***
Sofia memasuki mobil Lexus Papa dengan senyum yang tidak pernah memudar. Dia melambai pada Vivian lewat jendela. Lalu menyaksikan Papa dan Vivian yang berpelukan lama. Wajah-wajah disana menunjukkan kebahagiaan.
Dia melirik kearah Arsen, asisten papanya yang duduk di jok kemudi.
“Lo punya adik cewek?”
Arsen hanya mengangguk.
“Udah nikah?”
“Belum.” Pria itu menjawab datar.
“Seandainya dia nikah dan hamil, lo mau ngasih apa?” Entah kenapa dia bertanya seperti ini kepada Arsen. Yang jelas dia harus memberi hadiah atas kehamilan Vivian. Dia baru merasakan menjadi seorang kakak, jadi dia tidak tahu hadiah apa yang akan dia berikan kepada adiknya yang sedang hamil.
“Mungkin perlengkapan bayi.”
Gadis itu mengangguk-angguk mendengar usulan Arsen. “Hmm ... Kenapa gue nggak kepikiran?”
Pintu disampingnya terbuka. Papa masuk dan langsung duduk. Sisa-sisa air mata bahagia masih tersisa diwajahnya.
“Kamu dengar itu, Sof? Papa sebentar lagi punya cucu.”
Mendengus, Sofia memutar bola mata malas. “Papa udah ngomong gitu lebih dari sepuluh kali.”
“Cucu pertama Papa. Papa harap dia laki-laki.” Davis mendesah, kemudian menggeleng. “Perempuan mungkin lebih lucu. Papa lebih suka bayi perempuan, mereka lebih asyik diajak bermain.”
Sofia hanya menggeleng jengah mendengar kalimat tidak jelas Papanya itu. Seandainya dia tidak terbiasa dengan sifat papanya yang sebelas dua belas dengan Safira alias lebay, mungkin dia sudah melemparkan diri dari mobil saat ini juga.
***
Dengan malas, Sofia beranjak dari tidur siangnya. Dia menguap. Menghentakkan kaki kesal saat suara bel tidak mau berhenti berbunyi barang sedetik saja.
Siapa sih orang kurang ajar yang berani mengganggu tidur siangnya ini? Awas saja, akan langsung dia patahkan lehernya begitu membuka pintu.
Cklek!
Wajah memuakkan Galen terpampang dibalik sana. Kakaknya itu tersenyum tanpa dosa. Membuat Sofia secepat kilat melaksanakan niatnya. Melompat menerjang leher Galen yang siap dia patahkan.
“Aduh, duh, duh! Kenapa sih, lo?!” Galen menangkis dengan menahan kedua tangannya.
Sontak, Sofia berhenti. Membalik tubuh Galen agar dia bisa berhadapan dengan tas dengan kaca bening yang kini menggantung dipunggung sang kakak. Isinya membuat Sofia menjerit histeris.
“JAHEEEE!!!”
Kewalahan, Galen menurunkan tas yang terpampang hewan imut berbulu silver gelap itu didalamnya. Si Jahe, nama peliharaan Sofia, duduk anteng didalam tas dengan wajah masam.
“Mama kangen ....” Sofia memeluk peliharaannya itu dengan gemas. Rasanya sudah lama sekali sejak dia tidak memeluk Jahe seperti ini.
Galen mengernyit jijik. “Nih, bawa masuk sono! Gue lagi ada urusan.” Dia menyerahkan tas itu kepada Sofia untuk dibawa masuk.
Melihat kakaknya yang akan pergi, dia segera menahannya. “Mau kemana lo? Kakak, kan baru dateng dari Semarang.”
“Mau ketemu Yena. Niatnya mau langsung kesana tadi, tapi yakali gue bawa si Jahe. Cukup nanggung malu aja gue dipesawat.”
Sofia tersenyum geli saat membayangkan sang kakak duduk dipesawat sambil memangku tas berisi Jahe.
“Ape lo senyum-senyum? Mau ngetawain gue?!” Galen langsung sewot.
Dengan cepat Sofia menggeleng, “Nggak papa. Udah, pergi sono!”
Ternyata tidak butuh waktu lama untuk membuat Galen segera pergi dari apartemen sang papa.
Sofia masuk sambil menggendong Jahe. Bibirnya tidak berhenti bersenandung karena perasaannya yang bahagia.
Dia tidak tahu setan apa yang merasuki Galen sampai laki-laki itu mau membawa Jahe ke Jakarta hanya untuk menemaninya. Mungkin Galen punya firasat kalau dia akan tinggal lama disini. Ditambah, dia sudah begitu merindukan kucing peliharaannya yang sudah lama tidak dia temui. Kalau dipikir-pikir, si Galen perhatian juga.
Lupakan soal kakak sulungnya itu. Dia sepertinya harus membeli sereal untuk Jahe karena sekarang tidak ada bahan untuk dimakan sama sekali. Mumpung si kucing sudah bergelung nyaman diatas sofa, efek kecapekan karena naik pesawat, akhirnya Sofia memilih untuk ke Senci saja. Jaraknya hanya beberapa kilo dari apartemennya.
Dia segera berganti baju dan menyambar tas. Lalu turun kebawah untuk mencari taksi.
Tidak sampai satu jam dirinya sudah sampai di Mal Senayan. Berada di rak makanan kucing, dan dia segera mengambil beberapa kemasan sereal yang biasa dimakan Jahe dan satu kotak besar s**u bubuk.
Menuju ke kasir, Sofia berniat langsung pulang setelah ini. Mungkin saja si Jahe sudah bangun dan mengeong-ngeong minta makan. Dia berdiri dibelakang laki-laki bertopi hitam dan berkaus biru gelap berlengan panjang.
Punggungnya ... Kayak nggak asing.
Penasaran. Sofia melongokan lehernya. Mencoba mengintip laki-laki tinggi yang sibuk memainkan ponsel sambil mengantri itu.
Merasa diperhatikan, si cowok menoleh. Menangkap basah Sofia yang dari tadi mencoba mengintip wajahnya.
“Hai,” Sapanya ramah. Demi apapun, dia tidak menyangka akan bertemu Alvaro lagi. Disini.
Alvaro tersenyum manis. Membalas sapaannya sebelum maju untuk membayar. Pria itu hanya membeli satu minuman kaleng.
“Saya nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi,” katanya setelah melihat Sofia selesai membayar.
Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar Mal.
Atas kalimat Alvaro, Sofia mengangguk setuju. “Hm. Gue juga nggak nyangka bakal ketemu elo.”
“Mau jalan sebentar?” Alvaro menawarkan. Tawaran yang tidak mungkin bisa Sofia tolak tentu saja.
***