Hari syuting itu dimulai dengan satu kesalahan fatal yaitu Rafka bangun terlalu pagi. Jam lima subuh, ketika matahari bahkan belum sempat mengintip dari balik gedung-gedung Jakarta Selatan, Rafka sudah berdiri di dapur dengan wajah super fokus—wajah yang biasanya ia pakai saat memimpin rapat direksi atau memutuskan angka miliaran. Bedanya, pagi ini ia mengenakan kaus rumah dan celana training, rambutnya sedikit berantakan, tapi sorot matanya sama tajamnya. Di tangannya ada botol minum bayi. Di hadapannya—blender. “Ini brokoli… apel… dikit wortel…” gumamnya sambil memasukkan bahan satu per satu. Ia berhenti, mencium aromanya, lalu mengernyit. “Ah jangan. Nanti bau.” Dari kamar, Anggita terbangun oleh suara brrrr blender yang sama sekali tidak manusiawi untuk jam segitu. Ia membuka mata

