Hari itu, Anggita benar-benar sial. Macet, meeting molor, dan ponselnya lowbat justru di hari paling penting: makan malam keluarga pertamanya sejak menikah. Sialnya lagi, Rafka udah berangkat duluan. Katanya, “Aku nyusul aja ke rumah Mama kamu, biar bisa bantu-bantu.” Bantu-bantu. Dalam kamus Anggita, artinya mungkin “datang tepat waktu dan duduk manis”. Akan tetapi ternyata… kamus Rafka beda jauh. Begitu mobilnya berhenti di depan rumah besar bergaya kolonial milik keluarganya, Anggita langsung turun dengan langkah tergesa. Tumit sepatunya mengetuk marmer teras dengan suara yang cukup mengumumkan: CEO datang dan mood-nya berantakan. Namun begitu pintu terbuka, yang terlihat bukan pemandangan keluarga duduk di ruang tamu menunggu menantunya melainkan Rafka, memakai celemek bunga-bunga w

