Pagi itu, Jakarta terasa lebih terang dari biasanya—atau mungkin itu cuma Anggita yang masih bawa senyum honeymoon. Rambutnya dikuncir sederhana, lipstik natural, tapi aura “baru pulang bulan madu” terlalu terlihat. Bahkan satpam depan Aurora Tech sempat bingung antara memberi hormat atau ikut tersenyum bodoh melihatnya. Mobil hitam Rafka berhenti mulus di depan lobby kantor. Lelaki itu baru saja turun, membukakan pintu seperti biasa, tapi kali ini… sentuhannya lebih lama, lebih manja, dan terlalu mencurigakan untuk pasangan yang katanya sudah menikah beberapa waktu lalu. “Sayang, tasnya.” “Bisa sendiri,” gumam Anggita. “Tapi aku mau pegangin,” jawab Rafka santai sambil sudah lebih dulu mencomot tas kerja istrinya. Bukan cuma pegawai yang melirik—bahkan tanaman lobby pun ikut merunduk

