“Adya! Kamu mau bangun nggak sih? Udah jam setengah tujuh kak! Mau sekolah atau nggak?”
Mimpi indah. Maafkan aku ya, aku harus bangun tak bisa melanjutkan ceritamu lagi.
"Bangun. Sekolah." gumam Adya yang tak mungkin di dengar Mama Zara, lalu dia berjalan dengan sekuat tenaga ke arah kamar mandi.
Ayo Dya! Hari pertama lo sekolah jangan males! Batinnya.
Adya sedang memandang ciptaan Tuhan yang sangat indah di depannya saat ini. Wajahnya yang selalu akan di ingat oleh siapapun, senyumnya yang manis.
"Kakak! Ngapain di depan kaca gitu senyum-senyum lagi bukannya turun sarapan!" ujar Mama Zara yang membuka pintu kamar.
"Mama ganggu aja ih." ucap Adya pelan, dia berjalan mengambil tas lalu keluar dari kamarnya.
Cermin! Nanti kita ketemu lagi ya siang! Jangan rindukan aku!
Hari ini adalah hari pertamanya sekolah dan hari ini juga dia akan melakukan kegiatan Masa Orientasi Sekolahnya, melakukan kegiatan siswa-siswa baru seperti biasanya.
"Jangan bikin ulah Kak nanti." ujar Papa Ammar. Adya mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Nggak ada yang ke tinggalkan di kamar? Mama nggak mau loh anterin ke sekolah kamu nanti." Adya hanya menjawab dengan menggeleng dan itu membuat Mama Zara mendengus sebal.
Adya dan Papa Ammar sudah berada di mobil sekarang, Papa Ammar akan mengantarkan anaknya ke sekolah untuk hari ini karena jalur sekolah Adya dan kantornya satu arah jadi tidak ada salahnya jika mengantarkan anaknya terlebih dulu.
"Turunin di depan gerbang aja Pa, nggak usah masuk."
"Emang kenapa?" tanyanya.
"Ya biar Papa bisa langsung jalan ke kantor."
Papa Ammar menggeleng. "Gapapa, Papa masuk dulu."
Yah ilah. Kan udah gede masa iya di anter sampe parkiran sih, nggak sekalian sampe kelas?
Membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai di parkiran sekolah baru Adya, Ia mencium punggung tangan Papa. "Yang bener yaa jangan bandel sekolahnya."
"Pa aku udah gede ih jangan digituin." jawabnya.
"Masih kecil belom kerja, belom nikah." ujar Papa Ammar.
Adya hanya menghela napasnya dan mengangguk. "Yaudah aku masuk ke dalem ya, Papa hati-hati jalannya."
"Siap!" Adya keluar dari mobil dan menunggu mobil itu hingga hilang dari penglihatannya.
Adya berjalan menuju gedung sekolah yang masih sangat asing ini dengan keyakinannya kalau dia saat ini sedang dipertontonkan oleh mata-mata siswa yang ada di sekitarnya.
Sumpah! Aku tidak berbohong. Mereka semua yang mempunyai mata sedang melihat ke arahku saat ini. Aku salah? Celanaku benar, tidak pakai kolor saja, bajuku rapi tidak ada kancing yang terbuka. Lalu apa?
Ah iya aku tahu!
Wajahku. Iya wajahku. Wajahku ini kan tampan, sudah pasti mereka semua melihatku dengan tatapan memuja. Wanitanya saja kok, lelakinya tidak. Batin Adya.
"Sepuluh dua di mana kemarin ya?" gumamnya sendiri.
"Eh!"
"Woy!"
"Dih malah jalan aja."
Adya terdiam dan menoleh ke belakang melihat seorang laki-laki dengan pakaian yang sama tersenyum ke arahnya dan menghampirinya.
"Lo yang kemarin ada di belakang tempat duduk guekan?"
Adya menghendikkan bahunya. "Nggak tahu."
"Ck, iya lo yang tidur itu"
Adya langsung mengangguk. "Nah itu gue, tapi gue nggak tahu lo."
"Iya lah lo nggak tahu gue, lo aja tidur." jawabnya dengan terkekeh.
"Kenalin dulu gue Gentara panggil aja Tara." ucap lelaki yang bernama Tara.
"Gue Adya." jawab Adya dan mereka berjabat tangan.
"Yaudah ke kelas yok!"
Adya mengangguk dan berjalan di sampingnya menuju kelas barunya. Mereka memasuki kelas yang minggu kemarin sudah mereka pernah masuki, suasana kemarin sangat berbeda dengan sekarang. Sekarang rambut para perempuan di kuncir tak beraturan seperti orang bodoh.
Astaga, untung saja aku bukan perempuan yang mempunyai rambut panjang seperti itu.
"Dya, duduk di mana?" suara Tara menghilangkan lamunannya. Adya menunjuk bangku kosong di pertengahan barisan dengan dagunya.
"Di situ aja." ucapku lalu berjalan dan di ikuti Tara.
"Gue duduk sama lo gapapa kan?"
Adya mengangguk. "Asal nggak di pangkuan gue aja."
Tara terbahak. "Ide bagus tuh."
Bulu kuduk Adya seketika merinding membayangkannya duduk di pangkuan Adya. Tidak. Terimakasih.
---
Saat kelas sudah mulai ramai dengan suara-suara orang di sini, Adya rasa teman-teman barunya sedang berkenalan, karena dia melihat banyak yang sedang berjabat tangan. Ck, aku sih malas biarkan mereka yang menghampiriku. Batinnya sombong.
"Tar nggak mau kaya mereka?" tanya Adya dengan menunjuk para perempuan dengan dagunya.
Tara melihat ke arah yang Adya maksud lalu menggeleng. "Ogah. Gue ganteng ngapain amat minta kenalan, biarin aja mereka yang datengin gue."
Astaga. Aku baru saja berbicara seperti itu di dalam hati.
"Pede lo."
Dia terkekeh. "Gue yakin lo juga berpikiran yang samakan kaya gue."
Dan bodohnya Adya langsung mengangguk. Tara tertawa dan menepuk bahuku. "Udah kita sama dah pokoknya." ujarnya.
Adya terkekeh. "Lo aja gue enggak."
Sepertinya Tara akan menjadi teman baikku untuk saat ini.
Seketika kelas menjadi hening. Adya dan Tara melihat ke arah pintu, ada empat orang yang memakai seragam sama dengan mereka masuk ke dalam kelas.
"Haii semuanya. Kita mentor kalian selama MOS berlangsung ya. Untuk awalan kita perkenalan dulu yuk!" ujar perempuan berambut panjang.
"Gue Halimah. Panggil aja Imah. Salam kenal semuanya." ucap perempuan yang berkerudung.
"Gue Tiara, salam kenal yaa, nggak usah terlalu kaku, asikin aja." ucap perempuan yang awal berbicara.
"Kanebo kering kali ah kaku." Adya dan Tara saling menoleh.
"Kok bisa bareng." ucap mereka lagi bersama.
Tara tertawa. "Anjir berasa jodoh kita."
Adya terkekeh. "Bacot b**o di liatin." ucapnya pelan. Tara langsung terdiam saat tahu seisi kelas melihat ke arah mereka.
"Gue Rey. Salam kenal." lanjut lelaki yang berada di depan kami.
"Gue Vero. Salam kenal semuanya." ucap lelaki yang di samping Rey.
Terserahlah kalian mau berbicara apapun juga aku tidak akan hapal juga dengan nama kalian.
"Sekarang kalian yang maju untuk perkenalkan diri kalian yaa."
Karena menurut Adya kegiatan ini tidak jas, dia membaringkan kepalanya di meja lalu memejamkan matanya. Berharap hari ini cepat berlalu.
"Eh Dya bangun b**o!" Adya hanya berdecak dan melanjutkan tidurnya lagi.
"Eh juragan iler lo di panggil." ujar Tara dan Adya langsung terbangun dan mengusap mulutnya.
"Anjir nggak ileran!" gumam Adya.
"Lo yang baru bangun. Ayo maju."
Adya yang baru saja terbangun sedikit bingung saat melihat isi kelas yang sedang menatapnya dengan bersama. Karena tak ada suara Adya berjalan ke depan kelas berdiri bersama kakak kelas barunya.
"Ayo ngomong ngapain diem?"
"Ngomong apa kak?" tanyanya.
"Kenalin diri." jawab Rey.
Adya mengangguk. "Hai semua. Gue Adya, salam kenal yaa."
"Udah gitu aja?" tanya wanita berkerudung.
Adya mengangguk lalu menaikkan alisnya. "Apa lagi? Tadi Kakak juga kenalannya gitu kan?"
"Nama panjang lo dan kenapa lo mau masuk di SMA ini." jawab lelaki yang bernama Rey.
"Gue Adya Naindra Benedict. Kenapa mau masuk ke sini? Karena di suruh nyokap, dia bilang SMA ini terbagus dari SMA yang lain." jawabku. Para kakak kelas yang berdiri bersama Adya menganggukkan kepalanya saat mendengar jawaban Adya.
"Hobby lo apa?"
"Nyanyi." jawabnya.
"Oke. Coba nyanyi buat kita." ucap perempuan rambut panjang itu.
Adya menaikkan alisnya dan melihat ke arah Tara. "lo tadi di tanya hobby?" Tara menggeleng.
"Mereka nggak di tanya hobby, kok gue di tanya?"
"Lo tidur. Udah ikutin aja."
Adya hanya menghela napasnya lalu mengambil gitar yang Rey berikan kepadanya, dan Tiara memakaikan topi rajut ke kepala Adya.
"Udah nyanyi." ucap Imah dengan memberikan Adya tas rotan.
Karena Adya yakin karena suaranya tak sumbang, begitu juga dengan wajahnya yang dia bilang sangat tampan, jadi dengan percaya diri dia bernyanyi di depan kelas dan di lihat oleh teman-teman barunya.
---
"Gila ya ini panas banget!" keluh Tara.
"Cemen lo baru panas gini doang juga." jawab Adya, Tara hanya berdecak dan melihat ke arah lapangan lagi.
Para siswa-siswi sedang berada di lapangan mengikuti intruksi para mentornya masing-masing tak lupa juga dengan matahari yang sedang tidak bersahabat. Kejadian beberapa lalu saat di kelas, Adya mendapatkan tepuk tangan yang meriah saat dia mengakhiri lagunya.
Para mentor memberikan nama panggilan masing-masing kepada murid baru dan jika salah satu dari mereka menyebutkan nama asli temannya dan didengar oleh mentornya, maka mereka akan mendapatkan hukuman. Itu permainan pertama.
Dan adya mendapatkan nama panggilan yang dia sangat benci saat pertama kali Ia dengar.
Pinun.
Nama panggilanku Pinun. Astaga apa tidak ada yang lebih bagus lagi selain Pinun? Batinnya.
"Lah iya panas juga ya." gumam Adya sendiri.
Adya mencari-cari sesuatu yang akan Ia gunakan untuk menutupi dirinya dari panas sang matahari. Adya tersenyum dan berjalan mengambil sesuatu yang akan Ia gunakan.
"Eh Pinun bodoh itu payung buat stand!" ucap si Tenun. Maksudku Tara. Tara mendapatkan nama panggilan Tenun dan Adya Pinun.
"Nggak perduli. Ini panas banget." jawab Adya masa bodo, Tara mendekatkan tubuhnya ke arah Adya untuk mendapatkan perlindungan dari payung stand itu. Payung besar yang sebenarnya bukan digunakan untuk kedua laki-laki yang berada dibawahnya itu.
"Adya itu payung bukan untuk lo." ucap Tiara yang tiba-tiba datang.
"Lo aja pake jaket kak, ini gue panas banget, atau nggak pinjem jaket lo deh. boleh?" jawab Adya memelas.
Tiara hanya memutar bola matanya. "Balikin lagi."
"Iya nanti kalo udah selesai." jawab Adya tidak perduli dan fokus ke depan.
Bodo amat. Orang panas. Di kata enak kali di jemur kaya gini. Untung Pinun yang tampan ini orang sabar, kalau tidak sudah aku runtuhkan gedung ini.
*****
Hallo! Salam kenal dari author!
Aku harap kalian enjoy dengan cerita ini.
Selamat membaca dan jangan lupa klik love dan komen ya! :)