Matahari baru lewat sepuluh pagi ketika bel rumah berbunyi. Rafka yang sedang merapikan meja ruang tamu langsung menoleh. “Kayaknya itu dia…” gumamnya, sedikit kaku. Anggita berdiri di dekat tangga, menyilangkan tangan sambil tersenyum tipis. “Buka aja. Kita kan tuan rumah yang baik.” Rafka menghela napas kecil, lalu menuju pintu. Muncul lah… Angelia. Wanita itu berdiri anggun dengan dress pastel selutut, rambut panjang bergelombang, lipstik merah muda, dan senyum yang terlalu manis untuk ukuran tamu yang baru datang. “Rafkaaa!” Serunya cerah, langsung memeluknya sebelum Rafka sempat mengulurkan tangan. Pelukan itu… terlalu lama. Terlalu menempel dan terlalu punya aura “ngincer-suami-orang”. Rafka buru-buru melepasnya. “Eh, iya. Halo, Angelia. Silakan masuk!” Begitu masuk, Angelia

