makan pake apa?"
"Pake tanganlah." jawabnya. Aku memutar bola mataku.
"Nggak sopan ih!"
Aku terkekeh dan duduk disofa sebelah Mama. "Masakin dong Ma, aku laper banget nih."
"Minta sama Bibi gih, Mama lagi asik tahu."
Astaga. Kenapa punya Emak males banget sih? Kalian tahu apa yang sedang dia lakukan?
Berbaring dengan kedua tangan yang memegang ponsel dan kaki yang dilipat satu.
"Mama mau anak Mama yang ganteng nan rupawan ini mati kelaparan?"
Dia berdecak. "Gembel aja nggak makan lima hari nggak mati Kak." jawabnya.
Oh Tuhan! Maafkanlah orang tua hamba ini!.
"Maaaa masakin ih laper." rengekku dengan menggoyangkan lengannya.
Mamaku menghela napasnya, meletakkan ponselnya di meja, berdiri, mencium pipiku lalu berjalan ke arah dapur tanpa menjawab ucapanku.
"Alhamdulillah." gumamku lalu berbaring di mana tempat Mamaku berbaring tadi.
Lusa adalah hari di mana aku akan menjadi anak berseragam Putih Abu-abu, di mana aku akan mencari teman lagi, mengenal mereka lagi, mencari sahabat yang benar-benar sahabat, kalau ada juga mencari wanita, itupun kalau ada.
Apakah di sana aku akan menemukan seseorang yang akan mengisi hatiku?
"Ck, lo masih kecil Dya jangan cinta-cintaan dulu deh." gumamku sendiri.
"Kak! Udah selesai nih! Buruan makan takut dingin nanti nggak enak!" teriak Mamaku dari dapur.
"Kok cepet banget, perasaan Mama baru masuk dapur." gumamku lalu berjalan ke arah dapur.
"Cepet banget Ma?"
"Tuh dimakan kak." ucapnya dengan menunjuk sesuatu di meja dengan dagunya.
Aku menoleh ke arah meja makan.
Ih si Mama bener-bener ya!
Masa aku di bikinin Mie kuah doang ya walaupun ada sosis di atasnya!
"Mama masa mie sih ih, kalo usus sama lambung aku keriting gimana?" ucapku
"Tinggal di catok aja Kak biar nggak keriting, udah abisin." jawabnya.
Astaghfirullah.
Untung Adya anak yang tampan ini sabar, menerima apapun yang Mamaku berikan. Kalau tidak sudah aku kasih kucing tetangga sebelah nih makanan.
"Di makan jangan di liatin aja tuh makanan, nggak bakalan berubah jadi cewe cantik." ucap Mamaku.
"Apaan sih Ma." ucapku pelan lalu memakan makananku.
"Nanti jadi beli barang-barang buat kamu MOS?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Sama Mama?" Aku mengangguk lagi.
"Jawab ih jangan ngangguk aja!"
Aku menelan makananku. "Kakak lagi makan Ma, ntar kalo ngomong di omelin." ucapku.
"Yaudah yaudah abisin dulu." ucapnya lalu berjalan keluar dapur.
"Salah mulu gue." gumamku dan melanjutkan makanku lagi.
Tak sampai habis aku makan, perutku sudah tidak menerima makanan ini lagi.
"Alhamdulillah kenyang." ucapku lalu berjalan mengambil gelas kosong.
"Udah selesai mas?"
"Udah Bi"
"Nggak di abisin?"
Aku mengabiskan minumanku dan menggeleng "Kenyang." Bibi mengangguk lalu mengangkat mangkuk bekas makanku.
"Mama jadi anterin aku kan?" teriakku di bawah anak tangga. Tak melihat Mamaku di ruang keluarga pasti dia sedang berada di kamarnya.
"Jadi!" jawabnya dengan teriak.
Aku berjalan ke arah sofa dan menyalakan layar televisi. Menunggu Ratu Negara berdandan pasti sangat lama, jadi lebih baik aku menonton siaran yang ada di televisi
…
"Kamu yang bawa dong kak."
"Nggak mau, Mama aja tangan aku lagi nggak bisa di ajak nyetir." jawabku
"Ck, alesan aja lu." gumamnya.
Aku tertawa. Astaga tiada hari tanpa beradu mulut dengan Mama.
Mama menyuruhku membawa mobil untuk mencari barang-barang yang akan aku gunakan lusa nanti.
Namun karena aku sangat malas untuk mengendarai, jadilah kami saling suruh menyuruh dan memang Mamaku adalah Mama terbaik jadi dialah yang mengalah.
"Papa balik kapan Ma?" tanyaku memecahkan keheningan.
"Katanya sih nanti malem, tapi nggak tahu juga deh. Kenapa emang?"
Aku menggeleng. "Nanya doang biar ada bahan obrolan, aku juga udah tahu sebenernya."
Pinggangku di cubit oleh Mama yang matanya fokus ke jalan. "Jail banget sih lu jadi anak, ya Allah tua duluan deh nih gue."
Aku terbahak. "Emang udah tualah kata siapa masih muda?"
"Bodo amat." jawabnya.
"Baper deh baper." godaku. Mama hanya terdiam melihat ke depan tanpa menjawab ucapanku.
"Ma." panggilku. Tak ada jawaban.
"Mamaaa!" Hanya suara radio yang bersuara.
"Betapa malang nasibkuuuu."
"Jayus." jawabnya.
Aku terkekeh dan memeluknya dari samping. "Jadi orang tua nggak boleh baperan ntar makin tua udah nggak cantik lagi loh."
"Rese ah, sana nggak." ucapnya. Aku tertawa dan memainkan ponselku, dari pada Ratu Negara makin panas mending diemin aja dah.
Kami berdua sudah sampai di toko yang menyiapkan perlengkapan untuk sekolah, sekarang waktunya mencari keperluan untuk lusa. Aku dan Mama sedang berkeliling mencari sesuatu, aku bingung sedari tadi dia hanya mutar-mutar saja tidak mengambil barang satupun.
"Mama cari apaan sih?" tanyaku.
"Lah kan kamu yang mau beli, kamu mau beli apa?"
Aku menggeleng. "Kirain Mama dari tadi nyari barang."
"Ya mana Mama tahu apa aja yang di butuhin. Listnya mana?"
"List apaan?"
"Ck, list barang-barang yang kamu perluin Kak."
List?
Astaga!
Aku lupa mencatatnya!!
Mampus!
Kalau mama tahu bisa habis aku!
"Jangan bilang kalo kamu nggak nulis keperluannya apa aja." Selidiknya memincingkan mata. Aku terkekeh seraya menggaruk kepala yang tidak gatal. "Namanya orang lupa ya nggak inget Ma."
"Terus kemarin sekolah ngapain aja?" tanyanya dengan wajah yang sudah ingin berubah menjadi hulk.
"Ketiduran Ma." cicitku. Mama berjalan meninggalkanku sendiri di sini setelah mendengar jawabanku, aku sudah yakin akan ada perang dingin setelah ini. Aku berlari mengejarnya. Mama sudah berada di dalam mobil,dengan kecepatan ultraman aku berlari dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Ma maafin Kakak ih." ucapku dengan wajah sedih. Pura-pura doang kok ini biar Mama luluh.
"Terus buat apa ke sini Kak?"
"Aku lupa Ma."
"Kan dari di rumah juga udah bilang kalo bakalan beli peralatan kamu buat besok lusa." Aku mengangguk.
"Tapi malah nggak tahu apa yang harus di beli." lanjutnya lagi.
"Iyaa aku salah." Gumamku.
"Ya emang kamu salah, turun sekarang!"
Aku mengernyitkan keningku "Ngapain Ma?"
"Turun udah, nggak usah ikut Mama."
Mataku terbelalak. "Enak aja! Nggak mau Ma, masa aku di tinggal ih." rengekku.
Mamaku hanya terdiam dan menyalakan mesin mobil. Alhamdulillah gue nggak di suruh turun beneran.
Gini nih kalau sudah berurusan dengan Ratu singa yang sedang marah.
Tidak bisa di ajak bercanda, sekalinya di ajak bercanda di omelin.
Diem aja deh dari pada makin salah nanti.
Apa kalian ada yang sama sepertiku? Kuharap ada. Agar aku tidak merasakan kebodohan ini sendiri.
*****
Hallo! Salam kenal dari author!
Aku harap kalian enjoy dengan cerita ini.
Selamat membaca dan jangan lupa klik love dan komen ya! :)