PART 23| PEMILIK SANG KOLIBRI
Matahari pagi, seperti yang biasa mulai memancarkan sinar mentari indah. Gorden jendela kamar Avril mulai bergoyang-goyang oleh angin sepoi-sepoi yang berhembus. Pagi ini terasa sangat segar, begitu pula sang kolibri yang hanya tidur sebentar segera ke jendela bersiul-siul membangunkan gadis remaja itu.
Hahahah......Avril menguap lebar, merentangkan tangan dan seperti biasa nya lekas bangun dia mulai merapikan tempat tidurnya dengan sekejap semuanya telah rapi. Avril beranjak ke kamar kecil, mengganti pakaian nya setelah mandi. Pakaian yang digunakan nya kali ini adalah gaun kerajaan sebagain putri.
Angin dan cahaya matahari menyambut hangat gadis itu. Derikan serangga mulai membungkam. Avril mendekati jendela besar dan duduk di sana dan mengelus lembut bulu kolibri. Cawan yang terletak di meja memantulkan cahaya oleh cahaya matahari. Kejadian semalam masih terpikir keras di pikiran nya, namun dia telah membulatkan diri dan niat agar melakukan sesuai perintah Juliet.
Mungkin Ellie dan Markus tidak akan menghianati ku. Hanya manusia biasa kah yang akan menghianati dan mengacaukan semuanya! Gumam nya. " Mungkin juga pria muda yang aku temukan di hutan bersama Markus, mungkin dialah manusia suci yang telah di utuskan dan di takdirkan membantu ku! Ucap Avril dengan mimik wajah tanpa senyum namun berpikir.
" Mulai hari ini aku akan menyusun rencana bagaimana memimpin kerajaan dengan baik, dan cara melawan Cisen! Mungkin itulah cara yang baik dan bisa di andalkan. Jika nanti aku kesulitan aku bisa mengingat kembali dengan seluruh tenaga ku! Itulah salah satu kebijakan, nah siapkan payung sebelum hujan! Ucap Avril mulai mengambil secarik kertas yang lebar dan panjang mirip peta yang bisa di gulung. Avril mulai mengambil benda yang bisa menulis, dengan tulisan rapi dan wajah penuh berpikir mulai menulis semua rencana nantinya. Gadis itu tidak memperdulikan perutnya yang sudah lapar, namun setelah tidak tahan lagi menahan nya dia beranjak pergi ke ruang makan dan makan bersama secepat mungkin. Gulungan kertas yang telah berisi di titipnya kepada kolibri yang tangkas.
" Makan yang santai dong Avril, ntar kau kesedat! Ucap Skan memperingatkan saudara nya. Avril hanya mengangguk asal tetap makan dengan cepat tanpa banyak berceloteh, gadis itu pamit dan pergi lagi ke kamar nya.
Tomy,Visel, dan Skan tetap menatap Avril tiap hari dengan bingung. Tidak tau apa penyebab sifat Avril mulai aneh. Bahkan saat di tanya, gadis itu semakin tidak terbuka dan mulai wanti-wanti kepada semua nya selain orang tua nya. Namun sifat wanti-wanti tidak terlalu di tunjukkan secara fisik.
Avril menghabiskan waktu nya di kamar menulis rencana nya sesuai skenario nya sendiri. Bahkan saat Visel dan yang lain nya mengajak diri nya agar pergi bertualang, Avril menolak secara halus mengatakan dia sangat sibuk.
Hampir berminggu-minggu skenario itu selesai dan di simpan nya di sebuah tabung yang dapat memuat gulungan kertas itu dengan baik tanpa sobek sedikit pun. Semenjak skenario itu selesai di tulis dengan bahasa yang akurat ratu Lucy dan raja Peter mulai mengunjungi kamarnya. Melihat isi skenario itu, dan membacanya. " Ini mungkin telah bisa membantu mu nanti sayang! Puji raja Peter serius lekas selesai membaca isi nya di susul ratu Lucy" Benar, ini menakjubkan! Kata nya juga sangat pesifik dan akurat. Hanya orang yang tau kah mengerti maksud isi skenario ini! Timpal Lucy. Avril mengangguk dan kembali menyimpan nya di dalam tabung dekat Cawan suci.
Begitu cawan di dekat kan dengan gulungan skenario yang bersentuhan , ke-duanya bahkan bersinar dan gulungan kertas itu yang tiba-tiba terbuka dari tabung terpapar lebar dengan seribu cahaya yang silau. Ntah apa yang di lakukan cahaya ini, namun itu berguna.
Ratu Lucy berseru takjub, menyejajari putrinya di susul Peter. Tidak lama lagi, cahaya itu memudar cawan kembali seperti semula. Hanya gulungan kertas itu yang tetap.terbuka. " Ada apa? Apa yang sedang terjadi tadi? Tiba-tiba saja cawan dan gulungan itu bersinar! Tanya Lucy, kaget di lengkapi rasa penasaran dan kagum yang hebat. " Mari kita cek langsung kertas nya! Usul Avril dan mendekati tangan nya ke meja yang di atas nya ada gulungan tersebut. Ratu Lucy dan raja Peter yang diliputi rasa takjub, penasaran dan,kaget mengikuti Avril mulai melingkar di meja.
Fantastis! Tulisan dan sekiruh sajak skenario itu telah berubah. " Ini ajaib, siapa yang melakukan nya? Peter menoleh ke sana kemari. " Tidak, coba perhatikan tulisan baru ini! Lucy mengingatkan suami nya.
" Mungkin para taghayul dan leluhur kita setuju dengan apa yang kau tulis dan rencanakan sayang! Mungkin itulah sebab nya mereka menyempurnakan arti serat kalimat ini. Maka nya begitu gulungan bersentuhan dengan cawan yang berisi air suci, gulungan langsung bersinar ! Ini sebuah keajaiban, berarti barang ini kini sangat berharga! Jangan biarkan ada yang memegang nya bahkan melihat. Jagalah skenario ini baik-baik jangan sempat di curi! Selain ayah dan ibu. Peter menoleh ke arah Avril dengan tatapan kagum, sudut mulutnya mulai muncul.
Avril mengangguk, benar sebagian isi dan arti skenario tersebut telah di ubah dengan baik. Dia menyimpan nya dan meletak kan nya di saku yang ada di pinggang nya tempat pistol, pedang, busur di punggung. Tanpa terlihat skenario itu kini telah bersembunyi di balik saku, lekas sang ibu siap membacanya dengan teliti.
" Mungkin jika kita menunjuk kan nya pada Ratu Juliet, kemungkinan besar dia akan kasih jalan tanpa mengarahkan kita lagi! Ucap Avril.
" Kau lah yang akan melakukan nya sendiri nanti putriku! Ucap Peter menyela pembicaraan Avril. Gadis itu mengangguk semakin paham. " Oh... iya Visel dan yang lain nya semakin sering khuatir dengan mu Avril! Mereka selalu bingung, dengan sikapmu yang tidak masuk akal bagi mereka! Lucy mendongak kepada Avril.
Avril menggeleng, mengangkat bahu" Aku tidak tahu, sejak Ellie membacakan gulungan kertas itu, aku semakin enggan bercakap-cakap dan berpapasan dengan banyak orang! Aku semakin malas! Avril mulai menunjukkan gulungan kertas kusam yang di sampaikan Ellie, yang di simpan nya di dekat Cawan. " Tapi, apa sikap enggan ku itu terlalu mencolok? Lagi-lagi Avril mulai menatap bergantian orang tua nya. Seolah ekspresi wajah nya di penuhi tanda tanya.
" Sedikit, namun jangan lakukan itu sekarang. Kau bisa merusak semuanya Avril! Lakukan lah sesuai perintah nenek mu! Peter kini menatap Avril dengan bola mata yang membulat." Baiklah, tapi sikap itu muncul begitu saja! Mungkin itu tumbuh dari sifat takut ku waktu itu! Sergah Avril sopan.
" Sekarang kunjungilah mereka di tempat favorit kalian yang biasa! Namun jaga tetap Avril, jangan mentang sifat mu mulai memberitahukan hal itu atau menyindir mereka satu per satu! Peter menatap simpul Avril dan gadis itu pamit keluar mengunjungi Visel dan yang lain nya bersama Kolibri yang setia.
***
" Hah, Avril nya datang tuh! Visel berseru lega lantas melihat gadis sebaya nya mendekati tembok, tempat nya duduk. " Hai semuanya! Ucap Avril sekedar basa-basi. " Tuan putrinya sudah lama tidak menunjukkan diri nya, tuh ini baru muncul! Skan menyeringai lebar di sambut isengan Tomy.
" Aku ingin menanyakan satu hal pada mu Avril! " Sejak kau pulang bersama ratu dari hutan untuk bertualang, sifat mu aneh sekali cuek! Ucap Visel sedikit kesal begitulah tabiat nya. " Aku malas, badan ku lelah sekali! Bahakn mood-ku juga hilang! Avril menjawab dengan wajah serius.
" Benar kah? Aku juga sudah mengiraseperti itu! Ucap Tomy melirik ke arah Skan yang berada di sebelahnya.
" Kalian sedang apa di sini? Bukan kah kalian bosan jika terus disini? Avril mulai duduk di sebelah Visel. Mereka ber tiga serempak menggeleng." Pemandangan di sini indah Vril.Mana mungkin kami akan bosan di sini jika tidak bertualang? Sergah Skan. Avril mengangguk dan pamit ingin pergi, denagn alasan dia masih kantuk.Memang benar semalam gadis itu kekurangan tidur. Dia mulai menguap dan mengusap rambut di dahi.
" Huh, harus kah secepat itu? Tapi terserah jika kau memang benar-benar sedang kantuk.Kamj tidak bisa melarang nya! Tomy menghembuskan nafas pelu penuh kesal dan Visel mulai membagikan anak rambut di dahi. ' Maaf, semuanya aku akan kembali jika waktu ku ada! Avril mulai pergi dari sana kembali menuju kamarnya.
Sang kolibri menunggu penuh sabaran, dan tidak ada satu pun yang hilang dari sana. Avril merentangkan badan di atas ranjang dan mulai tidur terlelap.
Tidak lama, setelah gadis itu terlelap di siang hari sebuah mimpi teregonisasi di pikiran nya...
Dari kejauhan terlihat sebuah pria yang mencolok, tampan, gagah, tinggi dan bisa di katakan perfect! Pria itu tidak asing ketika Avril bertemu dengan salah seorang pria di hutan ketika dia menjalani hutan bersama Markus. Pria itu kini telah berada di depan Avril.
" Bukan kah kau pria yang pernah aku temui di hutan waktu itu? Avril terkekeh ketika pria itu mengangguk sambil mengibaskan sebilas senyum di bibir nya yang anggun. Avril menjauhkan rasa tergoda nya.
Yang paling aneh lagi, kolibri kecil imut yang tadi nya ada di pundak Avril kini telah terbang menuju pria itu dan hinggap di pundak nya lagi. " Apa kau Pemiliki burung itu? Siapa kau? Apa yang hendak akan kau lakukan? Nada bicara Avril kini lantang menatap tajam pria itu.
" Aku datang kemari hanya untuk membawa kembali burung ku ini, dan akulah pemilik nya! Serta aku datang kemari mengingatkan mu satu hal putri!
" Apa kah kau orang suci yang dipilih dan di takdirkan untuk membantu ku? Apa kah aku orang yang setia itu? Avril lantas mengingat sesuatu hingga berbicara terlebih dahulu sebelum pria itu menjelaskan. Dia hanya tersenyum, sedangkan Avril diliputi tanda heran.
" Benar, aku lah orang nya itu! Aku beruntung kau mengingatnya, aku juga berterima kasih kau tidak melupakan janjimu kepada leluhur mu! Panggil saja aku Pangeran Spungki! Aku telah lama tinggal di kerajaan Thour leluhurmu setelah aku di takdirkan! Sudut mulut mulai muncul di wajah pria itu.
Ruangan aula istana sangat sepi, apa yang di bacakan Ellie melewati gulungan kertas kusam itu genap terjadi. Semua orang terutama Visel,Skan, dan Tomy juga menyindir dan menghianati nya. Kini aula sama sekali kosong, bahkan para pegawai istana juga menyindir tiap kali bertemu dengan Avril.
" Wahai Ratu Avril yang telah di nobatkan, aku akan membantumu! Jangan cemaskan, semua nya akan berjalan mulus jika kau tetap semangat! Spungki kini lebih ramah dan menyemangati Avril yang kini telah menjadi ratu.
" Maaf..sungguh..aku sangat minta maaf kepada mu! Aku telah membawa pulang kolibri mu! Avril menatap isak pada pria itu. " Tidak seharusnya kau minta maaf Yang mulia! Justru aku kah yang sengaja memberikan burung ini tanpa sepengetahuan mu.Burung ini sudah terlatih, jadi aku memberikan nya pada mu untuk menjaga mu dan sekedar membantu masalah kecil! Spungki mulai tertawa kecil.
Avril terbelalak merasa sedikit jengkel" eh? benarkah? Raut wajah Avril tiba-tiba beruabh tiga ratus enam puluh derajat seperti biasa. Spungki mengangguk dan menghentikan tawa nya.
" Baiklah, apa kau selalu mengenakan kalung itu? Spungki menunjuk kalung yang di pakai Avril yang ada sepasang. Tentunya itu adalah, kalung dari kutukan tubuh orang tua nya. Avril mengangguk sembari tersenyum mulus.
" Di mana ke-tiga teman mu itu? Apa mereka juga ikut tercoba dalam penghianatan? Lantas topik pembicaraan telah berubah di buat oleh Spungki. Dia malah memperkeruh suasana menjelekkan mood-nya Avril. " Yeah, bahkan mereka lebih dari itu, mereka juga ikut mengolok-olok ku sepuas nya mereka inginkan, tertawa seperti orang gila! Gerutu Avril, berusaha tersenyum palsu meringankan pikiran.
" Jangan khawatir, di luar sana masih ada teman yang akan menolong kita! Spungki berusaha menenangkan suasan hati Abril agar tidak terlalu menegang kan. Avril sekejap menatap tajam Spungki. Seolah tatapan nya bermaksud ' Siapa orang itu' ? " Aku tidak tau tapi aku bisa memastikan nya! Spungki menggeleng tegas.
" Bagaimana kondisi kerajaan ini? Spungki balik bertanya. " Biasa, namun karena penghiantan semua jauh di bawah normal! Cetus Avril kesal. " Kita akan ke ruang makan untuk mengisi perut kosong ini! Avril bergegas cepat beranjak menuju ruang makan di susul oleh Spungki dari belakang.
Spungki juga sedikit kesal melihat kerajaan sangat sepi " Siapa lantas nanti yang akan ada di sana? Mungkin kah juga hanya kita ber dua? Atau ikut kah juga teman mu itu? Avril menggeleng tidak tau" Tapi mungkin mereka ada di sana! Netralkan lah juga sifat mu Spung! Aku akan mengurus nya nanti, meski begitu bukan jadi aku harus mengalah atau takut semacam nya pada mereka. Aku lah pemimpin di sini sama seperti yang di katakan oleh ayah dan ibu sebelum mereka di kutuk! Avril kembali menatap kalung nya yang berkilau .
" Aku juga patut sedih Avril, tapi apa boleh buat? Mungkin itu telah di atur!