Laura menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran bercabang. Matahari di luaran sana kini mengintip malu melalui sela-sela jendela kamarnya. Cuaca cerah dengan desau angin yang berembus menambah semarak keindahan pagi hari yang seharusnya membuat siapapun senang untuk memulai hari.
Tapi tidak dengannya.
Laura menghembuskan napas panjang. Ia mengerjap beberapa kali. Hari ini ia harus ke kampus untuk memberikan materi. Biasanya Laura selalu senang setiap kali ia memiliki jadwal di kampus. Ia suka mengajar. Laura menelengkan kepalanya ke samping, Sedikit menyipitkan mata saat sinar matahari membuatnya silau.
Dengan malas-masalan Laura menyibak selimutnya dan berjalan ke kamar mandi. Hanya butuh waktu 30 menit untuk mandi dan berpakaian. Laura membuat omlet, sembari menunggu roti panggangnya siap.
Saat tangannya bergerak meraih kunci mobil, ponsel yang ada di dalam tasnya bergetar. Laura mengangkat dan menempelkannya di antara telinga dan bahunya.
“Ya?” tanyanya saat mencoba mengunci rumahnya.
“Laura, ini aku.”
Kunci yang ada di tangan menggantung di udara. Laura mengerjap, tidak mampu bersuara.
“Aku tahu ini masih mengejutkan, tapi apa kau keberatan makan malam dengan kami?”
Laura memejamkan mata. Ini sudah yang ketiga kalinya ia menolak undangan mereka. Ia masih butuh waktu. Semua yang terjadi masih seperti mimpi untuknya.
“Kumohon, Laura, hanya makan malam sederhana, kau dan kami?”
Nada penuh permohonan itu akhirnya meruntuhkan tekadnya untuk menolak. Lagipula sampai kapan ia bisa menghindar? Laura menarik napas panjang.
“Baiklah aku bersedia datang.”
Terdengar desah napas penuh kelegaan. “Terima kasih. Apa kau lebih nyaman makan di luar atau kau lebih suka makan di rumah?”
“Di luar,” ucapnya cepat. Ia tidak akan merasa nyaman jika makan malam di rumah itu.
“Baiklah, kalau begitu aku akan mengirimkan seseorang untuk mengantarkan gaun dan—“
“Aku bisa membeli gaunku sendiri,” potongnya, tersinggung.
“Maaf, maaf, tidak bermaksud untuk membuatmu tersinggung hanya saja… aku ingin sekali memberimu gaun, tapi jika itu membuatmu tidak nyaman aku tidak akan melakukannya.”
Perasaan bersalah dengan cepat menghantamnya. Laura mengumpat tanpa suara. Seharusnya ia bisa berpikir lebih jernih bukannya langsung berprasangka buruk.
“Mungkin lain kali,” tambahnya, tidak ingin membuat si penelepon semakin sedih. Laura selalu mengutuk kelemahan dirinya yang mudah luluh dan lemah.
“Aku menantikannya, Laura. Aku akan mengirimimu detilnya, oke?
Laura menahan diri agar tidak mengatakan sesuatu yang menjengkelkan. Sepertinya hanya mereka yang melakukan makan malam tapi seolah sedang melakukan jamuan mewah nan formal. Hanya membayangkannya saja sudah membuat Laura ingin mengerang.
Hanya makan malam. Makan dan pulang. Ia hanya perlu melakukan itu. Laura mengingatkan dirinya sendiri.
Laura menyalakan mobilnya begitu sambungan terputus, tidak ingin memberikan dirinya kesempatan untuk berubah pikiran. Bagaimanapun, hal itu pasti akan terjadi, menundanya tidak akan membuat semuanya menjadi lebih baik.
Satu jam kemudian Laura sampai di kampus. Ia memperbaiki kacamatanya sebelum keluar dari mobil. Meski dalam hati merasa waswas Laura berusaha tidak menunjukkannya. Ia melangkah dengan penuh percaya diri seperti yang selalu ia lakukan.
“Rey, tunggu!”
Nama itu berhasil membuatnya berhenti sesaat, tapi Laura pulih dengan cepat. Ia kembali melanjutkan langkah, tanpa sadar mencengkeram tasnya dengan sangat erat sampai buku-buku tangannya memutih.
“Kau yakin mau mencobanya?”
“Kenapa tidak? Kurasa setiap orang berhak mendapat kesempatan, begitupun denganmu.”
Kenapa mereka harus berbicara tepat di depannya? Laura ingin mengalihkan pandangan, tapi takut tindakan itu justru akan menimbulkan kecurigaan. Mungkin sebaiknya ia mengambil arah lain?
Jangan bodoh Laura, itu justru memperburuk situasi!
Laura menegakkan bahunya, berusaha bersikap setenang mungkin meski di dalam ia merasakan gemuruh yang membuat dadanya panas.
“Kalau begitu nanti kita ketemu setelah kelasmu selesai?”
Rey mengangguk. “Tidak masalah. Aku akan menghubungimu begitu kelasku selesai.”
Wanita berambut sebahu itu tersenyum sumringah. Ia berjinjit, memeluk leher Rey erat.
“Terima kasih Rey, aku menantikan pertemuan kita berikutnya.”
Laura menggertakkan rahangnya. Apa Rey sengaja melakukan itu untuk memancingnya? Untuk membuatnya cemburu? Laura mengambil langkah lebar-lebar, ingin secepatnya pergi dari pemandangan menjengkelkan itu. Sayangnya, baru beberapa langkah Laura terpeleset akibat tumit sepatunya yang patah.
“Aucch!” rintihnya kesakitan. Laura meringis, menatap kakinya yang terkilir.
“Kau baik-baik saja?”
Laura menyingkirkan tangan yang menyentuh pergelangan kakinya dengan ganas. “Aku baik-baik saja.”
“Sepertinya kakimu terkilir. Kau bisa berdiri?”
Laura mengabaikannya. Ia mencoba berdiri, meski rasa sakit di kakinya membuatnya ingin menjerit, Laura berusaha keras tidak menunjukkannya. Ia tidak akan menangis. Tidak akan.
“Laura… wajahmu pucat.”
“Aku baik-baik saja,” balasnya ketus. “Dan tolong panggil aku dengan hormat, aku dosenmu Rey.”
Rey mengepalkan tangannya. “Jangan keras kepala, kakimu terkilir dan kau jelas kesakitan.”
Laura mendelik. “Dan apa pedulimu kalau kakiku patah dan terkilir? Itu bukan urusanmu! Urus saja kekasihmu itu.”
“Laura…”
Laura melepas kedua sepatu heelsnya. Lebih baik bertelanjang kaki daripada memakai sepatu sebelah.
“Pergi, Rey. Orang-orang akan melihat,” ucapnya tanpa menoleh. Laura sedang memijit-mijit pergelangan kakinya saat sepasang tangan hangat dan kokoh menyentuh pergelangan kakinya.
“Kau pikir apa yang kau lakukan?”
“Aku tidak tahu egomu bisa setinggi itu.”
Rey melepas kedua sepatunya kemudian memasangkannya pada Laura. Semua dilakukan pria itu tanpa mengucap sepatah katapun. Laura membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Kemarahan yang memancar dari sorot mata pria itu membuat nyalinya sedikit menciut.
“Selesai.” Rey mendongak, melepaskan tangannya dari kaki Laura.
Laura buru-buru mengambil jarak. “Terima kasih, aku akan mengembalikan sepatumu nanti.”
Rey berdiri, menyampirkan ranselnya di bahu. “Tidak perlu, orang-orang akan mulai bergosip, Ibu Laura pasti tidak mau itu sampai terjadi ‘kan?”
“Rey, aku….”
“Tapi jika itu membebanimu, kau bisa membuang sepatu itu ke tong sampah. Mudah bukan? Saat sesuatu tidak lagi dibutuhkan yang harus kau lakukan hanyalah membuangnya ke tempat sampah.”
Laura mematung menatap kepergian Rey. Ia mengerjap saat merasakan bagian belakang matanya panas.
Kenapa semuanya menjadi semakin kacau dan berantakan?
***
“Ada apa? wajahmu terlihat pucat.”
Laura menarik kepalanya dari layar komputernya. Ia memaksa mengulas senyum sebelum menjawab, “Aku baik-baik saja, Sinta.”
“Kau yakin? Karena sepertinya kau terlihat ingin pingsan.”
Laura menunjuk komputernya yang menyala. “Hanya masalah laporan. Sebentar lagi ujian semester selain itu aku punya segunung aktifitas kuliah juga.”
Sinta mengangguk mengerti. “Bisa dipahami mengingat jadwalmu benar-benar mengerikan. Bagaimana kau bisa melewati hari dengan semua aktifitas melelahkan itu?”
Karena sejak kecil aku sudah harus bekerja keras, batin Laura.
“Pernah dengar ‘kekuatan tekad mengalahkan seluruh hambatan?”
Sinta tertawa. “Itu kutipan buku.”
Laura ikut tertawa. “Nah, apa yang salah mengutip dari buku? Ngomong-ngomong, aku harus segera pergi.”
Laura menatap jam tangannya. Jarum pendek menunjuk angka 4, itu berarti ia hanya punya waktu 3 jam sebelum janji temu makan malamnya.
Sinta melirik kakinya.
“Sepatu menarik.”
Laura ikut menatap kakinya yang masih berbalut sepatu pemberian Rey.
Tanpa sadar sudut mulutnya melengkung. “Ya, sepatu menarik,” ucapnya setuju.
“Aku harus bergegas, sampai jumpa.”
Laura menatap kesibukan di halaman kampus saat ia dalam perjalanan menuju tempat parkir. Beberapa membentuk kelompok sembari bercengkerama, sementara yang lain lebih suka menyendiri sembari membaca buku atau bahkan memainkan ponselnya.
Laura mengulum senyum, teringat masa-masa saat ia juga melakukan hal yang sama. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada sekelomok pria yang sedang bermain basket. Rey berada di natara salah satu pemain. Rambut pria itu basah karena keringat. Otot-otot lengannya yang menonjol menunjukkan kekuatan dibaliknya.
Laura tidak tahu berapa lama ia berdiri sampai Rey menangkap basah dirinya. Buru-buru Laura berbalik dan berjalan secepat yang sanggup ia lakukan. Tangannya gemetar ketika ia merogoh tasnya, mencari kunci mobil dengan cepat.
Begitu ia menemukan kunci dan membuka pintu mobil, ia langsung masuk, menutup pintu dengan hentakan keras. Tapi sebelum Laura sempat menghela napas lega, pintu di sebelahnya tiba-tiba terbuka, membuatnya terlonjak.
“Rey!”
Rey duduk di kursi penumpang dengan tenang seolah situasi ini normal dan biasa. Laura membeku sejenak, napasnya tertahan.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya setelah berhasil pulih dari syok yang menderanya.
Pria itu menatapnya dalam-dalam, lalu dengan nada rendah tapi jelas ia berkata,
“Kali ini kau tidak akan bisa melarikan diri, Laura.”
Melarikan diri?