Iklan itu tayang tepat pukul delapan malam. Bukan jam emas berita atau sela acara besar yang ditunggu-tunggu orang. Hanya jeda singkat di antara tayangan keluarga—tiga puluh detik yang biasanya dilewati begitu saja, atau ditinggal ke dapur untuk mengambil air minum. Namun malam itu, tiga puluh detik itu cukup untuk menggeser sesuatu. Bukan hanya di layar televisi, juga di dalam hidup mereka. Rafka duduk di sofa ruang keluarga, tubuhnya sedikit condong ke depan. Satu tangannya menopang botol s**u yang menempel di bibir Elio, tangan lainnya menggulir ponsel tanpa benar-benar membaca apa pun. Matanya beberapa kali naik ke layar TV, lalu turun lagi, seolah ia ingin bersikap santai—padahal dadanya sejak tadi terasa penuh oleh kegelisahan dan rasa berdebar melebihi sang calon artis, Elio. Ang

