USG kedua dijadwalkan pagi. Delapan minggu kehamilan. Secara medis, semuanya seharusnya sudah lebih jelas. Tapi bagi Rafka, angka itu tidak membawa ketenangan—justru menambah lapisan kecemasan yang tak bisa ia ucapkan. Sejak kejadian pingsan itu, Rafka berubah. Tidak drastis dan tidak mencolok. Namun Anggita bisa merasakannya dari hal-hal kecil: cara Rafka selalu terbangun setiap kali ia bergerak di malam hari, cara matanya langsung mencari wajah Anggita sebelum membuka ponsel di pagi hari, cara tangannya refleks menyentuh pergelangan Anggita—memastikan hangat, memastikan hidup, kadang membuat Anggita merasa bersalah. Namun, dia jadi semakin sadar bahwa Rafka sangat takut kehilangan dirinya. Pagi itu, Anggita memperhatikan Rafka dari balik cermin kamar. Suaminya mengenakan kemeja biru mu

