PART 22| SEBENARNYA ADALAH PENGHIANATAN.
" Makan yang banyak dong sayang! Nanti kamu jadi kurus kayak triplek! Ratu Lucy berusaha membuat lelucon agar Avril tidak terfokus tentang hal yang baru Ellie sampaikan. Avril mengangguk tanpa ekspresi di wajah nya.
" Tumben kamu jadi kayak gini. Biasa nya kamu kan periang, Vril! Skand menyeringai lebar dan raja Peter sedikit menyelidik namuj Lucy menyikut lengan nya dengan tatapan seolah mengartikan" Semua nya akan ku jelaskan nanti" .
Avril dengan cepat menyelesaikan acara makan dan seketika piring yang tadi nya berisi roti telah hangus. Avril cepat-cepat pamit untuk pergi ke kamar nya. " Di sini dulu dong! Gak seru kalau Avril nya tidak ada. Ayolah Avril kau tidak akan membiarkan kami hanay ber-tiga sajakan? Visel mengedipkan matanya dan menahan Avril.
Avril sempat terlena ikut terharu melihat betapa akrabnya Visel, Skan, dan Tomy pada nya. Air mata yang hendak membendung di tahan nya dan melepaskan tangan Visel. Menolak penawaran mereka dan cepat mengusir rasa terharu itu. Gadis dengan rambut menjuntai mulai masuk ke kamarnya. Sang bunda yang tau hal itu membiarkan putri nya pergi agar refleks.
"Ehh, tumben Avril nya berbeda ya? Skan sedkit menoleh ke arah ratu Lucy." Lagi malas, kali! Jawab Visel singkat namun di hati nya tidak sesingkat itu.
***
Apa sebenarnya yang hendak akan terjadi? Benarkah ramalan dari gulungan kertas tua itu akan terjadi? Lantas, aku sekilas melihat nya seolah tidak percaya. Bagaimana cara Visel dan yang lain nya akan menghianati ku? Mereka bahkan sangat akrab padaku.
Bagaimana_bagaimana jika itu benar terjadi? Akan kah ratu Juliet akan marah? Kenapa tiba aku akan menjadi pemimpin kerajaan, ramalan itu di katakan? Semua orang menyindir ku, seakan cuek.Ohhh...aku sama sekali tidak bisa membayangkan nya.
Bayangkan saja jika aku jatuh tersungkur! Akan kah benar ada yang membantuku di luar sana? Mungkin kah itu pria gagah yang aku lihat di hutan tadi? Jika semuanya akan terjadi, aku sungguh....sungguh...menyesali.
Mungkin harapan ini tidak bisa di pertahankan padaku. Betapa malangnya nasibku ini!
Tapi mungkin ini akan benar-benar terjadi. Tadi saat Ellie membacakan nya di nampak gelisah bukan senang.Taoi apakah saat bertarung menaklukkan Cisen nanti di butuh banyak prejurit? Sanggupkah dia hanya seorang diri? Sebalik nya lagi, bagaimana cara nya aku bisa mengalahkan Cisen seorang diri?
Gadis itu tampak gelisah di atas ranjang nya. Burung Kolibri itu berkicau merdu, namun tidak menetralkan suasana hati gadis tersebut. Kembali mengatapi atap kamar yang terbuat dari perak. Mulai mengatapi gulungan kertas dari Ellie. Melihatnya dengan hati-hati dan lamat-lamat membaca nya.
Fantastis! Saat gulungan itu di pegang oleh nya, cahaya terang terlihat menyinari tubuh Avril dengan silau. Seakan cahaya itu memberikan jawaban yang pas langsung ke hati gadis itu.
" Ini...ini..seperti seperti_ Avril terjatuh ke ranjang nya kembali memegang buku. Cahaya itu telah memberikan jawaban yang sesungguhnya kepada Avril.
Sebuah ketika pintu mulai terdengar. Dengan wajah murung dan malas Avril berseru kesal " Yeah, masuk! Begitu Avril siap mengucapkan kalimat nya, pria dan wanita berjalan mendekati gadis tersebut dan mulai duduk di sisi nya. Itu adalah orang yang paling di kenalnya yakni ratu Lucy sang ibunda dan raja Peter sang ayah.
Avril murung dengan ke dua tangan menopang dagu tanpa menoleh ke arah orang tuanya."Hahahah.......aku sudah tau semua nya sayang! Kau cukup tegar menjalani hidup ini! Sang ayah mengehela nafas panjang dan mengelus lembut rambut menjuntai putri nya.
Lagi-lagi Avril tidak menoleh bahkan dia semakin kesal, kecewa, sedikit marah dan grogi saat ke dua orang tua nya berada di benak nya. " Kau harus tegar' sayang! Peter berusaah menyemangati Avril dan belum melepaskan tangan nya yang di regangkan di kepala Avril sembari mengelus lembut rambut nya.
Ratu Lucy menatap kesal putrinya melihat betapa mudah nya dia putus asa dan tidak percaya diri.
" Kami akan tambah kesal dan kecewa jika kau tetap seperti itu Avril. Putus asa bukan pilihan yang baik. Kau bahkan harus, berjuang memimpin lebih baik kerajaan ini. Kaualh generasi pewaris kerajaan yang lebih baik.Kau telah di percaya! Timpal Lucy memberikan senyum hangat . Avril sama sekali tidak tertarik.
Namun itu sudah memicu nya agar lebih semangat. Sebagian nya telah pulih,namun setengah lagi seoalah amsih di dunia mimpi penuh khayalan berputar tanpa henti.
"Ingat saja sayang! Tidak ada hidup berlangsung mudah ,pasti di lalui oleh pencobaan dan buka segampang membalikkan telapak tangan! Kau akan terjatuh jika sifat mu masih runtuh.
Seorang penyelam dasar laut atau astronot bulan akan mati jika mereka kehabisan tabung oksigen. Di bulan tidak ada udara akibat ruangan nya bersifat hampa dan di laut akan sulit bernafas karena tidak bisa mengambil udara di air. Dasar laut terlalu dalam, jadi tanpa trik semuanya akan tercoblos naif kecerobohan! Begitu juga dengan trik hidup. * Remember, life is getting complicated*
Ucapan Lucy sang ibu memang sangat menyentuh dan ayah yang baru menyadari kehadiran burung Kolibri bertanya heran" Itu burung Kolibri mu' Vril? Peter sejenak mendongak melihat Kolibri dan kembali menatap Avril dengan antusiasme.
" Aspek kehidupan kan sudah pernah di jelaskan oleh ibu ! Timpal ratu Lucy mengabaikan pertanyaan raja Peter. Avril mengangguk" Benar' itu memang burung Kolibri yang aku temukan tadi saat berjalan-jalan ke hutan yang lebih asri bersama Markus! Kali ini mimik wajah dan ekspresi Avril berubah, murung di wajah nya surut. Sang ayah mengangguk paham.
Waktu terus berlalu, namun Peter sang ayah memutuskan agar menceritakan yang sebenarnya. Avril menyimpan cawan di tempat paling rahasia yang tidak diketahui siapapun kecuali ratu Lucy dan raja Peter. Avril kini semakin mengerti, kantuk malam belum menjemput kelelahan nya.
" Tunggu, sebelum nya burung Kolibri mu' ini sanagg lah pintar! Apa kau melatihnya? Kapan dia menjadi sepintar ini? Ratu Lucy menatap burung itu yang terbang mondar mandir hinggap di pundak Avril. Justru pertanyaan ratu Lucy mmebuat Avril diam membeku dan bungkam tidak tau apa yang harus di perbuat nya.
" Ntahlah, aku hanya menemukan nya! Skenario Avril bekerja hingga tanpa sadar dia telah menjawab pertanyaan sang ibu.
" Apa kau sudah memastikan nya agar tidak berbahya bagi semuanya kan? Mata sang ayah tertuju pada Avril, pupilnya membulat memastikan.
" Aku juga tidak tau ,tapi aku jamin dia tidak berbahaya bahkan Markus telah memeriksa mau! Jawab Avril pelan. " Baiklah kalau begitu! Ratu Lucy menjawab mendahului sang ayah yang hendak ingin bicara.
" Eh..emang nya Markus secerdik Koba? Tanya Peter heran. Ratu Lucy menggeleng" bukan, Koba tetap lebih pintar dan lebih gesit! Sergah Lucy.
" Kau harus kokoh, putriku! Jangan terlalu cemas dan jangan berkecil hati!
***
Gadis itu mulai mengerti, betapa banyak harapan bagi nya. Dia tersenyum simpul, menyeka air mata di pipi nya yang pelu, dan memeluk erat-erat Peter dan Lucy yang di balas dengan senyum hangat dan pelukan manis.
Kolibri kecil mulai tidur, di atas meja. " Kau harus ingat, bahwa cawan itu bisa mengabulkan permintaan mu sama seperti yang di katakan oleh air suci itu. Kau bisa meminta pertolongan kepada Ellie dan Markus! Ratu Lucy menatap Avril dengan lembut. Avril mengangguk melepaskan pelukan nya..
" Baik, ayah akan membawa mu ke ruangan ratu Juliet. Agar kau mendapat aspek kehidupan baru dan motivasi yang lebih maju. Meski ibu mu telah mengajarkan aspek kehidupan, mungkin itu masih kurang! Peter mulai ke luar dari kamar Avril menuju ruangan tertentu yang di ikuti oleh gadis itu dan sang ibu.
***
Suasana lengang,menyisakan suara desingan lembut. Ratu Juliet sedikit, cemas ketika mengingat akan hal yang di katakan Cucu nya.
" Kau lah yang akan bertanggung jawab akan hal itu' sayang! Ratu Juliet membuat keputusan dengan mata berlinang. Sosok nya yang masih muda, tidak sama seperti manusia. Dia tetap berwujud seperti hantu.
" Tapi, bagaimana.. bagaimana aku akan menaklukkan nya jika aku berteduh melawan nya sendirian? Mungkin kah aku akan mati, dan semuanya akan menjadi kacau? Siapa lagi yang akan memimpin kerajaan ini? Akan kah semua nya akan baik-baik saja? Avril sedikit tidak terima.
" Benar, jika kau tidak bertanggung jawab,.semua masa depan akan segera hancur dan semua era kekuatan kita akan berada di pihak Cisen! Juliet menatap tajam Avril memastikan apakah dia bersedia. Avril membisu tanpa menjawab sepatah dua kata pun.
" Tidak lama lagi, orang tua mu akan di kutuk oleh nya. Mungkin orang tua mu menjadi hewan atau benda sebagai nya. Apa yang akan kau lakukan jika hanya sendirian mu lagi? Akan kah kau mengingkari janji mu? Akan kah kau tidak aku berkorban demi kehidupan yang sejahtera? Aku tidak akan memberikan benda ku ini pada mu, jika kau telak mengingkari nya atau menghianati seluruh orang! Dengan banyak pencobaan begitulah hidup, bukan seperti permukaan kaca yang mulus!
Bahkan ke dua orang tua mu tidak berhak memberikan benda itu pada mu jika kau bersi keras mengacaukan kebaikan ini! Kali ini nada bicara Juliet mulai beda yang penuh dengan penekanan di setiap kata." Ambisi Cisen sangat berbahaya, jangan percuma kau seorang putri keturunan orang yang sangat kuat dan setia!
" Sungguh, aku sangat tidak berharap banyak! Aku tidak menyangka nanti nya semua akan menghianati ku. Akan kah memang kenyataan ada yang membantuku? Apa Markus dan Ellie juga akan menghianati ku? Setetes air mata lagi jatuh di pipi gadis itu menatap lamat Juliet. " Aku tidak tau masalah itu, memang benar akan ada yang membantu mu! Dia memiliki seekor burung, persis seperti burung Kolibri mu' tersebut! Tatapan Juliet seketika mengalih kepada sang Kolibri kecil.
" Bahkan orang yang sangat akrab dengan mu, akan memiliki sifat pada mu! Tingkah laku mereka seakan tidak mau di atur, keras kepala! Ucapan Juliet membuat spontan Avril frustasi, antusias mengingat orang yang sangat dekat nya yaitu Visel, Skan, dan Tomy.
Avril mulai tegar membulatkan niat, dengan prinsip*Bahwa hidup ini adalah penghianatan tanpa teman*. " Baiklah, aku akan melakukan nya dengan tegar Yang mulia! Aku akan mencari teman yang benar-benar akan membantuku suatu saat nanti. Avril menunduk dan orang tua nya menangis terharu melihat putrinya mulai tunduk dan akan mengorbankan nyawa demi kerajaan melawan Cisen. Juliet senang melihat cucu nya setia seperti para leluhur nya.
" Aku akan mempercayakan benda ini, tanpa celah sedikit kepada mu sayang lekas kau menjadi ratu menggantikan tahta ayah mu! Juliet mulai menyimpan kembali peti emas tersebut. Avril bengkit mengangguk dengan percaya diri dan nekat nya telah bulat total.
" Tapi ingat, sekali kau merasa di goda atau di cobai siapa pun ketika semua nya menghianati mu, selain orang yang telah kau temukan untuk membantu mu segeralah percikkan sedikit air dari cawan suci, dan kau harus membawa nya selalu kapan dan dimana pun!
" Aku akan menjelaskan lebih banyak lagi, saat kau telah bulat dengan kesepakatan baik itu. Saat kau telah menjadi ratu yang setia, hidup bukan karena teman Avril, melainkan kesetiaan dan nyali lah semua nya! Yang membuat hidup mu memang ada sedikit pengaruh dari pergaulan, namun hal itu tidak harus induk atau pokok kehidupan mu. Yang memberikan nyawa pada mu kan bukan mereka! Intinya lakukan lah yang paling berharga dan lebih di hargai untuk menguatkan nama kerajaan ini! Jelas Juliet kali ini dengan tatapan lembut.
" Aku ingatkan sekali lagi, waktu orang tua mu di kutuk tidak akan lama lagi jadi oleh karena itu banggakan mereka dengan perbuatan mu! Sebelum di kutuk, usahakan teruslah bersama orang tua mu, kalian harus berkumpul di aula istana. Jika orang tua mu mendadak menjadi benda sepeti permata kalung atau gelang, jangan biarkan di simpan tetaplah pakai dengan secara bersama. Itu menambah kekuatan mu dan seakan roh orang tua mu mengajarkan kepada mu akan berbuat seperti apa! Jangan biarkan kutukan mereka itu, rusak, retak, atau di pegang oleh Cisen sekali pun! Avril sekali lagi mengangguk dan memeluk ke dua orang tua nya erat sekali mengingat, bahwa mereka akan segera di kutuk.
Ruangan itu kembali hening, sunyi senyap kini menyisakan suara derikan serangga. Burung kolibri tidak tidur namun hinggap di pundak gadis itu. Sesuai perintah Juliet mereka mulai beranjak pergi namun Avril melupakan sesuatu, dia ingin menanyakan sesuatu kepada sosok gaib itu.
" Tunggu ,sesuai ucapan Ellie sang taghayul, apa kah itu benar Yang mulia adalah taghayul yang mengabdikan diri setelah kematian mu di tangan Cisen? Avril bertanya antusias dan Juliet mengangguk serius dan mulai kembali ke tempatnya. Avril menatapi benda tersebut dan akhirnya menyusul mengikuti sang ayah dan ibu melewati benda elektronik yang menjadi jalan bagi mereka. Tidak ada satupun pegawai istana hingga Tomy, Visel, dan Skan yang mengetahui tempat itu meski telah sering melintasi nya. Mereka hanya menganggap sebagai tembok biasa. Avril pergi ke kamarnya beristirahat meletakkan Kolibri kecil di meja dekat Cawan. Pintu kamarnya di tutup dan seperti biasa, Ellie mulai kembali menjaga Avril agar tidak bahaya setelah gadis itu tidur dan tanpa kesadaran nya.