Matahari pagi Jepang masuk lewat tirai shoji yang semi-transparan, memantulkan cahaya hangat ke seluruh kamar mereka. Awan tipis di luar jendela membuat cahayanya lembut dan keemasan—persis kayak filter aesthetic yang bikin siapa pun keliatan glowing. Anggita membuka mata lebih dulu. Hal pertama yang dia lihat adalah suaminya, Rafka. Tertidur telentang, rambut sedikit berantakan, bibirnya sedikit terbuka, dan yang paling parah—lengan kanan pria itu nempel di pinggangnya dengan gaya posesif tapi santai seakan tubuh Anggita adalah bantal kesayangannya. Cuma satu pikiran Gita pagi itu: “Astaga suamiku cakep banget kalau tidur begini, ngeselin.” Dia pelan-pelan menggeser badan—tapi Rafka mendekap makin erat. “Mau ke mana?” gumam Rafka parau banget, suara baritonnya masih setengah tidur. “B

