Seperti biasanya, Nela adalah sosok yang ceria. Meskipun hal buruk menimpanya satu bulan lalu, ia mencoba menutupinya dari keluarga yang ia cintai dan ia sayang sepenuh jantung. Tanpa ada yang curiga dan tanpa ada yang tahu tentang hal yang membuatnya hancur. Hancur hatinya perasaannya hidupnya dan masa depannya. Eh tunggu! Emang Nela punya masa depan?
“Ya punya lah Thor, masa depanku cerah loh,” sungut Nela.
“Iya-iya, tidak usah ngambek!”
Seperti itulah jika sosok Nela sudah mulai ngambek.
“Nel? Nela?”
“Apa, Mak? Kenapa? Ada apa? Bagaimana?” cerocos Nela.
“Kamu itu ya, kok baru bangun! Ini lihat jam berapa? Sudah jam sembilan! Nasib konsumen toko kami bagaimana hah? Ya ampun, punya anak perawan kok malasnya minta ampun. Habis sholat subuh itu langsung bangun, bukannya malah tidur lagi!” omel Atul.
Sementara yang di omeli hanya bersikap bodo amat. Bukannya tersinggung malah, menguap dengan lebar hingga membuat tangan Emaknya menempel sempurna di pundaknya.
“Astagfirullah, EMAK! Sakit banget ini! Pagi-pagi sudah KDRT sama anaknya,” sungut Nela seraya mengusap pundaknya.
“Sekarang kamu mandi, dan berangkat cari duit sana!” ucap Atul.
“Idih, Emak! Kejam banget dah jadi Ibu! Masa anaknya di suruh nyari duit sendiri, tuh si Mamas malah kagak pernah di suruh-suruh kerja!” sungut Nela lagi.
“Mandi gak! Emak pukul kamu kalau gak cepat mandi!” ucap Atul seraya mengangkat sapu lidi di tangannya.
“Iya, Mak. Iya!” ucap Nela.
Akhirnya Nela pun pergi mandi dengan lemas lunglai lesu dan lemah. Drama pagi memang seperti itu di rumah keluarga Nela, tapi hanya Nela saja yang seperti itu. Selesai dengan urusan mandinya, Nela pun bergegas siap-siap ingin pergi ke toko. Sebenarnya ia sangat malas pergi ke toko, entah apa yang terjadi, akhir-akhir ini tubuhnya terasa lemas alias malas ngapa-ngapain, terutama di waktu pagi hari.
“Mak, cumi asem manis pesananku mana?” tanya Nela saat sudah sampai di dapur.
“Itu di mangkuk putih, lainnya sudah Emak masukkan dalam rantang untuk kamu bawa,” ucap Atul.
“Emak sudah sarapan?” tanya Nela.
“Ya sudah dong! Jam segini Emak belum makan, ya nangis cacing-cacing di perut Emak,” jawab Atul.
“Mak, besok masakin cumi lagi ya, nanti aku belikan cuminya,” ucap Nela seraya mengunyah cumi.
“Napsu makan kamu akhir-akhir ini meningkat, Nel. Dan lagi kamu tuh kok makin suka sama cumi sih? Aneh kamu itu?” ucap Atul.
“Aku ngidam Mak, jadi turuti saja kemauanku, daripada cucu Emak ileran.”
Sebuah centong sayur melayang dan mendarat tepat di kepala Nela. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Atul, yang syok dan kaget dengan ucapan Nela barusan.
“Ngidam-ngidam gundulmu peyang! Kalau ngomong tuh jangan aneh-aneh. Nikah dulu terus kawin, habis itu hamil baru ngidam. Ngomong kok kayak kerak neraka tuh mulut!” omel Atul.
“Aku udah kawin Mak, di kawinin paksa tepatnya,” ucap Nela, tapi dalam hati saja, tanpa berani mengatakan pada Atul.
“Heh! Malah ngelamun! Cepat habiskan itu, dan berangkat sana!” ucap Atul.
“Iya, Mak,” ucap Nela dan bergegas menghabiskan makanannya.
“Mak, aku berangkat dulu,” pamit Nela.
“Iya, hati-hati nyetirnya, jangan ngebut-ngebut. Nanti jangan pulang sore,” ucap Atul.
“Mak?”
“Apa lagi?” Atul melihat Nela yang terlihat beda.
“Maafkan Nela,” ucap Nela seraya memeluk Atul.
“Kamu kenapa sih?” tanya Atul heran.
“Maafkan aku, Mak. Maaf karena selalu bikin Emak Bapak sedih dan malu. Maafkan aku Mak, maaf,” ucap Nela. Tanpa terasa air matanya mengalir.
Atul merasa bingung dan aneh akan sikap Nela kali ini. Tidak biasanya sang anak bersikap seperti ini. Biasanya tiap pagi hanya bisa membuatnya jantungan dan spot emosi, tapi kali ini Nela memeluknya seraya menngis.
“Kaku kenapa, Nel? Apa yang terjadi padamu?” tanya Atul seraya melepas pelukan anak gadisnya itu.
“Mak, jika Nela melakukan kesalahan fatal, tolong jangan benci dan jauhi Nela ya. Emak boleh pukul atau menghajar Nela, tapi Nela mohon jangan benci Nela ya Mak,” ucap Nela.
“Nela? Jujur sama Emak, apa yang terjadi padamu?” tanya Atul pelan.
Di saat begini Atul harus bicara pelan-pelan. Perasaannya tidak enak. Perasaannya itu seolah de javu, di mana perasaan saat Nela mengalami pembulyan dulu.
“Maafkan Nela Mak. Maafkan Nela!” ucap Nela seraya menundukkan kepalanya serta air mata yang mulai membanjiri pipinya.
“Nak, bilang sama Emak, siapa yang membuatmu bersikap seperti ini?” tanya Atul.
“Aku menyukai seorang pria Mak, dan aku terlalu mengejar dia, tapi dia membenciku Mak, sangat membenci diriku,” ucap Nela.
“Tidak ada manusia yang bisa menahan sebuah perasaan cinta, Nak. Tapi ingat satu hal, jangan menyiksa diri perasaan yang tidak terbalaskan. Emak tahu anak Emak ini sangat kuat dan tangguh, tidak mungkin lemah hanya karena cintanya di tolak,” ucap Atul.
Nela kembali menangis, sebenarnya ia ingin mengatakan yang sebenarnya pada Atul, tapi ia kembali merasa takut, takut jika keluarganya kembali merasakan keterpurukan seperti dulu, Nela menyesal akan sikapnya yang terlalu berlebihan, ia sadar jika bar-barnya selama ini membawanya dalam sebuah lubang yang membelenggunya saat ini. Atul memeluk tubuh Nela yang semakin bergetar, tangisannya terdengar pilu.
“Jangan seperti ini, Nak. Emak takut, Emak takut, kamu kenapa-kenapa, Nak,” ucap Atul.
“Aku sangat mencintai dia, Mak. Tapi kini rasa cintaku sudah berubah jadi sebuah kebencian saat ini,” ucap Nela.
Atul merasakan kesedihan Nela. Ia tahu anak gadisnya tengah putus cinta, ini adalah pertama kalinya Nela bercerita soal cinta dan pria padanya. Selama ini yang ia tahu anaknya hanya selengekan bar-bar tanpa pernah terlihat jika tengah mencintai seorang pria. Namun kini anaknya itu tengah menangis meratapi kisah cintanya.
“Nela takut, Mak! Nela takut jika Kalian membenciku,” ucap Nela”Kami tidak akan membencimu hanya karena kamu membenci seorang pria, Nak. Kami sangat menyayangimu, di balik sikap kami, percayalah kami sangat menyayangimu, Nak,” ucap Atul.
Bukan itu yang Nela takutkan. Nela menakutkan sesuatu akan hidup dalam dirinya. Ia takut jika kejadian itu bisa menghadirkan kehidupan baru dalam tubuhnya, ia takut, semua rasa takut itu semakin besar saat ia menyadari beberapa perubahan dalam dirinya. Ia tak tahu harus apa, jika ketakutannya itu benar-benar terjadi nanti.
“Kalau kamu tidak enak badan, kamu tidak usah ke toko. Di sana sudah ada Nurul dan Ingka,” ucap Atul, seraya mengusap punggung Nela.
“Aku takut, Mak. Aku takut,” ucap Nela lirih.
“Jangan takut, kami selalu ada untukmu Nak. Sekarang tenang ya, jangan berlarut-larut dalam kesedihan,” ucap Atul.
Namun Nela tidak mendengar ucapan Atul, kepalanya terasa pusing, hingga perlahan-lahan kesadarannya hilang.
“Nela! Nak! Astagfirullah, Nela bangun, Nak!”