Jam menunjukkan pukul 02.00 pagi ketika mobil Rafka meluncur keluar dari kompleks rumah Anggita. Anggita duduk di kursi penumpang, setengah mengantuk, setengah panik. “Rafka… aku nggak bisa lama-lama di rumah Mama,” gumamnya pelan. Rafka melempar senyum tipis di belakang stir. “Aku ngerti. Aku juga nggak ingin kamu stres, tapi… kamu yakin nggak mau tidur sebentar?” Anggita menggeleng. “Nggak, aku harus siapin presentasi pagi ini. Aku cuma mau sampai rumah, shower, terus langsung tidur sebentar.” Rafka cuma mengangguk, nada suaranya tenang. “Oke, my wife. Kita balik.” Sepanjang perjalanan, Anggita diam, menatap lampu kota yang berkedip di luar jendela. Rafka diam juga, tapi dari sorot matanya terlihat seperti sedang menahan sesuatu… kesenangan melihat istrinya terlihat lelah tapi tan

