Hari itu, matahari pagi menembus jendela kamar Anggita dengan lembut, tapi hati gadis itu terasa sedikit berat. Ini hari terakhir LDM—tiga hari tanpa Rafka sudah membuatnya rindu setengah mati. Imelda sudah menyiapkan teh jahe hangat dan roti panggang tipis, tapi aroma yang biasa menemani pagi mereka terasa asing tanpa sentuhan tangan Rafka yang biasanya selalu ikut membuat sarapan lebih hidup. “Selamat pagi, Gita Sayang!” sapa Imelda sambil tersenyum hangat. “Sarapan sudah siap. Semoga Rafka cepat balik, ya.” Anggita mengangguk, tersenyum lemah, dan duduk di meja makan. “Iya, Ma… Rasanya sepi banget kalau tanpa Rafka. Nggak ada yang tiba-tiba nongol dan ngejailin aku.” Imelda menepuk tangannya. “Iya, Rafka memang suka jail sama wanita yang dicintainya. Biar nggak terlalu sepi, kamu mem

