Hari kedua di Jepang dimulai dengan langit yang jernih seolah memang disiapkan khusus untuk liburan pasangan yang lagi mabuk cinta itu. Angin dingin mengusap rambut Anggita ketika ia dan Rafka keluar dari lobby hotel. Suasana kota sudah ramai, penuh turis dengan kamera besar, aroma street food, dan suara lalu-lalang khas Jepang yang terasa hangat meski udaranya dingin. Rafka langsung meraih tangan Anggita, menggenggamnya seperti takut istrinya hilang di tengah kerumunan. Senyum terus terbit di wajah tampannya. Kebahagiaan itu terus terukir karena cinta yang sudah didambakan olehnya sejak SMA, kini menjadi nyata. “Pegangan yang bener,” katanya pelan. “Kamu kecil. Bisa hilang.” “Aku cuma beda kamu sepuluh centi, bukan tiga puluh senti, Mister.” Meski protes, Anggita menggenggam balik, dan

