Pagi itu, Anggita membuka mata dengan rasa sepi yang aneh. Tidak ada aroma roti panggang atau jus rumput hijau favorit Rafka yang biasanya memenuhi dapur. Tidak ada tangan besar yang menepuk punggungnya sambil menggodanya untuk bangun. Sebaliknya, yang ada hanya cahaya pagi yang menembus tirai, bunyi jam weker, dan Imelda yang sudah sibuk menyiapkan sarapan. Anggita tahu kalau ini adalah hari seperti kemarin, hari di mana suaminya tidak di sisinya karena harus menjalankan tugas. Kadang, Anggita berharap ini hanya sebuah mimpi tetapi dia tidak mau terlihat rapuh. Ini cuma sementara dan tidak ada alasan baginya menjadi galau karena ini. Meski hormon haid tentu membuatnya bertindak sebaliknya. “Selamat pagi, Anggita Sayang,” sapa Imelda manis sambil menata piring dan gelas di meja makan. “K

