Restoran Jepang di pusat bisnis itu tenang, elegan, dan penuh eksekutif yang makan sambil memikirkan angka. Akan tetapi meja pojok dekat jendela? Itu beda. Di situ duduk sepasang suami istri yang aura “baru pulang bulan madu”-nya terlalu mencolok untuk ruangan penuh orang stres. Rafka duduk duluan, tapi cara ia menarik kursi Anggita sebelum istrinya sempat mendekat… itu sudah bikin dua perempuan di meja sebelah berbisik, “Pria gentle beginian cuma ada di novel.” “Duduk, Sayang,” ucapnya. “Raf… ini bukan Jepang lagi, kamu nggak perlu terlalu—” “Biarin. Aku mau memanjakan kamu sampai kamu bosan.” “Kayaknya aku nggak bakal bosan,” gumam Anggita kecil sekali. Namun sayangnya Rafka mendengar. Hal itu membuat senyumnya seperti senyum pria yang tahu persis istrinya sedang jatuh cinta diam-d

