Rumah besar keluarga Wijaya sore itu hangat dan tenang. Ada suara burung dari halaman belakang, aroma teh dari dapur, dan mama Rafka baru selesai watering tanaman. Sampai pagar terbuka dan Angelia muncul. Dengan gaun pastel, rambut rapi, langkah penuh percaya diri. Dia bahkan tersenyum manis saat membunyikan bel. DING DONG. Mama Rafka keluar duluan. Menatap Angelia dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ketika sadar siapa tamunya, senyum mama langsung berubah jadi… manaaa? Mana sopan santunmu, Nak? “Angelia?” Nada mama antara sopan dan kebingungan kenapa tiba-tiba bisa muncul di sana. “Hai… Tante… Halo, Om.” Angelia menangkupkan tangan, membuat wajah paling manis sejagat. “Aku mau bicara soal Mas Rafka.” Papa Rafka muncul dari dalam rumah, masih pegang koran. “Oh… Angelia.” Nada be

