Kehamilan Anggita memasuki minggu kedelapan. Di titik inilah, alam semesta—atau mungkin hormon—memutuskan bahwa kewarasan Rafka terlalu utuh untuk dibiarkan begitu saja. Bukan dengan mual berlebihan. Bukan dengan drama medis. Bukan dengan hasil lab yang bikin panik. Melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi seorang Virgo: perubahan kepribadian istrinya. Pagi itu berjalan normal. Terlalu normal, bahkan. Rafka sudah bangun sejak jam lima. Rutinitasnya rapi: air hangat untuk Anggita, vitamin disiapkan di meja, sarapan sederhana tapi bergizi. Ia mengenakan kemeja kerja, berdiri di depan cermin, memasang jam tangan dengan gerakan presisi yang nyaris ritual. Di belakangnya, Anggita muncul tanpa suara. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya datar. Terlalu datar. “My Husband.”

