Pagi itu, rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Bukan karena suara tamu atau kendaraan yang lalu-lalang, melainkan karena satu makhluk kecil bernama Elio Darma Atara yang baru saja menemukan kesenangan barunya yaitu mengoceh sambil menatap lampu gantung. Anggita duduk di sofa, rambutnya masih terikat asal, mengenakan kaus longgar dan celana rumah. Bekas operasi sesar sudah tak terlalu nyeri, tapi tubuhnya masih belajar berdamai dengan ritme baru sebagai ibu. Tangannya mengelus d**a Elio yang terbaring di bantal menyusui. “Kenapa sih kamu suka banget sama lampu?” gumam Anggita, setengah heran, setengah gemas. Elio menjawab dengan suara “aah—uh—eh” yang sama sekali tak bisa diterjemahkan, tapi cukup untuk membuat Anggita tersenyum. Dari arah dapur, Rafka muncul dengan segelas jus hijau

