Sejak kunjungan ke rumah Imelda, Rafka berubah. Bukan berubah drastis—ia tetap Virgo yang sama, masih menyusun jadwal, masih menghitung jam tidur, masih membaca label gizi sebelum membeli apa pun. Tapi ada satu hal yang ia lepaskan pelan-pelan: keinginannya untuk selalu benar. Hal itu… mengejutkan Anggita. Pagi itu, Anggita bangun dengan perasaan aneh. Bukan mual atau pusing, hanya dadanya terasa penuh, seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tidak tahu bentuknya apa. Rafka sedang di dapur, bersenandung pelan sambil memotong apel. “Raf,” panggil Anggita dari sofa. “Iya?” “Aku sedih.” Rafka berhenti memotong. Biasanya, ia akan bertanya kenapa. Biasanya, ia akan mencari sebab. Hari ini, tidak. Ia hanya mencuci tangan, mendekat, lalu duduk di lantai tepat di depan Anggita. “Sedihn

