Malam turun perlahan di sekitar ryokan tempat mereka menginap—seolah dunia sengaja memperlambat ritmenya hanya untuk memberi ruang pada dua hati yang sedang jatuh cinta untuk kedua kalinya dalam pernikahan yang masih muda. Lampu-lampu kecil berwarna keemasan menyala sepanjang koridor kayu, memantulkan cahaya temaram yang bergoyang pelan tiap kali angin memasuki celah-celah dinding dari taman bambu. Aroma tatami bercampur serenyawan suara gemericik dari kolam luar membuat suasana malam itu terasa… intim. “Raf, kamu yakin mau makan di restoran hotel? Ini mahal banget,” gumam Anggita pelan. Tangannya menyingkap rambut yang jatuh di pipi, lalu ia menuruni anak tangga. Rafka berdiri satu anak tangga di bawahnya, menengadah ke arah istrinya seperti sedang menatap bintang jatuh. “Gita, kamu mau

