Bab 64 LDM

1110 Words

Malam pertama tanpa Rafka terasa aneh. Rumah yang biasanya penuh tawa dan aroma masakan favoritnya kini hening. Anggita duduk di sofa, selimut melingkari tubuhnya, sambil menatap langit-langit ruang tamu. Nyeri haid yang tersisa membuatnya sedikit lemas, tapi yang paling terasa adalah kekosongan di sisi tempat biasanya Rafka duduk, selalu ada untuknya. Imelda, yang sudah menyiapkan kamar tidur tamu untuk Anggita—walau sebenarnya Anggita tetap ingin tidur di kamar utama—datang membawa secangkir teh hangat dengan aroma jahe yang menenangkan. “Kamu nggak usah diem aja, Sayang. Minum ini, hangatin tubuh, nanti tidur juga lebih nyenyak,” kata Imelda lembut, menepuk punggung Anggita. Anggita tersenyum lemah, menerima cangkir itu. “Makasih, Ma… aku cuma merasa aneh aja. Rasanya… sepi tanpa Raf

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD